Senin, 12 April 2021

Bursa Asia Mayoritas Bergerak Turun, Investor Tinjau Dampak Rekor Denda Alibaba


Saham-saham di Asia Pasifik mayoritas bergerak turun pada Senin (12/04) pagi dan investor terus mencerna implikasi dari rekor denda antitrust Alibaba Group Holding Ltd. (HK:9988).

Shanghai Composite China turun 0,81% ke 3.422,70 pukul 10.57 WIB dan Shenzhen Component anjlok 1,76% di 13.569,62 menurut data Investing.com.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beranjak melemah 0,93% ke 6.014,05 pukul 11.07 WIB.

China mengenakan denda senilai CNY18 miliar ($2,75 miliar) untuk Alibaba, yang merupakan sekitar 12% dari pendapatan bersih fiskal tahun 2020 Alibaba, pada hari Sabtu.

Namun, beberapa investor mengatakan keputusan itu sudah ada pada harga saham lantaran saham Alibaba di Hong Kong sempat menguat.

“Sejak IPO Ant dibatalkan dan undang-undang antitrust yang sedang berjalan, pasar berharap Alibaba akan membayar harga … Saya pikir itu bagus untuk harga saham sekarang karena berita telah disampaikan dan sudah jelas pada akhirnya,” direktur pelaksana Wealthy Securities Louis Tse mengatakan kepada Reuters.

Sementara itu, sejumlah besar data China akan dirilis sepanjang minggu. Ini dimulai dengan data perdagangan, termasuk ekspor, impor dan neraca perdagangan, pada hari Selasa dan data PDB kuartal pertama, produksi industri dan investasi aset tetap pada hari Jumat.

Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,02% di 28.385,00 pukul 11.01 WIB.

Nikkei 225 Jepang turun 0,545 di 29.607,00, KOSPI Korea Selatan naik 0,18% di 3.137,38 dan di Australia, ASX 200 turun 0,49% di 6.961,20.

Meskipun pemulihan ekonomi global dari COVID-19 terus meningkat, para pengambil kebijakan mengingatkan bahwa mereka perlu melihat tanda-tanda kemajuan lebih lanjut sebelum menarik langkah-langkah dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jababeka industrial Estate

Ekonomi AS berada pada “titik perubahan” lantaran indikasi pertumbuhan yang lebih kuat dan sektor perekrutan ke depan berkat peluncuran vaksin COVID-19 dan dukungan kebijakan yang kuat, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan dalam wawancara pada hari Minggu, di mana ia juga memperingatkan kebangkitan kembali COVID-19 tetap menjadi risiko utama bagi perekonomian.

Powell juga akan berbicara di acara Tanya Jawab yang dimoderatori oleh Economic Club of Washington yang berlangsung pada hari Rabu.

“The Fed akan lebih memperhatikan pasar tenaga kerja,” ekonom senior Oxford Economics Sian Fenner mengatakan kepada Bloomberg, tetapi menambahkan yang “pasti inflasi tidak berputar di luar kendali.”

Risiko inflasi juga tetap ada di benak investor karena Obligasi tenor 3, 10 dan 30 tahun akan menjadi sorotan pasar. Imbal hasil patokan 10 tahun bergerak turun 0,66% di 1,655 pukul 10.58 WIB pada hari Senin setelah rilis data indeks harga produsen AS yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya pada pekan lalu.

AS juga akan merilis data lanjutan sepanjang minggu. Ini dimulai dengan indeks harga konsumen pada hari Selasa, Beige Book Fed pada hari Rabu, dan {{ecl- 256||penjualan ritel}} serta data produksi industri pada hari Kamis.

Sumber : Investing.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT