Kamis, 25 Februari 2021

Buang Emas, Millenial Pilih Uang Krpto untuk Investasi


Team Analis finansial JP Morgan (bank terbesar di Amerika Serikat) pada minggu ini mengeluarkan catatan tentang Bitcoin dibanjiri oleh investor dari kalangan kaum milenial. Sedangkan, emas masih dibanjiri oleh kalangan investor yang lebih tua. Keduanya mengalami peningkatan harga di masa pandemi ini.

Memang tren investasi di kalangan generasi milenial Indonesia sedang meningkat, berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI mengungkapkan data bahwa jumlah investor dalam kategori usia 18 tahun-25 tahun meningkat hingga 120,6 persen antara tahun 2016 dan 2018. 

Tidak hanya memilih instrumen investasi tradisional seperti saham, obligasi, dan reksadana, generasi milenial juga mulai menginvestasikan dana dalam bentuk mata uang kripto (cryptocurrency). 

Sejak popularitasnya yang melambung pada tahun 2015, Bitcoin dikenal sebagai aset digital pertama yang menjadi pionir ekosistem cryptocurrency. Bitcoin adalah mata uang kripto yang tidak dikelola oleh bank atau agensi. Namun, semua transaksi Bitcoin tercatat dalam blockchain yang bersifat publik. Transaksi cryptocurrency diperjualbelikan dengan menggunakan akses ‘kunci’ yang bertindak selayaknya dompet.

Bagi generasi muda Indonesia yang ingin melakukan investasi di Bitcoin, perlu dicatat bahwa Bitcoin merupakan aset dengan kategori risiko tinggi (high risk). Pasar perdagangan cryptocurrency masih fluktuatif. 

Para investor yang tertarik untuk membeli cryptocurrency populer seperti Ethereum, Bitcoin, Litecoin, dapat melakukannya dalam satu tempat, dengan berbagai pilihan dari mata uang fiat seperti Euro, USD, dan Poundsterling. 

Bagian dari dorongan generasi muda untuk melihat ke arah kripto mungkin terkait dengan prediksi Sharma bahwa inflasi dapat terjadi paling cepat pada 2021 di Amerika Serikat.

Dia mengutip sejumlah langkah moneter dan fiskal yang telah diambil para pejabat untuk menangani dampak ekonomi dari pandemi.

fenomena itu juga terjadi di Indonesia. Investor bitcoin di Indodax umumnya diminati oleh investor yang masih muda atau dari kalangan milenial. Adapun pembelian bitcoin secara masif terjadi semenjak awal tahun 2020. Tidak hanya investor muda, bahkan, investor-investor tua di Indonesia juga tidak ingin ketinggalan dengan anak-anak milenial.

Faktanya, investor tua di Indonesia juga sudah mulai membeli bitcoin dan aset kripto untuk investasi di Indodax. “Di Indonesia, orang tua sudah mulai berminat mengoleksi bitcoin. Meski memang tidak sebanyak kalangan milenial. 

Banyak kalangan orang tua yang tidak ingin ketinggalan dengan anak muda dalam mengadopsi hal-hal yang baru,” jelasnya. Harga bitcoin tercatat menembus 11.300 dollar AS atau sekitar Rp 170 juta pada beberapa hari yang lalu. Itu berarti kenaikan lebih dari dua kali sejak awal tahun 2020.   

infimas Mulia

Sementara harga emas berada kisaran Rp 1 juta per gram. Oscar mengatakan, emas dan bitcoin memiliki sisi yang sama, di mana komoditas ini tidak mempan diterpa krisis global seperti wabah Covid-19. Sebab, yang mempengaruhi harga hanyalah supply dan demand atau pasokan dan permintaan. 

“Saat pandemi banyak orang yang beralih ke emas dan bitcoin. Ini membuat permintaannya meningkat. Sehingga harga keduanya juga meningkat,” terang Oscar. Dia mengatakan, masih belum terlambat jika ingin membeli bitcoin saat ini, meski harganya sudah tinggi. 

Ada beberapa faktor yang mendorong permintaan bitcoin, salah satunya adalah kebijakan di negara-negara maju yang memperlonggar aturan cryptocurrency sebagai langkah stimulus menghadapi krisis global. Misalnya, seperti Amerika Serikat yang sudah memperbolehkan bank dalam mengelola cryptocurrency. 

Eropa juga siap mengeluarkan kebijakan yang ramah terhadap aset kripto. Kebijakan tersebut akan mendorong daya beli cryptocurrency dan berujung pada peningkatan harga. “Inilah kenapa harga bitcoin juga akan meningkat setelah masa pandemi. Jadi, belum terlambat bagi yang ingin membeli bitcoin di masa sekarang,” ujar Oscar.

BACAAN TERKAIT