Pengembangan Kendaraan Listrik, Indonesia Perlu Tiru India yang Fokus Penataan Industri Baterai

  • Bagikan

Finroll.com, JAKARTA- Pengembangan kendaraan listrik untuk mengejar target penurunan emisi karbon selalu terkendala infrastruktur baterai. Alasan itu membuat India fokus menata kebijakan terkait industri baterai yang menentukan populasi kendaraan listrik.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (1/7/2022), India berencana untuk merilis rincian akhir dari kebijakan pertukaran baterai nasional untuk kendaraan roda dua dan tiga bertenaga listrik. Kebijakan tersebut merupakan wujud keinginan pemerintah untuk menstandardisasi ukuran baterai agar kompatibel dengan semua kendaraan yang menggunakan stasiun pertukaran.

Rumusan kebijakan itupun ditarget rampung pada akhir bulan ini. Harapannya, dengan standardisasi baterai, maka secara teknis mengganti baterai bekas dengan yang baru dalam hitungan menit, sehingga berpotensi mempercepat dorongan India menuju elektrifikasi pasar kendaraan roda dua terbesar di dunia.

Hingga saat ini, India sama halnya dengan Indonesia, masih terkendala kurangnya stasiun pengisian daya yang merupakan rintangan utama untuk adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicles/EV). Kebijakan agresif itu didorong harapan India menggapai target mengurangi 1 miliar ton emisi karbon dioksida pada akhir dekade ini, serta nol karbon pada 2070.

Di India, pertukaran baterai terutama digunakan oleh skuter listrik dan becak yang banyak digunakan untuk moda pengiriman barang e-commerce. Pada 2030, sekitar 30 persen dari semua kendaraan yang dijual di India, merupakan kendaraan listrik, mayoritas adalah roda dua dan tiga, sedangkan EV roda empat sekitar 5 persen.

Dalam upaya meningkatkan serapan EV, pemerintah telah meningkatkan subsidi untuk pembelian kendaraan roda dua listrik dan meluncurkan tender pengadaan massal untuk roda tiga dan bus listrik. Proyek itu diperkirakan menelan anggaran hingga US$3,3 miliar.

Untuk memberikan ruang bagi inovasi dalam teknologi baterai, India tidak akan memaksakan penggunaan jenis sel yang sama. Namun, diharapkan baterai memiliki berat tidak lebih dari 10 kilogram (22 pon), sehingga tidak terlalu berat untuk digunakan siapapun, dan memiliki kapasitas minimal 1 kilowatt-jam. Kandungan baterai harus memiliki format sel silinder dan kimia terSumber lithium besi fosfat, dan kobalt mangan nikel.

Sebaliknya, beberapa pengembang produsen baterai dan pembuat skuter menolak standardisasi yang diusung pemerintah. Alasannya, para produsen khawatir terhadap teknologi baterai yang tidak “dedicated” karena akan menghambat inovasi, sebab perancangan baterai ini akan menentukan cara dan ongkos produksi kendaraan listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



Sumber / Bisnis.com
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->