Bursa Asia Beranjak Melemah, Imbal Hasil Obligasi AS Alami Kenaikan Lagi

  • Bagikan
bursa asia beranjak melemah, imbal hasil obligasi as alami kenaikan lagi 606419ceb1d3e.jpeg
bursa asia beranjak melemah, imbal hasil obligasi as alami kenaikan lagi 606419ceb1d3e.jpeg

Oleh Gina Lee

Finroll.com – Bursa saham di Asia Pasifik mayoritas beranjak turun pada Rabu (31/03) petang dan akan mencatatkan kerugian bulanan pertama sejak Oktober 2018. Imbal hasil AS obligasi terus naik dan investor menunggu rincian lebih lanjut mengenai kebijakan stimulus AS berikutnya.

Shanghai Composite China melemah 0,55% ke 3.437,64 pukul 13.06 WIB dan Shenzhen Component juga melemah 1,01% di 13.747,72 menurut data Investing.com. Data yang dirilis sebelumnya merinci Indeks Manager Pembelian Manufaktur (PMI) untuk bulan Maret di level 51,9, mengungguli perkiraan yang disusun oleh Investing.com sebesar 51 dan pembacaan bulan Februari 50,6. PMI non manufaktur juga terpantau melampaui pembacaan Februari 51,4 dengan pembacaan 56,3 ada di bulan Maret.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 1,78% ke 5.963,46 pukul 11.30 WIB pada penutupan sesi I perdagangan hari ini.

PMI Caixin manufaktur dan jasa untuk sektor swasta akan dirilis pada minggu ini.

Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak turun 0,52% ke 28.423,00 pukul 13.09 WIB.

Nikkei 225 Jepang melemah 0,77% di 29.207,00. Bank-bank menyeret saham-saham di Jepang beranjak lebih rendah setelah Mitsubishi UFJ (NYSE:MUFG) Financial Group Inc. (T:8306) bergabung dengan Nomura Holdings Inc. (T:8604) dan Credit Suisse (SIX:CSGN) Group (NYSE:CS) masuk dalam kelompok bank yang terkena dampak dari kolapsnya Archegos Capital Management.

KOSPI di Korea Selatan turun 0,19% ke 3.064,25 pukul 13.12 WIB.

Di Australia, ASX 200 menguat 0,78% di 6.790,70. Para penduduk di negara bagian Queensland menunggu keputusan apakah pemerintah setempat akan mencabut kebijakan pembatasan yang berlangsung selama tiga hari dan telah diberlakukan di awal pekan sebelum liburan Paskah.

Namun, beberapa investor masih tetap optimis.

“Kami percaya bahwa reli pasar ekuitas dan rotasi saham siklus memiliki ruang untuk berjalan karena meningkatnya ekspektasi ekonomi membuat jalan menuju kenyataan melalui pertumbuhan pendapatan,” tulis Lauren Goodwin, ahli strategi portofolio di New York Life Investments dalam catatan.

Investor terus memantau kecepatan pemulihan ekonomi AS dari COVID-19, serta tanda-tanda inflasi, karena kekhawatiran bahwa imbal hasil obligasi yang memperbaharui keuntungan mereka dapat berdampak pada beberapa saham. Imbal hasil acuan Treasury 10-tahun naik saat sesi Asia dibuka tetapi turun dari level tertinggi 14-bulan di 1,77% yang disentuh selama sesi sebelumnya. Pukul 13.09 WIB, nilai imbal hasil obligasi tersebut kian naik 0,53% ke 1,735.

Presiden AS Joe Biden diharapkan akan memberikan rincian penjelasan tentang bagaimana ia berencana untuk mendanai rencana infrastruktur AS senilai $3 hingga $4 triliun.

Data ekonomi yang positif juga mendorong sentimen investor. {{cl-48||Conference Board CB Consumer Confidence Index}} hari Selasa naik ke 109,7 di bulan Maret, level tertinggi sejak awal COVID-19. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com memprediksi angka 96,9, sedangkan indeks berada di 90,4 pada bulan Februari.

Investor sekarang menunggu laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Maret, termasuk gaji pekerja non pertanian, yang akan keluar pada hari Jumat. Dengan Federal Reserve mengutip pasar tenaga kerja yang lesu untuk membenarkan sikap dovish lanjutannya pada suku bunga, kekhawatiran inflasi terus berlanjut bahkan ketika sikap tersebut telah meningkatkan prospek ekonomi, hal itu juga terus meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga akan meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global kemungkin di pekan depan.

Sumber : Investing.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->