Selasa, 13 November 2018

Dibuka Melemah, IHSG Berbalik Cepat Ke Zona Hijau


Dibuka melemah 0,39%, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan cepat berbalik ke zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, IHSG menguat 0,19% ke level 5.787,93.

Finroll.com – Sementara itu, bursa saham utama kawasan Asia berguguran: indeks Nikkei anjlok 3,11%, indeks Shanghai turun 0,51%, indeks Hang Seng anjlok 1,69%, indeks Strait Times anjlok 1,15%, dan indeks Kospi anjlok 1,66%.

Sell-off yang terjadi di Wall Street telah menjalar hingga ke Benua Kuning. Pada dini hari tadi, indeks Dow Jones amblas 2,32%, S&P 500 jatuh 1,95%, dan Nasdaq Composite ambrol 2,78%.

Salah satu penyebab ambruknya Wall Street adalah dolar AS yang kelewat perkasa. Pada penutupan perdagangan kemarin (12/11/2018), indeks dolar AS menguat 0,66% ke level 97,542, dimana ini merupakan titik tertinggi sejak pertengahan 2017 silam.

Dolar AS mendapatkan suntikan tenaga dari perkembangan mengenai Brexit yang tak positif, serta prospek kenaikan suku bunga acuan oleh the Federal Reserve pada bulan Desember.

Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak Fed Fund futures per 12 November 2018, kemungkinan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25bps pada pertemuan bulan depan adalah sebesar 75,8%.

Dolar AS yang kelewat perkasa akan menyulitkan perusahaan-perusahaan di Negeri Paman Sam yang banyak mengekspor keluar negeri, sehingga profitabilitasnya menjadi dikhawatirkan.

Lebih lanjut, perang dagang dengan China belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Pasca dialog tingkat tinggi antara AS dengan China terkait diplomasi dan pertahanan yang digelar menjelang akhir pekan lalu di Washington tak membuahkan hasil positif.

Dari dalam negeri, laju IHSG tertolong seiring dengan aksi beli pada 3 saham barang konsumsi. Berkapitalisasi pasar jumbo yakni PT HM Sampoerna Tbk/HMSP (+0,91%), PT Gudang Garam Tbk/GGRM (+0,73%), dan PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (+0.19%).

Investor memburu ketiga saham tersebut lantaran harganya sudah jatuh dalam terhitung sejak perdagangan hari Jumat (9/11/2018). Anjloknya harga ketiga saham terjadi seiring dengan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan mengubah metode penghitungan bobot saham-saham penghuni 2 indeks penting yakni LQ45 dan IDX30.

Mulai Februari 2019, BEI akan menggunakan metode free float adjusted index untuk menentukan bobot dari setiap saham penghuni indeks LQ45 dan IDX30, dari yang sebelumnya menggunakan metode capitalization-weighted index. Definisi yang digunakan BEI terkait dengan free float adalah total saham scriptless yang dimiliki oleh investor dengan kepemilikan kurang dari 5%.

Jababeka industrial Estate

HMSP, GGRM, dan UNVR merupakan 3 saham yang terimbas secara signifikan dari implementasi aturan ini nantinya. Saat ini, HMSP memiliki bobot sebesar 11,12% dalam indeks IDX30. Nantinya, bobot HMSP akan anjlok menjadi hanya 2,36%. Bobot dari GGRM akan turun menjadi 1,75%, dari yang sebelumnya 3,56%. Sementara itu, saat ini UNVR memiliki bobot sebesar 8,45% dalam indeks IDX30. Nantinya, bobot UNVR akan anjlok menjadi hanya 3,43%.

Khusus untuk saham HMSP dan UNVR, investor asing terpantau melakukan akumulasi atas kedua saham ini. Saham HMSP dibeli bersih investor asing senilai Rp 15,2 miliar, terbesar dibandingkan beli bersih atas saham-saham lainnya, sementara GGRM dibeli bersih senilai Rp 967,7 juta. (cnbc)

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT