Jaga Margin Keuntungan, Perbankan Pacu Dana Murah 

  • Bagikan

Finance, JAKARTA — Penguatan dana murah yang mencakup giro dan tabungan, terus dilakukan perbankan guna menjaga margin keuntungan sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data analisis perkembangan uang beredar Bank Indonesia (BI) per April 2022, simpanan giro dan tabungan masih kokoh dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 18,6 persen dan 15,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sementara itu, simpanan berjangka tumbuh tipis 0,8 persen per April 2022 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Perolehan tersebut lebih lambat dibandingkan Maret 2022 yang membukukan pertumbuhan sebesar 1,3 persen.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan nominal simpanan berjangka per April 2022 mencapai Rp2,82 triliun, naik 1 persen yoy. Adapun, simpanan giro mencapai Rp2,16 triliun dan tabungan Rp2,57 triliun. Keduanya tumbuh sebesar 15,9 persen dan 18,4 persen yoy.

Direktur Kepatuhan PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) Alexander Frans Rori menuturkan peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA), yang merupakan bagian dana pihak ketiga (DPK), akan menjadi fokus perseroan sesuai rencana bisnis tahun ini.

“Kami menginginkan dana murah itu mencapai 30 persen karena itu pada 2021 kami meluncurkan mobile banking dan internet banking. Tujuannya, sebagai sarana untuk transaksi menjadi lebih mudah,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (7/6/2022).

Bank yang mayoritas sahamnya digenggam oleh Industrial Bank of Korea ini juga berupaya membawa brand ambassador dan artis K-pop, seperti BTS dan Blackpink untuk menarik nasabah Indonesia.

Terpisah, Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI Handayani mengatakan bahwa emiten bank bersandi saham BBRI ini terus menjalankan transformasi struktur liabilitas dengan mendorong peningkatan proporsi CASA.

Hingga kuartal I/2022, BBRI mencatat penghimpunan giro senilai Rp227,3 triliun, tabungan Rp485,9 triliun, dan deposito Rp405,5 triliun. Pada saat bersamaan, porsi CASA perseroan telah mencapai 63,75 persen, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni 59,48 persen.

“Hal ini menunjukkan komitmen BRI yang terus berupaya meningkatkan dana murah sebagai sumber pendanaan,” ujar Handayani.

BRI juga semakin efisien tecermin dari cost of fund (CoF) atau biaya dana. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, CoF perseroan berada di angka 1,73 persen, sedangkan tahun lalu sebesar 2,26 persen. Adapun, BRI menargetkan DPK tumbuh pada angka 7–8 persen sepanjang 2022

Di sisi lain, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa perbankan perlu menekan biaya dana guna meningkatkan rasio net interest margin (NIM) atau margin bunga bersih. 

Menurutnya, salah satu cara untuk mencari dana murah bisa melalui kanal digital. Dengan layanan digital, DPK dinilai dapat meningkat lewat pendekatan akses ke simpanan ritel.

“Cara berikutnya adalah andalkan fee based income sehingga tidak terlalu bergantung pada pendapatan bunga,” kata Bhima,

Dia juga memperkirakan tahun ini perang suku bunga masih akan berlanjut. Tingginya ketidakpastian terkait dampak tapering off dan inflasi di dalam negeri cukup berpotensi memengaruhi bunga simpanan bank.

Bank sentral mencatat penghimpunan DPK perbankan per April 2022 sebesar Rp7.242,8 triliun. Nilai itu tumbuh 10,3 persen yoy, tetapi melambat jika dibandingkan perolehan pada Maret 2022 yang tumbuh 10,4 persen yoy atau Rp7.238,3 triliun.

BI memproyeksikan DPK perbankan akan tumbuh di kisaran 7–9 persen sepanjang tahun ini. Sementara itu, kredit perbankan diperkirakan tumbuh 6–8 persen.



Sumber / Bisnis.com
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->