Sabtu, 16 Oktober 2021

Investor Aktif Berburu Aset Berisiko, Dolar AS Melemah


Financeroll, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (15/10/2021) waktu setempat mengakhiri kenaikan beruntun lima minggu.

Pelemahan dolar AS dipicu karena sentimen risiko global pulih, membantu mengurangi permintaan untuk mata uang safe-haven.

Pasar saham global telah reli minggu ini karena kekhawatiran tentang ekonomi yang stagflasi telah mereda oleh perolehan laba perusahaan tercatat yang melampaui perkiraan di Amerika Serikat.

Data penjualan ritel AS yang kuat secara tak terduga untuk September juga mendorong sentimen. Penjualan ritel naik 0,7 persen bulan lalu, dibandingkan ekspektasi penurunan 0,2 persen, sebagian dibantu oleh harga-harga yang lebih tinggi.

“Selera risiko di sini tetap sangat kuat untuk saat ini. Itu membantu mata uang beta tinggi seperti pound, euro dan Aussie, hanya karena pasar merasa jauh lebih positif,” kata Boris Schlossberg, direktur pelaksana strategi valas di BK Asset Management.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang rivalnya, semula menguat setelah data penjualan ritel, tetapi kemudian cenderung lebih rendah dan terakhir turun 0,106 persen pada 93,941. Greenback turun 0,19 persen untuk minggu ini, setelah terapresiasi selama lima minggu sebelumnya, dan mencapai tertinggi satu tahun di 94,563 pada Selasa (12/10/2021).

“Kenaikan besar dalam kekuatan dolar, berdasarkan ekspektasi bahwa Federal Reserve AS dapat mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan, mungkin berlebihan, dan dolar sekarang berkonsolidasi,” kata Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex.

Greenback telah reli terhadap mata uang utama lainnya sejak awal September di tengah ekspektasi bank sentral AS akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya di tengah membaiknya ekonomi dan melonjaknya harga-harga energi.

Risalah pertemuan Fed September mengkonfirmasi minggu ini bahwa pengurangan stimulus pasti akan dimulai tahun ini, meskipun pembuat kebijakan terbagi tajam mengenai inflasi dan apa yang harus mereka lakukan tentang hal itu.

Pasar uang saat ini memperkirakan sekitar 50/50 kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Juli 2022.

Jababeka industrial Estate

Sterling naik 0,57 persen menjadi US$1,3765, mencapai level tertinggi sejak 17 September 2021, sementara euro turun tipis 0,03 persen menjadi US$1,1595 setelah menyentuh US$1,1624 pada Kamis (14/10/2021) untuk pertama kalinya sejak 4 September.

Dolar Aussie yang sensitif terhadap risiko bertambah 0,02 persen menjadi US$0,7417, setelah naik menjadi US$0,7439 di awal sesi. Dolar Selandia Baru melonjak 0,54 persen menjadi US$0,7068, memperpanjang lonjakan 1 persen pada Kamis (14/10/2021).

Yen Jepang mencatat kerugian terbesar, turun ke level 114,46 yen per dolar, terlemah sejak Oktober 2018. Yen adalah mata uang safe-haven dan telah terpukul oleh rebound dalam sentimen risiko termasuk di Asia. Dolar terakhir naik 0,53 persen terhadap yen di 114,28 yen.

Di pasar uang kripto, harga Bitcoin mencapai US$60.000 untuk pertama kalinya dalam enam bulan dan tidak jauh dari rekor tertinggi karena spekulasi regulator AS akan menyetujui ETF (exchange traded fund) Bitcoin berjangka.



Masuk / Daftar

Sumber : Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT