Jumat, 5 Maret 2021

Rupiah Tembus Rp14.307 Gara-gara Kenaikan Yield Obligasi AS


Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.307 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (5/3) pagi. Mata uang Garuda melemah 0,29 persen jika dibandingkan perdagangan Kamis (4/3) sore di level Rp14.266 per dolar AS.

Pagi ini, rupiah kompak melemah bersama mayoritas mata uang di kawasan Asia. Kondisi ini ditunjukkan oleh dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dolar Singapura melemah 0,02 persen, dolar Taiwan turun 0,18 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,57 persen.

Selanjutnya, peso Filipina berkurang 0,03 persen, rupee India melemah 0,16 persen, yuan China turun 0,07 persen, ringgit Malaysia melemah 0,26 persen, dan bath Thailand turun 0,04 persen. Hanya, yen Jepang yang berhasil menguat 0,09 persen terhadap dolar AS.

Senada, mata uang di negara maju kompak melemah terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris turun 0,08 persen, dolar Australia melemah 0,28 persen, dolar Kanada berkurang 0,28 persen, dan franc Swiss turun 0,01 persen.

Direktur PT Solid Gold Berjangka Dikki Soetopo mengatakan sentimen pasar terhadap rupiah memburuk akibat kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS atau US treasury.

Yield US treasury AS tenor 10 tahun kemarin naik 5,54 basis poin menjadi 1,47 persen, bahkan sebelumnya sempat menyentuh level 1,49 persen.

“Posisi yield ini masih berada di level tertinggi sejak Februari 2020, atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Kenaikan Yield Memicu Capital Outflow

Selain membuat sentimen pasar memburuk, kenaikan yield tersebut juga berisiko memicu capital outflow (aliran modal keluar) dari pasar obligasi Indonesia.

Sebab, selisih yield dengan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit sehingga pasar cenderung menarik dananya dari SBN Indonesia.

“Oleh karena itu, kenaikan yield treasury memberikan tekanan bagi rupiah, dari sentimen pelaku pasar yang memburuk dan risiko terjadinya capital outflow di pasar obligasi,” ucapnya.

Jababeka industrial Estate

Ia memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp14.200 sampai Rp14.320 per dolar AS hari ini.

Posisi yield ini masih berada di level tertinggi sejak Februari 2020, atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi dan sebelum bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%.

Pada pekan lalu, yield Treasury tenor 10 tahun ini bahkan mencapai 1,6%.

Selain membuat sentimen pelaku pasar yang memburuk, kenaikan yield tersebut juga berisiko memicu capital outflow di pasar obligasi Indonesia, sebab selisih yield dengan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit.

Oleh karena itu, kenaikan yield Treasury memberikan pukulan “jab dan uppercut” bagi rupiah, dari sentimen pelaku pasar yang memburuk dan risiko terjadinya capital outflow di pasar obligasi.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT