Senin, 29 Maret 2021

Saham Nomura Anjlok, Anak Usaha di AS Berpotensi Merugi $2 M dari Transaksi


Finroll.com – Saham Nomura Holdings Inc (T:8604) di Jepang mencatatkan penurunan terbesar lebih dari satu dekade pada Senin (29/03). Pialang dan bank investasi terbesar di negara itu menandai kemungkinan menderita kerugian senilai $2 miliar di anak perusahaannya di AS dan memaksanya untuk menunda penerbitan obligasi senior senilai $3,25 miliar.

Saham Nomura di Tokyo anjlok parah sebesar 16,47% di 602,00 hingga pukul 13.00 WIB menurut data Investing.com karena para investor membanjiri saham bank tersebut dengan posisi jual.

Kerugian senilai $2 miliar, berasal dari transaksi dengan klien di AS, ungkap bank tersebut dalam pernyataan. Ia menambahkan jumlah kerugian itu, berdasarkan perkiraan harga pasar pada 26 Maret, dapat berubah tergantung pada pembatalan transaksi dan fluktuasi pasar.

Jatuhnya saham Nomura ini muncul setelah serangkaian perdagangan blok (block trades) di Amerika Serikat senilai $20 miliar selama akhir pekan. Perdagangan tersebut terkait dengan kantor keluarga mantan pedagang Tiger Management, Bill Hwang, Archegos Capital Management LLC. dan menyebabkan penurunan harga saham beberapa perusahaan. Karena Archegos adalah pelanggan utama dari pialang Nomura, beberapa investor mengindikasi bahwa kerugian bank kemungkinan terkait dengan perdagangan.

Bank juga sedang berusaha untuk meninjau potensi dampak kerusakan dari kerugian pada pendapatan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada 31 Maret, yang dijadwalkan rilis pada 27 April mendatang. Bank telah menyatakan keyakinannya untuk mempertahankan pendapatan tinggi hanya sebulan yang lalu, setelah membukukan kenaikan sebesar 23% per tahun untuk laba bersih periode April-Desember senilai JPY308,5 miliar ($2,81 miliar). Perusaaan juga melaporkan kinerja di kuartal III terbaiknya dalam 15 tahun. Bisnis bank di AS, termasuk perbankan investasi serta perdagangan ekuitas dan obligasi, meraih keuntungan baru-baru ini.

“Selama kerugian ini hanya terjadi satu kali, 1H FY3/22 harusnya menjadi waktu pemulihan, sehingga dampak pada prospek jangka panjang relatif terbatas,” prediksi analis Jefferies dalam catatan.

Sementara itu, pemerintah Jepang juga akan memantau situasi dengan hati-hati, kata sekretaris kabinet Katsunobu Kato pada hari Senin, menambahkan bahwa badan jasa keuangan juga akan berbagi informasi tentang masalah tersebut dengan bank sentral Jepang (BOJ).

Sumber : Investing.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT