Amazon Lirik Bank Digital RI

  • Bagikan
bank digital1
bank digital1

Desas-desus siapa bank mini yang akan menjadi partner raksasa e-commerce global, Amazon milik crazy rich Jeff Bezos, pelan-pelan terbuka kendati segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Amazon disebut-sebut tengah menjajaki kemitraan dengan pelaku pasar keuangan digital di Tanah Air, termasuk bank mini (bank dengan modal inti Rp 2-5 triliun, Bank BUKU II) untuk ekspansi membentuk ekosistem sendiri.

Terakhir, Amazon dikabarkan masuk ke PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) lewat Amazon Web Services (AWS), anak usaha Amazon.com. Amazon Web Services adalah layanan berbasis cloud computing (komputasi awan) yang di sediakan oleh Amazon sejak tahun 2002. Hal itu diungkapkan manajemen Bank Banten pada pertengahan Juli lalu.

Namun menurut Managing Partner IndoGen Capital, Chandra Firmanto, yang biasa mendapatkan informasi berkaitan dengan startup global, Amazon dan sejumlah investor global memang melirik pasar digital di Indonesia termasuk sektor layanan bank digital.

Hanya saja, nama-nama besar seperti Amazon pun diketahui tidak hanya menjajaki satu pihak, tapi juga berupaya mencari calon potensial lain yang bisa berpeluang bermitra.

“Ada Amazon, jadi semuanya di-approach [didekati], bayangkan kalau Anda jadi investor Amazon, gak mungkin Anda pergi cuma satu tempat [menjajaki mitra], mereka itu ga berfikir terlalu lama, decision making-nya cepat,” katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat pekan lalu (6/8).

“Banyak lagi [siap masuk], saya belum tahu, tapi gak cuma Amazon, yang jelas kalau dia [calon investor ini] pemain besar dunia, dia pasti ke Indonesia,” tegas Chandra yang berpengalaman menilai valuasi startup di Silicon Valley AS ini.

“Belum lagi ada Flipkart [aplikasi e-commerce] dari India, orang ga fikir Flipkart itu seperti apa, orang-orang melupakan itu, padahal kapasitasnya besar. Yang saya tau banyak yang deketin kita dari global,” kata Chandra yang juga mentor for Japan External Trade Organization and Korean Trade Association ini.

Terkait dengan bank-bank digital, berdasarkan catatan CNBC Indonesia, sejumlah bank mini memang dikejar deadline ketentuan penambahan modal yang diatur Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minimal Rp 2 triliun tahun ini dan tahun depan Rp 3 triliun jika tidak turun kelas.

Sebab itu manajemen bank-bank ini mulai berupaya meningkatkan modal, termasuk dari investor lama dan suntikan baru dari investor strategis. Bank-bank ini kemudian melancarkan aksi korporasi penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dan juga tanpa HMETD alias private placement untuk mencari suntikan investor baru.

Beberapa bank yang akan menggelar rights issue yakni bank milik pengusaha nasional Alim Markus, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,28 miliar saham baru.

Lalu ada PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) juga sedang melaksanakan penambahan modal melalui rights issue. Berikutnya ada PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang rights issue dengan dana sebanyak-banyaknya Rp 500 miliar.

Kemudian ada PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) juga akan rights issue sebanyak 4.665.700 saham, lalu PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana rights issue sebanyak-banyaknya 20 miliar saham.

Selanjutnya ada bank yang disokong peer to peer lending Kredivo, PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) yang akan melakukan penerbitan saham baru, berikutnya bank yang dicaplok startup fintech Tanah Air Akulaku (PT Akulaku Silvrr Indonesia) yakni PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga bersiap rights issue.

Beberapa bank tersebut juga mulai ancang-ancang masuk ke bank digital.

Sebelumnya manajemen Bank Banten sebetulnya sudah menyatakan bahwa sedang dalam proses mengembangkan layanan digital, pihaknya akan bekerjasama dengan AWS.

Direktur Utama BEKS, Agus Syabarrudin mengatakan, rencana kerja sama ini sebagai upaya yang dilakukan bank BPD ini untuk menyediakan layanan digital. Kerja sama ini juga sudah masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) Banten yang ditargetkan bisa terealisasi di tahun ini.

“RBB kita sudah memasukkan rencana digitalisasi, jadi harapan saya semua persiapannya sejalan dengan ketentuan yang ada, kami bisa segera launching, saat ini kami terus bergulir mempersiapkan infrastrukturnya,” kata Agus kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/7/2021).

Hanya saja, Agus belum merinci, berapa nilai investasi belanja modal yang dialokasikan untuk kerja sama ini, namun sudah dimasukkan dalam anggaran belanja modal informasi dan teknologi (IT) perseroan.

Dalam keterangan resmi 16 Juli lalu, Agus menyatakan rencana bekerjasama dengan AWS, dan akselerasi transformasi digital Bank Banten dilakukan sebagai implementasi manajemen dalam hal pembalikan kinerja (turnaround management) yang salah satunya melalui rekayasa ulang proses bisnis dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi.

“Bank Banten beradaptasi di masa pandemi Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang menginginkan produk dan jasa keuangan yang relevan, misalnya kebutuhan terhadap layanan digital semakin meningkat,” katanya.

Adapun, pihak AWS, dilansir Detikfinance, menyatakan bahwa disrupsi teknologi di abad ke-21 telah membuat konsumen menginginkan transaksi keuangan yang dapat diakses dengan mudah, transparan terhadap status transaksi. Namun tetap harus aman dari ancaman penipuan dan pencurian.

“Konsumen saat ini yang didominasi oleh mereka yang telah dapat mengakses internet dan teknologi menginginkan layanan keuangan yang lebih mudah dan beragam,” kata Country Manager AWS Indonesia, Gunawan Susanto.

“Untuk dapat memperoleh preferensi baru konsumen di pasar dan mampu mengefisiensi operasional pada data center agar menjadi institusi yang lebih digital dan diinginkan oleh konsumen, cloud management menjadi hal yang vital. AWS terus mendorong dan membantu sektor keuangan untuk transformasi digital,” ujarnya.

Gunawan menambahkan bahwa dalam bertransformasi menuju dunia digital, ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh industri keuangan, yaitu fitur keamanan seperti faktor keamanan, autentikasi, otorisasi, dan proteksi data.

Satunya lagi yaitu fitur model tata kelola yang terdiri dari faktor auditability, artifact management, model explainability, dan model monitor.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->