Sabtu, 10 Juli 2021

Covid-19 Menggila, Standard Chartered Revisi Proyeksi Ekonomi RI 2021 jadi 4,1%


Standard Chartered (Bank) hari ini, Jumat (9/7/2021), menyampaikan laporan Global Focus – Economic Outlook untuk H2 2021 dalam acara tahunan Global Research Briefing (GRB) H2 2021 untuk Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Senior Economist Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra, menyampaikan, Standard Chartered memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,1% di 2021, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya di 4,5%, dan 4,8% di 2022 (sebelumnya 5,0%).

Pertumbuhan jangka pendek diantisipasi akan didukung oleh kebijakan pemerintah, permintaan eksternal yang kuat dan kepercayaan yang meningkat pada program vaksinasi. Bank mempertahankan perkiraan kurs Dolar AS-Rupiah akhir tahun 2021 di 14.600, dengan proyeksi bahwa Rupiah akan menguat dalam waktu dekat.

“Naiknya kembali jumlah kasus dan pengetatan kembali pembatasan mobilitas dapat memperlambat laju pemulihan, terutama untuk sektor yang terkena dampak langsung seperti pariwisata, transportasi dan akomodasi. Dukungan kebijakan moneter dan fiskal dari pemerintah kemungkinan akan dikurangi tahun depan, di tengah normalisasi kebijakan moneter global dan dorongan konsolidasi fiskal Indonesia,†kata Aldian. Baca Juga: Pemerintah Kena Kritik Karena Nafsu Mengejar Pertumbuhan Ekonomi: Terlalu Bermain-main dengan Nyawa

Senada dengan Aldian, Cluster CEO Indonesia & ASEAN Markets (Australia, Brunei & Filipina) Standard Chartered, Andrew Chia mengatakan, naiknya kembali kasus COVID-19 baru-baru ini di Indonesia dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, yang akan berdampak pada pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat umum.

“Standard Chartered secara aktif mendukung perjuangan melawan COVID-19 di Indonesia di berbagai bidang. Bulan lalu, kami berpartisipasi dalam penerbitan sukuk tiga tahap senilai 3 miliar Dolar AS oleh Republik Indonesia (ROI), yang mencakup sukuk hijau (green sukuk) 30 tahun pertama yang diterbitkan oleh ROI dan merupakan sukuk hijau dengan tenor terpanjang yang pernah diterbitkan secara global,” pungkasnya.

Selain menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, Standard Chartered juga menurunkan perkiraan inflasi rata-rata Indeks Harga Konsumen (IHK) 2021 untuk Indonesia menjadi 1,8% y/y dari 2,2% untuk memasukkan perhitungan inflasi yang rendah hingga saat ini, persediaan pangan yang memadai, dan permintaan yang relatif lemah. Baca Juga: Pulihkan Ekonomi, OJK: Kita Dihadapkan Lima Tantangan

Bank juga memperkirakan neraca perdagangan akan tetap surplus di semester kedua mengingat penguatan relatif dari pemulihan permintaan global dibandingkan dengan permintaan domestik.

Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 10 miliar Dolar AS dalam lima bulan pertama tahun 2021, yang hampir setengah dari surplus perdagangan tahun 2020; defisit Transaksi Berjalan (C/A) 2020 adalah 0,4% dari PDB.

Bank berpendapat bahwa reformasi struktural yang sedang berlangsung, yang bertujuan untuk meningkatkan sektor manufaktur dalam negeri dan kapasitas pemrosesan, akan mendukung ekspor.

CIMB NIAGA

Sumber : Investing.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT