Rupiah Loyo, Ekonom Tegaskan Ketahanan Eksternal RI Cukup Baik

  • Bagikan
rupiah loyo, ekonom tegaskan ketahanan eksternal ri cukup baik 61ade558da3f0.jpeg
rupiah loyo, ekonom tegaskan ketahanan eksternal ri cukup baik 61ade558da3f0.jpeg

Financeroll, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada awal pekan ini, Senin (6/12/2021). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,16 persen atau 22,5 poin ke posisi Rp14.442 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau menguat 0,20 persen ke level 96,31 pada pukul 15.20 WIB. Sejumlah analisis memperkirakan mata uang garuda berisiko semakin melemah hingga pekan depan sampai Rp14.500-an per dolar AS.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, rupiah yang loyo selama beberapa waktu belakangan disebabkan oleh dua sentimen. Pertama, Federal Open Market Committee (FOMC) Desember 2021 pada 14-15 Desember mendatang diperkirakan akan menunjukkan sikap lebih hawkish dari The Fed, dalam melakukan tapering off dan kenaikan federal fund rate (FFR).

“Ada kemungkinan the fed akan lebih hawkish,” jelas Faisal kepada Bisnis, Senin (6/12/2021).

Hal itu, tambah Faisal, disebabkan oleh tingkat inflasi AS yang tak kunjung mereda sehingga The Fed diperkirakan juga akan memperbaharui proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Untuk itu, menurutnya pasar masih akan memerhatikan perkembangan tersebut.

Kedua, varian baru dari SARS-CoV-2 yaitu Omicron, menjadi sorotan pasar terkait dengan potensinya dalam memicu gelombang kasus harian Covid-19 tinggi seperti yang dipicu oleh varian Delta sebelumnya.

Faisal menilai ada sentimen terhadap potensi merebaknya variant of concern (VOC) baru dari WHO itu apalagi waktu semakin mendekati libur Natal dan tahun baru.

Kendati demikian, Faisal menilai tren pelemahan atau depresiasi rupiah terhadap dolar AS ini akan masih cukup terjaga. Volatilitas yang terjadi belakangan ini dinilai masih akan diredam oleh net inflow direct investment (investasi langsung) yang akan mencatatkan net inflow.

“Ketahanan eksternal Indonesia masih cukup baik karena walaupun flow ke pasar portofolio Indonesia telah mencatatkan net outflow, tapi dari direct investment masih akan net inflow ditopang oleh harga komoditas yang tinggi sehingga aliran masuk ke sektor mining dan plantation dapat terjaga,” jelasnya.

Selain itu, tren surplus neraca dagang yang masih berlanjut hingga 18 kali per Oktober 2021, berpotensi membuat transaksi berjalan Indonesia sepanjang tahun ini mencatat surplus.

Oleh sebab itu, tekanan dari normalisasi kebijakan moneter global yang akan berlangsung ke depannya diperkirakan memiliki dampak terbatas ke Indonesia. Hal itu disebabkan oleh porsi kepemilikan asing di pasar saham dan SBN domestik yang cukup rendah.

“Berbeda dengan pada saat 2013 lalu. Jadi volatilitas memang akan terus berlanjut tapi tetap terjaga,” tutupnya.



Masuk / Daftar

Sumber : Bisnis.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->