Rabu, 21 April 2021

Bursa Asia Mayoritas Turun, Meningkatnya Kasus COVID-19 Ancam Pemulihan Ekonomi


Oleh Gina Lee

Finroll.com – Saham-saham di Asia Pasifik beranjak turun pada Rabu (21/04) pagi, mengikuti tren pelemahan saham-saham di AS di tengah meningkatnya kasus COVID-19 global dan membayangi pendapatan perusahaan yang solid baru-baru ini.

Nikkei 225 Jepang jatuh 1,70% di 28.604,50 pukul 11.21 WIB menurut data Investing.com. Tokyo dan Osaka dilaporkan akan meminta agar status keadaan darurat diumumkan di dua kota terbesar di negara itu.

KOSPI Korea Selatan anjlok 1,92% di 2.983,13 dan di Australia, ASX 200 melemah 1,01% di 6.946,60 pukul 11.23 WIB.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah 0,64% ke 5.999,67 pukul 11.30 WIB.

Indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 1,71% di 28.625,00 pukul 11.27 WIB.

Shanghai Composite China menguat 0,15% ke 3.478,06 dan Shenzhen Component naik 0,29% di 14.143,17.

Saham International Business Machines Corp. (NYSE:IBM) melonjak setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pendapatan terbesarnya dalam 11 kuartal di awal minggu. Namun, United Airlines Holdings Inc. (NASDAQ:UAL) melaporkan kerugian yang lebih besar dari perkiraan dan saham Netflix Inc. (NASDAQ:NFLX) juga jatuh pada perdagangan after hours setelah pertumbuhan pelanggannya di kuartal pertama tidak mencapai perkiraan rata-rata analis.

Saham global berada di bawah tekanan setelah naik ke rekor tertinggi usai meningkatnya kasus COVID-19 secara global memperkenalkan kemungkinan langkah-langkah pembatasan baru dan mengancam pemulihan ekonomi yang sudah rapuh. Jumlah kasus COVID-19 global melampaui angka 142,5 juta pada 21 April, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Jumlah serapan vaksin COVID-19 yang lebih lambat dari perkiraan dan kekhawatiran tentang efek sampingmua juga telah menghambat pemulihan ekonomi global setelah angka serapan positif baru-baru ini dilaporkan di AS, Inggris dan Eropa.

Jababeka industrial Estate

Badan kesehatan AS merekomendasikan untuk menghentikan penggunaan vaksin suntikan tunggal Johnson & Johnson (NYSE:JNJ) selama minggu sebelumnya karena adanya potensi efek samping sedang diselidiki. Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS akan mencapai keputusan mengenai vaksin pada hari Jumat, European Medicines Agency (EMA) mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan melanjutkan penggunaan suntikannya.

“Datanya sangat beragam: sisi positifnya kami memiliki peluncuran vaksin yang hebat yang sedang terjadi dan kemudian negatifnya adalah kami menghentikan vaksin J&J,” manajer portofolio Kayne Anderson Rudnick Julie Biel mengatakan kepada Bloomberg.

“Apakah itu akan membuat lebih banyak keraguan tentang vaksin? Seberapa besar hal itu akan memengaruhi kemampuan untuk membuka kembali dalam jangka panjang?” Akhir dari pandemi “akan menjadi lebih menarik, itu akan terjadi secara bertahap,” tambah Biel.

Sementara itu, Bank sentral Eropa (ECB) juga akan menyerahkan keputusan kebijakan pada hari Kamis.

Sumber : Investing.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT