Jumat, 27 Maret 2020

Pekerja informal merana karena virus corona


Finroll – Jakarta, Achmad Syarif hanya bisa pasrah meratapi nasib periuk nasinya. Maklum, setelah virus corona (covid-19) mewabah di dalam negeri, kerjaannya menjadi seret.

Arie, sapaan akrabnya, merupakan personal trainer yang biasa mencari nafkah melatih orang-orang di pusat kebugaran. Setelah virus corona mewabah, ia tak bisa lagi menjalankan pekerjaannya secara normal sehari-hari.

Kebijakan pemerintah untuk menutup beberapa bisnis, termasuk pusat kebugaran demi meminimalisir penyebaran wabah tersebut telah memberikan pukulan telah bagi pendapatan Arief sebagai personal trainer. Tidak tanggung-tanggung, karena kebijakan tersebut pendapatannya terjun bebas sampai dengan 60 persen.

“Sangat terpukul, terutama pendapatan saya mungkin sekitar 60 persen sudah turun. Karena gym (pusat kebugaran) tutup, otomatis pendapatan dari klien-klien saya itu hilang semua,” katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com Jumat (27/3).

Arief menjelaskan semenjak tempat kerjanya tutup, ia hanya menggantungkan penghasilannya pada klien-klien yang berminat untuk dilatihnya secara langsung di rumah. Akan tetapi, jumlah klien tersebut sangat sedikit dibandingkan jumlah yang biasa ditangani Arief pada kondisi normal.

“Sekarang saya latih home to home bagi yang minat. Tapi itu pun sedikit sekali, dulu saya bisa dapat 11 orang, termasuk kelas-kelas di gym. Kalau sekarang paling banyak 4 orang,” ungkap pria berumur 39 tahun itu.

Permasalahan Arief tak terhenti disitu. Arief menyebut dirinya kini merasa semakin was-was lantaran jumlah kliennya semakin berkurang. Ia mengatakan, beberapa kliennya memutuskan membatalkan sesi latihan di rumah karena semakin waspada terhadap ancaman virus corona.

“Udah gitu semakin lama juga klien turun, Kemarin saja hanya dua orang. Saya hanya bisa pasrah sekarang,” jelasnya.

Ia menyebut penghasilannya untuk dua kliennya saat ini hanya dapat menghasilkan Rp400 ribu per sesi latihan. Dengan penghasilan tersebut, Pria jangkung berkulit putih itu merasa bingung mencari cara untuk mencari tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarga serta membayar cicilan rumahnya yang masih berjalan.

“Pusing banget sekarang, saya udah enggak tahu bulan depan bagaimana caranya. Apalagi anak sudah mau kuliah.Cicilan rumah 14 tahun juga masih jalan,” jelasnya.

Jababeka industrial Estate

Segendang sepenarian dengan Arief, Annesyifa Khairunnisa juga mengalami nasib serupa. Anne yang merupakan seorang guru les di suatu lembaga kursus mengaku penghasilannya anjlok akibat virus corona.

Ia menyebut, penutupan sekolah-sekolah membuat beberapa lembaga kursus, termasuk tempatnya mengajar terpaksa menghentikan aktivitas selama virus corona mewabah di tanah Air.

“Selama virus corona ini saya sangat rugi, soalnya karena saya ini guru les gak tetap, jadi kalau tidak ada kelas, ya tidak ada yang masuk (pendapatan),” ungkapnya.

Annes sebenarnya tak mau menerima nasib. Ia berusaha mencari penghasilan tambahan dengan membuka tawaran les privat kepada beberapa murid-murid serta kerabatnya setelah aktivitas sekolah dihentikan.

Namun, ia mengaku tak ada satu pun murid yang berminat untuk mengambil les tersebut. “Saya sempat nawarin untuk les privat, tapi orang tua murid gak ada yang mau, karena takut corona juga,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ibu tiga anak itu kini hanya bergantung pada penghasilan suaminya yang merupakan seorang pegawai swasta untuk membayar kebutuhan, dan kontrakan tempat tinggal keluarganya.

Ia mengaku pesimis gaji suaminya yang sebesar Rp4 juta rupiah dapat memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya ke depan. Tak menyerah mencari pekerjaan, Anne akhirnya berencana untuk membantu suaminya dengan menjadi reseller dari toko baju online .

“Rencananya saya mau mencoba bantu jualan baju-baju online, jadi reseller,” tutur wanita berumur 36 tahun itu.

Anne berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah yang ia hadapi tersebut. Uluran tangan ia minta diberikan pemerintah dengan membantu para masyarakat yang terkena dampak besar dari virus corona, terutama pekerja informal seperti dirinya.

Ia merasa, kesejahteraan rakyat terutama seluruh pekerja menjadi tanggung jawab pemerintah di tengah wabah virus corona. “Kalau begini terus bisa kacau, mungkin makin banyak dari kami yang nganggur. Harapannya saya, pemerintah bisa bantu kami semua, untuk semakin cepat tangani virus corona, karena kondisi saat ini sangat sulit bagi kami,” pungkasnya.

 

Sumber : CNN Indonesia

BACAAN TERKAIT