Sabtu, 25 September 2021

Sekitar 60 Persen Nasabah Bank di Asia Pasifik Tertarik Beralih ke Neobank


Financeroll, JAKARTA – Lanskap industri perbankan di kawasan Asia Pasifik (APAC) bakal sedikit goyah oleh pemain baru yang ternyata banyak diminati masyarakat, yaitu mereka yang mengkhususkan dirinya sebagai ecosystem-based digital bank atau bank digital.

Hal ini diungkap McKinsey’s Personal Financial Services (PFS) Survey terhadap 20.000 nasabah perbankan negara APAC mencakup Mainland China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam sebagai wakil negara berkembang, serta Australia, Hong Kong SAR, Jepang, New Zealand, Singapora, Korea Selatan, dan Taiwan sebagai wakil dari negara maju.

Survei menyebut bahwa bank digital berbasis ekosistem tertentu, yang notabene terSumber sebagai low-cost digital-only banks, mampu menarik hati nasabah dari sisi relevansi layanan terhadap aktivitas keseharian. Alhasil, layanan dari tipe bank ini dilirik, baik sebagai lembaga keuangan utama maupun sampingan.

“Sekitar 60 persen konsumen di seluruh Asia-Pasifik yang mengatakan mempertimbangkan secara pasti [yes] atau masih mempertimbangkan [maybe], untuk beralih ke direct-bank atau layanan perbankan digital berbasis ekosistem,” ungkap tim riset, dikutip Bisnis, Sabtu (25/9/2021).

Secara spesifik, nasabah di negara berkembang yang menjawab akan mempertimbangkan betul untuk beralih ke bank digital mencapai 17 persen, sementara 47 persen masih menjawab mungkin, dan 36 persen menjawab belum mempertimbangkan.

Sementara untuk nasabah di negara maju, yang menjawab akan mempertimbangkan betul hanya 12 persen, sementara 50 persen masih menjawab mungkin, dan 37 persen menjawab belum mempertimbangkan.

Salah satu pengaruh yang membuka mata nasabah ternyata tak lepas dari kondisi pandemi Covid-19, yang secara tidak langsung membiasakan masyarakat menggunakan transaksi digital, terSumber interaksi dengan teknologi finansial (tekfin/fintech) dan dompet digital (e-wallet).

“Terutama di kalangan emerging market di APAC, penetrasi fintech apps dan e-wallet mampu mencapai 54 persen di 2021 dari sebelumnya hanya 38 persen di 2017. Sementara negara maju APAC, penetrasi inovasi keuangan digital stagnan di 43 persen,” tambahnya.

Faktor ini terbukti ikut mendongkrak jumlah nasabah yang menjadi user aktif layanan digital banking di APAC, dari 65 persen pada 2017 menjadi 88 persen pada 2021.

Negara berkembang APAC menyumbang besar karena pada 2017 hanya 55 persen nasabah yang melek layanan digitalisasi perbankan.

CIMB NIAGA

McKinsey’s mengungkap faktor lain yang menjadi ketertarikan nasabah bank, terutama kaum muda, untuk beralih ke lembaga keuangan dengan layanan digital mutakhir, yaitu kemampuan menawarkan artificial-intelligence dan machine-learning untuk pengelolaan keuangan, wealth management atau robo-advisory.

Laporan mencontohkan salah satu buktinya berasal dari fintech digital advisory di Indonesia, PT Bibit Tumbuh Bersama atau Bibit (Bibit.id) yang melakukan pendekatan teknologi otomatisasi tersebut untuk menarik minat kawula muda dalam investasi.

“Bibit tampak sanggup menarik milenial dan investor baru [first time] dengan digital tool yang membantu user membangun portofolio investasi yang sejalan dengan tujuan dan risiko. Serupa, ada pula StashAway, yang beroperasi di Singapore, Malaysia dan
Hong Kong, dan Endowus di Singapura,” ungkap laporan tersebut.

Robo-advisory juga punya potensi merangsang ketertarikan usaha kecil dan menengah yang baru mengenal layanan digital untuk memberi kelancaran bagi usahanya.

Oleh sebab itu, bagi bank dan wealth management petahana fintech di sektor ini bisa menjadi penantang besar untuk salah satu lini bisnisnya di sektor investasi.

Namun, para fintech inovator ini juga bisa menjadi kandidat kuat perbankan dalam hal cooperation through ecosystem, partisipasi layanan, strategic partnership, atau akuisisi.

Pasalnya, dari hasil survei terkait ketertarikan nasabah terhadap layanan keuangan digital dibandingkan realisasi sales layanan tersebut dari kanal, kebutuhan transaksi investasi menjadi salah satu yang gap-nya paling rendah. Tepatnya, dari ketertarikan 66 persen responden, realisasinya lewat platform digital telah mencapai 36 persen.

Layanan kartu kredit menjadi salah satu yang paling parah karena dengan minat 75 persen dari total responden, realisasi penjualannya hanya 27 persen. Kemudian, Personal loan dari minat 63 persen, realisasinya hanya 28 persen. Terakhir, asuransi juga rendah karena dari minat 66 persen responden, realisasi sales via platform digital hanya 17 persen.

“Artinya, persaingan pemenuhan layanan keuangan akan diramaikan oleh tiga jenis pemain.”

Pertama, incumbent lembaga keuangan konvensional yang mampu memberikan layanan dan produk yang inovatif. Kedua, ecosystem-based companies, baik yang sudah well-established maupun new entrants.

Terakhir, para bank digital-only yang berupaya mengambil segmen layanan yang belum tergarap oleh bank konvensional.



Sumber / Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT