Rabu, 3 Februari 2021

Risiko Rupiah di Tengah Gelombang Kedua Covid-19


Nilai tukar rupiah pada perdagangan awal tahun ini bergerak stabil di kisaran Rp 14 ribu per dolar AS. Namun, gejolak masih berpotensi terjadi pada nilai tukar rupiah seiring ketidakpastian pemulihan ekonomi di tengah gelombang dua pandemi Covid-19, progres vaksinasi, hingga berbagai stimulus yang digelontorkan negara-negara maju.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan akan mendorong pendalaman pasar keuangan dalam rangka menjaga stabilitas rupiah. Salah satu yang akan dilakukan BI adalah memperkuat peran Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) sebagai referensi bagi pelaku pasar keuangan domestik maupun asing.

“Jisdor sudah memiliki kredibilitas sebagai refrensi nilai tukar rupiah di pasar keuangan. Kami akan memperkuatnya sesuai dengan standar internasional,” ujar Perry dalam Mandiri Investment Forum-Macro Day, Rabu (3/2).

JISDOR merepresentasikan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari transaksi antarbank di pasar valuta asing, termasuk transaksi dengan bank di luar negeri. Penguatan Jisdor dilakukan dengan mengkalkulasi pemantauan nilai tukar sepanjang hari dan dipublikasikan 15 menit setelah pasar tutup.

Kedua, penyesuaian waktu penerbitan JISDOR dari yang semula pukul 10.00 WIB menjadi 16.15 WIB. Dalam periode penyesuaian waktu operasional pasar valuta asing domestik terkait pandemi Covid-19, rentang waktu perhitungan JISDOR akan dilakukan mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB dan JISDOR akan terbit pada pukul 15.15 WIB.

Ia menjelaskan, penguatan JISDOR merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi pengembangan pasar uang dan sejalan dengan best practice. Penguatan ini diperlukan untuk membangun referensi pricing yang kredibel sesuai visi pengembangan pasar uang.

Selain itu, penguatan JISDOR sejalan dengan inisiatif benchmark reform yang terjadi di pasar keuangan global yaitu pembentukan referensi kurs yang merepresentasikan kurs harian berdasarkan transaksi yang didukung dengan metodologi yang best practice.

“Bank Indonesia akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholders, khususnya pengguna JISDOR seperti pelaku pasar dan pelaku dunia usaha, agar implementasinya dapat berjalan dengan efektif dan lancar,” ujar Doni.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai langkah penguatan JISDOR tak akan banyak berpengaruh pada perdagangan rupiah di pasar spot. Namun, langkah yang dilakukan BI dapat membuat JISDOR lebih sesuai dengan harga pasar. “Dengan demikian, JISDOR dapat menjadi perhatian pelaku pasar,” kata Ariston.

Volatilitas Rupiah Tak akan Setinggi Tahun Lalu

infimas Mulia

Ariston memperkirakan, potensi volatilitas pada nilai tukar masih tinggi seiring ketidakpastian pemulihan ekonomi yang masih terbuka. Sentimen pemulihan ekonomi, stimulus Amerika Serikat, kelancaran distribusi vaksin, dan penularan virus Covid-19 akan menjadi faktor penggerak rupiah ke depan.

“Tapi mungkin tidak setinggi tahun lalu di mana pasar sempat mengalami kepanikan di awal pandemi,” kata Ariston. Ia pun memperkirakan rupiah pada tahun ini akan bergerak pada rentang Rp 13.500 hingga Rp 14.500 per dolar AS. Rupiah sempat menembus level Rp 16 ribu per dolar AS pada tahun lalu akibat pandemi Covid-19.

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam memproyeksi mata uang Garuda akan menguat dalam rentang Rp 13.500-13.750 per dolar AS pada 2021. Faktor pendorong penguatan terutama berasal dari likuiditas global yang berlimpah dan suku bunga global saat ini yang mendekati nol.

“Ini yang membuat yield SBN nampak menarik,” ujar Piter. Harga komoditas global yang cenderung meningkat juga akan membantu penguatan kurs Garuda tahun ini. Faktor lainnya, yaitu keyakinan pandemi berakhir pada 2021 yang akan memicu pulihnya perekonomian global.

Sementara itu, ekonom Chatib Basri menjelaskan, seluruh bank sentral dunia terutama AS, Tiongkok, dan Eropa sedang giat melakukan injeksi likuiditas di tengah krisis pandemi.

Kucuran dana tersebut menyebabkan likuiditas global sangat longgar yang kemudian membuat aliran modal asing deras masuk ke aset berisiko, terutama Indonesia. Namun, menurut dia, ada risiko yang harus diwaspadai jika negara-negara maju pulih dari pandemi Covid-19 lebih cepat dari Indonesia.

“Kalau saat itu Indonesia belum pulih, ini berisiko. Negara seperti AS aan melakukan pengetatan kembali kebijakan moneternya,” ujar Chatib dalam Webinar Meet The Expert, Jumat (29/1). Saat ekonomi Negeri Paman Sam pulih, tingkat bunga di pasar keuangan negara tersebut akan naik.

Dengan demikian, arus modal yang tadinya masuk ke Indonesia akan berbalik ke AS. Kaburnya dana asing tersebut akan membuat pasar obligasi dan pasar saham RI anjlok. Implikasinya, nilai tukar rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS.

Namun, Perry optimistis pemulihan ekonomi akan terjadi seiring vaksinasi yang mulai berjalan. BI memproyeksi ekonomi mampu tumbuh 4,8% hingga 5,8%. Bank sentral juga optimistis rupiah berpotensi menguat seiring nilainya yang saat ini masih berada di bawah fundamental.

BI juga memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, bank sentral juga telah meluncurkan cetak biru pengembangan pasar keuangan hingga 2025. Blueprint tersebut, antara lain fokus pada modernisasi infrastruktur di pasar uang.

“Kami antara lain mengembangkan multi-matching trading platform di pasar keuangan, center counterparty derivatif, dan juga memodernsasi platform transaksi eletronik BI untuk operasi moneter,” kata Perry.

Sumber Berita dan Data : Katadata.co.id

BACAAN TERKAIT