Minggu, 30 Desember 2018

2019 IHSG Diprediksi Capai 6.500 – 6.700


Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun depan diperkirakan tumbuh 5-9 persen. Pada perdagangan akhir 2018, IHSG ditutup di level 6.194 sehingga pada tahun depan diperkirakan mencapai level 6.500-6.700.

Senior Advisor CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, perkiraan tersebut berdasarkan sentimen-sentimen yang kemungkinan akan terjadi pada tahun depan. Pasalnya, sentimen-sentimen global yang terjadi tahun ini masih terus berlanjut ke tahun depan.

“Di tahun depan, dengan asumsi adanya pertumbuhan moderat 5-9 persen maka IHSG pun dimungkinkan akan mencapai level 6.500 hingga 6.700,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/12/2018).

Beberapa sentimen yang masih mengintai pada tahun depan seperti masih adanya potensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Pada pertemuan G20 kemarin keduanya hanya menunda untuk tidak saling mengenakan tarif impor sehingga potensi terjadinya perang dagang masih ada.

‘Gencatan senjata’ tersebut dilakukan karena industri dan manufaktur di kedua negara tersebut melemah sehingga berimbas pada melambatnya pertumbuhan ekonominya. Jika kondisi ini terus berulang, maka bukan tidak mungkin akan memengaruhi perkembangan ekonomi global termasuk Indonesia.

[yarpp]

“Tidak hanya itu, persepsi akan kekhawatiran melambatnya ekonomi global akan memengaruhi secara psikologis pelaku pasar yang pada akhirnya membuat aksi jual kerap terjadi,” ucapnya.

Kemudian, suku bunga AS (Fed Funds Rate/FFR) masih ada kemungkinan naik 2-3 kali di tahun depan yang dapat diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Jika suku bunga acuan naik terlalu tinggi justru berisiko menghambat laju ekonomi karena naiknya cost of borrowing pelaku usaha.

Kebijakan moneter AS yang terlalu ketat membuat Presiden Trump mengancam akan memecat Gubernur The Fed karena hal itu membuat pertumbuhan ekonomi AS melambat. “Di tahun 2019, akan menjadi penentuan apakah The Fed akan kembali menaikan suku bunganya sebanyak 2-3 kali atau masalah personal Presiden Trump dan Gubernur Powell yang lebih ditonjolkan,” kata dia.

Selain kondisi makroekonomi AS, kondisi Uni Eropa juga akan menjadi sorotan pasar karena jika nilai tukar euro melemah dapat membuat dolar AS menguat sehingga berimbas pada mata uang lainnya termasuk rupiah. Perlambatan ekonomi China juga menjadi sorotan mengingat China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Sementara sentimen dari dalam negeri seperti indikator utama makroekonomi terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca dagang, nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan laporan kinerja keuangan emiten pasar modal juga diperhatikan pasar.

Jababeka industrial Estate

Menurut dia, dengan adanya sentimen-sentimen tersebut, tidak dapat dipastikan sektor maupun saham mana saja yang akan mengalami kenaikan. Semuanya akan tergantung dari sentimen yang ada.

Jika pada tahun depan, pergerakan harga komoditas kembali meningkat maka pilihlah saham-saham komoditas. Jika nantinya penyaluran kredit masih bertumbuh di tengah kenaikan suku bunga acuan BI maka pilihlah saham-saham perbankan. Jika semasa pemilu membuat belanja iklan meningkat maka bisa dipertimbangkan saham-saham media.

“Begitu pun dengan sektor-sektor lainnya. Bisa saja dimungkinkan, sektor properti dan konstruksi yang di tahun 2018 mengalami penurunan kemudian memiliki momentum kenaikan di tahun 2019,” tuturnya. (Inews)

BACAAN TERKAIT