Rupiah Ditutup Loyo Akibat Ketegangan Geopolitik Ukraina dan Tapering The Fed

  • Bagikan
rupiah ditutup loyo akibat ketegangan geopolitik ukraina dan tapering the fed 61f121d98764f.jpeg
rupiah ditutup loyo akibat ketegangan geopolitik ukraina dan tapering the fed 61f121d98764f.jpeg

Financeroll, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (26/1/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,02 persen atau 3 poin ke level Rp14.353 terhadap dolar AS. Sepanjang hari nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp14.322,5 – Rp14.356.

Sepanjang tahun berjalan, mata uang Garuda melemah 0,63 persen. Indeks dolar AS berjangka Maret 2022 mengalami penguatan 0,08 persen atau 0,077 poin ke level 96,007 pada pukul 15.22 WIB.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan terdapat kekhawatiran geopolitik atas Ukraina yang menurunkan selera risiko investor.

“Kekhawatiran geopolitik atas Ukraina menurunkan selera risiko. Investor juga menunggu keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve AS,” paparnya, Rabu (26/1/2022).

Rusia menyatakan ‘keprihatinan besar’ setelah AS menempatkan 8.500 tentara dalam siaga untuk siap dikerahkan jika terjadi invasi Rusia ke Ukraina. Inggris juga mendesak sekutu Eropanya untuk menyiapkan sanksi jika terjadi eskalasi.

Selain itu, pasar juga fokus terhadap kebijakan The Fed, yang akan menurunkan keputusan kebijakannya di kemudian hari. Investor akan mencari petunjuk untuk waktu kenaikan suku bunga dan pengetatan kuantitatif (QT), tetapi pasar uang saat ini memperkirakan kenaikan pertama pada awal Maret 2022.

Sebelumnya, dalam notula rapat kebijakan moneter edisi Desember yang dirilis pada awal bulan ini, The Fed tidak hanya akan mengerek suku bunga sebanyak 3 kali di tahun ini, tetapi The Fed juga kemungkinan akan mengurangi nilai neracanya (balance sheet).

Bank of Canada juga akan menurunkan keputusan kebijakannya di kemudian hari, dengan dolar Kanada naik tipis menjadi CAD$1,2622 terhadap mitra AS-nya.

Di sisi lain, dari dalam negeri data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan bahwa ekonomi global akan tumbuh 4,4 persen pada tahun 202, turun 0,5 poin persentase dari perkiraan Oktober.

“Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi yang akan melambat karena ekonomi akan bergulat dengan gangguan pasokan, inflasi yang lebih tinggi, rekor utang dan ketidakpastian yang terus menerus akibat penyebaran varian baru Omicron,” katanya.

Selain itu, Omicron akan membebani aktivitas pada kuartal I/2022 dan efek ini akan memudar pada kuartal II/2022. Sedangkan, ketidakseimbangan pasokan-permintaan diasumsikan menurun selama tahun 2022 berdasarkan ekspektasi industri akan peningkatan pasokan.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah tipis di rentang Rp14.330-Rp14.370,” terangnya.



Masuk / Daftar

Sumber : Bisnis.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->