Senin, 22 Maret 2021

Unicorn Indonesia Lebih Pilih IPO di AS Ketimbang Hong Kong


– Startup jumbo seperti Tokopedia, Traveloka, Gojek mengkaji IPO di bursa saham AS. Investor menilai, bursa Hong Kong berpotensi menyasar unicorn Indonesia karena besarnya pendanaan dari Tiongkok –

Startup jumbo Indonesia seperti Tokopedia, Traveloka, dan Gojek bersiap mencatatkan saham perdana alias IPO di dua bursa saham (dual listing). Selain Bursa Efek Indonesia (BEI), unicorn dan decacorn itu mengincar Amerika Serikat (AS).

Di satu sisi, bursa saham Hong Kong memiliki indeks Hang Seng Tech dengan 30 perusahaan teknologi di dalamnya seperti AliHealth milik Alibaba, Tencent, ZTE, Xiaomi hingga JD Health dari JD.Com. Zona waktunya juga hanya satu jam lebih cepat dari Jakarta.

Pada pertengahan tahun lalu, indeks Hang Seng bahkan mengubah beberapa kriteria mengenai dual listing dan struktur pemegang saham. Ini untuk menggaet raksasa teknologi, terutama dari Tiongkok. Meski begitu, startup jumbo Tanah Air lebih memilih bursa saham AS untuk dual listing.

Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani menilai, ini karena ada beberapa kebijakan bursa saham Hong Kong yang kurang mendukung masuknya startup Indonesia.

“Misalnya, dukungan terhadap class of shares yang berbeda. Perusahaan teknologi kadang memerlukan keputusan voting founders tetap dipertahankan walaupun secara jumlah saham minoritas,” kata Edward kepada Katadata.co.id, Rabu

Sedangkan bursa AS rerata sudah melengkapi kebijakan yang mendukung kondisi seperti itu. “Selain itu, dari jumlah traders, bursa AS lebih aktif dan besar,” ujar dia.

Apalagi, unicorn dan decacorn Tanah Air mengincar investasi jumbo lewat IPO. Ia mencontohkan Gojek dan Tokopedia, yang dikabarkan mengkaji merger dan berencana mencatatkan saham perdana.

“Bagi keduanya yang melakukan merger sebelum IPO, selain untuk menggabungkan valuasi masing-masing, juga agar pool investor besar bisa berpartisipasi,” katanya.

Gojek dan Tokopedia Merger

Sebelumnya, sumber Bloomberg mengatakan bahwa Gojek dan Tokopedia telah membahas berbagai skenario kemungkinan merger. Salah satunya, membentuk entitas gabungan yang memungkinkan keduanya mempertahankan merek masing-masing.

Keputusan itu juga akan mengacu pada rencana IPO entitas gabungan di bursa AS dan Indonesia. 

Jababeka industrial Estate

Salah satu skenario yang dikaji yakni menggabungkan kedua perusahaan sebelum mencatatkan saham perdana.

Skenario lainnya, Tokopedia akan IPO terlebih dahulu di bursa Indonesia. Lalu bergabung dengan Gojek sebelum mendaftarkan entitas gabungan di Negeri Paman Sam.

Pada awal 2020, Presiden Tokopedia Patrick Cao menjelaskan bahwa perusahaan tertarik IPO di AS karena likuiditasnya dinilai besar.

Selain itu, “ada (banyak) keahlian di bidang teknologi serta penelitian,” kata dia di sela-sela acara Nikkei Forum Innovative Asia dikutip dari Nikkei Asian Review, Januari 2020 (17/1/2020).

Unicorn lain yang ingin IPO di Negeri Paman Sam yakni Traveloka. IDN Financials melaporkan, startup penyedia layanan perjalanan alias online travel agent (OTA) ini melirik bursa di Negeri Paman Sam karena diminati banyak investor.

Pada awal 2020, Presiden Tokopedia Patrick Cao menjelaskan bahwa perusahaan tertarik IPO di AS karena likuiditasnya dinilai besar. Selain itu, “ada (banyak) keahlian di bidang teknologi serta penelitian,” kata dia di sela-sela acara Nikkei Forum Innovative Asia dikutip dari Nikkei Asian Review, Januari 2020 (17/1/2020). Unicorn lain yang ingin IPO di Negeri Paman Sam yakni Traveloka. IDN Financials melaporkan, startup penyedia layanan perjalanan alias online travel agent (OTA) ini melirik bursa di Negeri Paman Sam karena diminati banyak investor.

Sumber Berita : Katadata.co.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT