Rabu, 14 Agustus 2019

SKK Migas: APBN 2019, Target Lifting Migas Diperkirakan Tidak Akan Tercapai


Finroll.com — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan target lifting minyak dan gas seperti yang ditetapkan dalam APBN 2019 diperkirakan tidak akan tercapai.

Pasalnya batas kemampuan lifting minyak secara nasional hanya mencapai 755 ribu barel per hari (bph). Jumlah ini di bawah target APBN 2019 sebesar 775 ribu bph.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman, mengatakan pihaknya akan mendorong terus Kontraktor Kontrak Kerjasama ( KKKS ) untuk mencari sumber migas lain agar lifting dapat terus dikejar sehingga dapat mendekati target.

Meski diakuinya peluang itu cukup sulit dipenuhi. “Kalau lifting, tercapai sih tidak, 97 persen – 98 persen kami usahakan dari target tahun ini kalau minyak. Kita dorong kejar terus, korek di mana aja.

Seperti ExonMobil Banyu Urip masih bisa digenjot juga, lifting gas juga diproyeksi tidak akan mencapai target lantaran rendahnya serapan,” kata Fatar di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Sementara pada tahun ini lifting gas dipatok 7.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Salah satu faktor adalah batalnya penyerapan gas PT PLN (Persero) dari 17 kargo LNG (liquid natural gas) menjadi hanya enam kargo.

Meskipun pada akhirnya PLN berkomitmen akan menyerap lima kargo tambahan, SKK Migas sudah terlanjur memutuskan untuk melakukan penundaan produksi atau menurunkan produksi LNG sebanyak tiga kargo LNG.

Lebih lanjut Fatar, selain harga LNG di pasar internasional juga memberikan pengaruh karena jika dipaksakan dijual di pasar spot para produsen gas akan menelan kerugian.

“Kalau gas itu kan sudah saya sampaikan, satu karena curtailment drop kargo (11 kargo), harga LNG juga lagi drop juga kan di luar,” ungkap Fatar.

Masalah monetisasi gas menjadi salah satu fokus pembenahan SKK Migas. Integrasi antara produksi dan pengembangan lapangan akan dikejar sehingga komersialisasi gas bisa berjalan lebih optimal.

Jababeka industrial Estate

Selain itu, kontrak jual beli gas (Gas Sales Agreement/GSA) juga akan diperbaiki agar para konsumen gas bisa tetap menjaga komitmen penyerapan gasnya.

“Saya mau kejar Integrasi antara porduksi dan pengembangan, serta komersial harus jalan. GSA mana yang tidak jalan, persoalan dimana, kami identifikasi, Kalau tidak bisa diatasi, otomatis enggak bisa produksi.

Kalau gas sudah berproduksi tapi tidak ada yang mengambil kan menjadi soal, Kalau minyak sih barang ada, pasti akan ada yang ambil,” kata Fatar Yani.(red)

BACAAN TERKAIT