Hati-hati, Ghosting -an Bisnis Lebih Bahaya dari pada Ghosting -an Cinta

  • Bagikan
ghosting
ghosting

Ghosting sedang ramai diperbincangkan karena dituding sebagai perlakuan Kaesang Pangarep ke Felicia Tissue.

Google merilis daftar kata kunci yang paling banyak dicari oleh orang Indonesia sepanjang tahun 2020. Ada banyak kategori pencarian Google, mulai dari pencarian terpopuler, tokoh, cara melakukan, hingga istilah baru yang banyak dipakai anak masa kini.

Di sepanjang tahun ini, ada sebuah kata kunci menarik yang paling banyak dicari dalam kategori “Apa Itu?” di Google. Kata itu adalah “ghosting.”

Kata tersebut memang cukup populer di kalangan anak muda. Tapi, ternyata, tidak semua orang memahami arti kata ghosting hingga akhirnya mereka googling di mesin pencari.

Dalam konteks kekinian, istilah ghosting dikaitkan dengan hubungan percintaan. Ghosting terjadi ketika ada salah satu orang yang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa penjelasan ketika mereka sedang melakukan pendekatan atau kencan.

Ghosting menjadi masalah yang sangat serius karena biasanya terjadi di kalangan pasangan yang belum jadian namun sudah sering jalan bareng. Tak terbatas sampai situ, ghosting juga bisa terjadi di hubungan pertemanan platonic dan itu tidak kalah menyakitkannya.

Hati-hati, Ghosting -an Bisnis Lebih Bahaya dari pada Ghosting -an Cinta

Tak hanya dalam hal percintaan, ghosting tanpa disadari juga sering terjadi dalam hal bisnis. Lantas, Apa Itu Ghosting dalam dunia bisnis?

Pakar Marketing, Yuswohady mengatakan istilah ghosting atau ‘ghost shopper’ muncul sejak marak penjualan online. Mereka adalah yang banyak dan intens bertanya kepada pembeli, lalu menghilang tanpa kabar dan tak jadi beli.

Orang yang suka ghosting dalam hal ini bisa berasal dari kompetitor yang berpura-pura menjadi pembeli. Niat mereka biasanya ingin melakukan survei harga bahkan mengambil karya dan menjiplak.

“Jadi kompetitor itu melakukan ghost shopping untuk mengetahui produk, harga misalnya, atau benefit untuk kompetisi atau meniru. Seperti yang dibilang Pak Jokowi, benci produk luar negeri karena beberapa pemain besar kayak melakukan competitor intelligence, terus produknya di-copy tapi dengan harga yang jauh lebih murah,” katanya, Senin (8/3/2021).

Di luar itu, orang yang melakukan ghosting bisa juga berasal dari pembeli sesungguhnya. Mereka biasanya memiliki beberapa tempat belanja online dan ingin mencari harga terbaik sebelum memutuskan untuk membeli.

“Konsumen nyari harga yang paling bagus. Bukan yang paling murah ya, tapi harga yang paling bagus, artinya secara kualitas oke tapi harganya yang terbaik. Itu namanya value,” tuturnya.

Yuswohady menilai perlakuan ghosting merupakan nasib yang harus diterima oleh penjual online. Dalam hal ini penjual juga tidak bisa membedakan dari awal apakah orang tersebut serius membeli atau tidak.

“Kita akan bisa ngerti ini ghost shopper atau bukan itu dari pengalaman. Kalau orang yang nanya detil kita anggap ghost shopper kan nggak semua begitu juga. Ini seni lah, memang nasib namanya jualan. Jangan kita kecurigaan terhadap ghost shopper membuat service kita jadi menurun,” sarannya.

Ghosting juga sering dilakukan penjual online kepada pembelinya. Dalam hal ini biasanya mereka sudah niat melakukan penipuan dan menghilang tanpa kabar setelah ditransfer sejumlah uang.

“Kalau begitu berarti motifnya sudah penipuan. Kalo sudah begitu sudah nggak benar, dari sisi konsumen yang harus hati-hati,” kata Yuswohady.

Agar tak pembeli tak di-ghosting penjual, sebaiknya jangan terlalu percaya dengan harga murah yang belum tentu ada produknya. Kualitas produk yang mau dibeli juga harus dipastikan sebelum melakukan transaksi.

“Konsumen biasanya kalau produknya sudah murah kadang-kadang nggak liat quality-nya, makanya konsumen harus melihat kalau beli produk itu pertama ada brand-nya nggak. Kalau ada itu terpercaya atau enggak, palsu atau enggak,” tuturnya.

Yuswohady menyebut penjual di toko online lebih memungkinkan untuk melakukan ghosting karena kemudahan teknologi yang ada.

“Ini memang kalau di online bisa sangat mudah sekali, kalau di fisik kan langsung transaksi. Kalau online buka akun kan lebih gampang dengan produk yang barangkali dia nggak ada, memang tujuannya nipu,” tandasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->