Senin, 8 Februari 2021

Inilah 12 BUMN Yang Segera Melantai di Bursa


Menteri BUMN Erick Thohir akan mengantarkan anak dan cucu usaha BUMN menawarkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di pasar modal Indonesia hingga 2023 mendatang. Jumlahnya, sekitar 8-12 perusahaan pelat merah.

Namun, ia belum mengungkapkan nama-nama perusahaan tersebut.

“Di pipeline saya tidak mau bilang angka fix-nya nanti dicari-cari, tapi ada 8-12 yang kami akan go public-kan,” katanya pada Pembukaan Perdagangan BSI di BEI pada Kamis (4/2).

Dalam aksi go public BUMN, Erick mengaku tidak mau sembarangan. Hanya saham perusahaan berfundamental bagus dan berkesinambungan saja yang akan ‘dijual’ ke publik.

Pasalnya, ia menyebut dari total 28 saham BUMN yang go public, 4 di antaranya masih terengah-engah dan perlu ‘dipoles’ lagi.

“Tapi bukan sekadar go public, kembali fundamental dan sustainability-nya ada. Saya tahu ada 28 perusahaan BUMN, ada 4 yang terengah-engah, itu yang akan kami perbaiki,” lanjutnya.

Terpisah, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo pernah menyampaikan bahwa anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau Telkom bernama PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) akan menggelar IPO. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari rencana perusahaan pelat merah dalam mencari pendanaan.

“Ke depan ada berbagai klaster yang IPO, strategic partner, dari PT Pertamina (Persero), Telkom, Mitratel IPO,” ujar pria yang akrab disapa Tiko dalam diskusi virtual HSBC Orchestrating The Next Move: Transforming Indonesia Into Asia’s Next Supply Chain Hub.

Namun, ia tidak menjelaskan rinci kapan tepatnya Mitratel akan melantai di bursa saham. Hal yang pasti, ia bilang BUMN kini cukup terbuka dengan berbagai skema pendanaan, mulai dari kerja sama dengan asing, swasta, dan IPO.

Sementara itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan terdapat 27 perusahaan sedang dalam proses evaluasi pencatatan saham di bursa per 4 Februari 2021.

CIMB NIAGA

“Bursa menyambut baik apabila terdapat filling dari perusahaan BUMN, anak usaha atau cucu masuk ke pipeline,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dalam keterangannya.

Mayoritas perusahaan yang sedang dalam proses evaluasi bergerak di sektor bahan dasar. Jumlahnya empat perusahaan.

Lalu, dua perusahaan di sektor industri, tiga perusahaan di sektor consumer non-cyclicals, enam perusahaan di sektor consumer cyclicals, tiga perusahaan di sektor properti dan real estate, serta tiga perusahaan di sektor teknologi.

Kemudian, dua perusahaan di sektor infrastruktur, satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik, satu perusahaan energi, dan dua perusahaan yang sektornya masih dalam proses evaluasi.

Namun, Nyoman tak merinci lebih lanjut apakah anak usaha BUMN masuk dalam 27 perusahaan yang sedang dievaluasi.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

BACAAN TERKAIT