Kementerian BUMN Ungkap Beban PLN dan Pertamina saat Corona

  • Bagikan

Finroll – Jakarta, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memaparkan mayoritas industri pelat merah babak belur akibat pandemi virus corona. Salah satu sektor yang cukup terdampak adalah energi.

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dan PT Pertamina (Persero) menjadi contoh beberapa perusahaan yang terkena sentimen negatif karena penyebaran virus corona. Keuangan dua perusahaan itu pun rentan terganggu.

“Kalau yang di saya yang susah itu sektor energi. PLN ini karena industri pada tutup, jadi otomatis PLN kena,” ucap Budi dalam video conference, Rabu (24/6).

Kemudian, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dengan begitu, jumlah penjualan bahan bakar minyak (BBM) tak sebanyak sebelum-sebelumnya.

“Pertamina juga, ini karena orang tidak jalan-jalan jadi mempengaruhi pembelian bensin,” tutur Budi.

Lalu, industri manufaktur seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk juga ikut terdampak pandemi virus corona. Sebab, penjualan baja terganggu lantaran banyak industri yang babak belur di tengah penyebaran wabah corona.

“Saya berharap harusnya Krakatau Steel bisa melewati pandemi dengan selamat,” ucap Budi.

Di sisi lain, ada sejumlah BUMN yang justru untung di masa pandemi ini. Salah satunya adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau Telkom.

“Karena biasanya webinar di hotel, sekarang dilakukan secara online. Jadi industri membaik,” kata Budi.

Selain itu, beberapa BUMN di sektor kesehatan juga meraup untung karena corona. Pasalnya, jumlah kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan meningkat pesat.

“Kebutuhan obat dan alat kesehatan naik. Industri rumah sakit mendadak lebih sibuk,” jelas dia.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan pandemi virus corona memberikan dampak negatif terhadap bisnis 90 persen dari total BUMN yang sebanyak 107 perusahaan. Ia bilang hanya 10 persen BUMN yang mampu menjaga keuangan perusahaan di tengah penyebaran wabah tersebut.

“90 persen bisnis di BUMN terdampak akibat virus corona, hanya 10 persen (yang bertahan),” terang Erick.

Dengan situasi itu, Erick memproyeksi jumlah dividen yang bisa disetor BUMN dari buku keuangan tahun ini hanya seperempat atau 25 persen dari target yang sebesar Rp49 triliun. Artinya, total dividen yang disetorkan oleh BUMN hanya sebesar Rp12,25 triliun.

Sumber : CNN Indonesia

  • Bagikan
-->