Rabu, 25 Agustus 2021

Rencana Tapering The Fed hingga Pelonggaran PPKM Jadi Penggerak Rupiah Pekan Ini


Financeroll, JAKARTA – Mulai awal pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat didorong sentimen global dan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup naik 0,14 persen atau 20 poin di posisi Rp14.392 per dolar AS, Selasa (24/8/2021). Di saat bersamaan indeks dolar AS juga terpantau menguat 0,07 persen ke level 93,0230 pada pukul 15.15 WIB.

Vice President Economist PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengungkapkan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS setelah meningkatnya sentimen risk-on akibat persetujuan dari regulator AS terhadap penggunaan vaksin Pfizer-Biontech.

Di sisi lain, Josua menyebutkan data perekonomian AS, Markit PMI Manufacturing, Service, dan Composite, tercatat lebih rendah dibanding periode sebelumnya, mengindikasikan perlambatan ekonomi AS.

“Peningkatan risk sentimen juga berpengaruh pada penguatan pasar saham AS, terindikasi dari DJIA, S&P500, dan NASDAQ, yang meningkat 0,61 persen, 0,85 persen, and 1,55 persen,” kata Josua kepada Bisnis, Selasa (24/8/2021).

Sementara dari Tanah Air, Josua mengungkapkan bahwa pasca pengumuman keputusan pemerintah untuk menurunkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 ke Level 3 mendorong ekspektasi pemulihan ekonomi sejalan dengan penyesuaian pelonggaran pembatasan sosial.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan bahwa PPKM untuk sebagian besar kabupaten maupun kota di seluruh Indonesia terutama Jawa-Bali masih diperpanjang. Namun level pembatasan tersebut diturunkan, seperti yang terjadi di DKI Jakarta.

Sentimen lain yang mempengaruhi penguatan rupiah menurut Josua yaitu pemerintah dan Bank Indonesia kembali berkoordinasi terkait burden sharing dalam rangka pembiayaan program pemulihan ekonomi terutama anggaran kesehatan dan program perlindungan sosial yang akan mendorong pemulihan ekonomi nasional kedepannya.

Josua menyebutkan, adanya SKB antara pemerintah dan BI tersebut akan mendukung konsolidasi fiskal dengan upaya menekan rasio belanja bunga utang terhadap PDB dan total belanja pemerintah dalam jangka pendek.

Lalu ungkapnya hal tersebut akan mendukung konsolidasi fiskal dan berimplikasi positif bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN). Di mana pada hari ini yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 6,34 persen.

Jababeka industrial Estate

Malam ini, ungkap Josua, pelaku pasar akan mencermati rilis data new home sales dan Richmond Fed Manufacturing index.

“Lebih lanjut, pelaku pasar pada minggu ini akan fokus pada Jackson Hole Symposium yang akan mengindikasikan arah kebijakan Fed terutama timing dari tapering The Fed. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan besok diperkirakan akan berada di rentang Rp14.350 – Rp14.450 per dolar AS,” ungkap Josua.



Masuk / Daftar

Sumber : Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT