Jumat, 6 Agustus 2021

Rupiah Terdepresiasi Pagi Ini, Tekanan Eksternal Mendominasi


Financeroll, JAKARTA – Rupiah dibuka terdepresiasi pagi ini walaupun data ekonomi Indonesia pada kuartal II/2021 diumumkan lebih baik. Mengutip Bloomberg pada Jumat (6/8/2021), mata uang garuda turun 0,10 persen menjadi Rp14.357 pada pukul 09.17.

Bersama dengan rupiah, yuan China terpantau turun 0,04 persen, ringgit Malaysia turun 0,09 persen, dan bhat Thailand turun 0,31 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan naik 0,04 persen dan rupee India naik 0,02 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah didominasi oleh data eksternal yang kuat menahan laju penguatan mata uang Garuda pada hari ini.

“Membaiknya data ekonomi Indonesia di kuartal Kedua 2021 tidak serta merta bisa menopang terhadap penguatan mata uang garuda. Hal ini disebabkan data eksternal yang begitu kuat dan menahan laju penguatan mata uang rupiah sebelumnya,” tulis Ibrahim dalam rilis, dikutip Jumat (6/8/2021).

Ibrahim menjelaskan bahwa penyebab utama pelemahan rupia adalah komentar Wakil Ketua Fed Richard Clarida dan juga membaiknya data ekonomi Amerika Serikat. The Fed mengatakan kemungkinan kenaikan suku bunga AS dapat terpenuhi pada akhir 2022.

Selain itu, Clarida dan tiga anggota The Fed lainnya ungkap Ibrahim, juga mengisyaratkan langkah untuk mengurangi pembelian obligasi akhir tahun ini atau awal tahun depan tergantung pada bagaimana nasib pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan ke depan.

Ditambah lagi, Ibrahim menyebutkan menjelang pertemuan penetapan kebijakan terbaru Bank of England Kamis nanti. Bank sentral dapat bergerak selangkah lebih dekat ke pengetatan kebijakan moneter sambil meningkatkan perkiraan pertumbuhan dan inflasi.

Di sisi lain, sebenarnya sentimen positif tengah terjadi di mana perekonomian Indonesia yang diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 7,07 persen pada kuartal II/2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Ini adalah pertumbuhan positif pertama setelah empat kuartal sebelumnya ujar Ibrahim, di mana Indonesia beberapa waktu belakangan selalu mencatat kontraksi (pertumbuhan negatif). Sementara dibandingkan Kuartal Pertama 2021 (quarter-to-quarter/qtq), PDB Indonesia naik 3,31 persen.

Jababeka industrial Estate


Masuk / Daftar

Sumber : Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT