Sistem Bagi Hasil Pada Perbankan Syariah

  • Bagikan
https://img.finroll.com/2021/02/Finroll_Sistem-Bagi-Hasil-Pada-Perbankan-Syariah.jpg
finroll sistem bagi hasil pada perbankan syariah

Bank Syariah adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem syariah berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha yang bersifat (haram) serta Sistem Bagi Hasil Pada Perbankan Syariah sendiri ada mekanisme perhitungannya.

Namun tidak sedikit masyarakat yang merasa bingung, jenis bank seperti apa yang cocok untuk dipilih. Apakah jenis bank syariah atau bank konvensional yang lebih umum. Banyak timbul pertanyaan bagaimana Sistem Bagi Hasil Pada Perbankan Syariah ?

Kedua jenis bank ini tentu saja mempunyai prinsip dan karakteristik masing-masing. Salah satu perbedaannya adalah penerapan sistem Bagi Hasil Pada Perbankan Syariah.

Prinsip yang digunakan perbankan syariah

Prinsip yang telah digariskan oleh hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran, Hadits, dan ijtihad para ulama. Bank syariah juga dikenal sebagai Islamic banking atau interest fee banking, yang artinya adalah suatu sistem perbankan yang dalam pelaksanaan operasionalnya tidak menggunakan sistem bunga atau riba, spekulasi atau maisir dan ketidakpastian atau ketidakjelasan atau gharar.

 Pada perbankan syariah, sistem bagi hasil merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan operasionalnya. Prinsip bagi hasil merupakan implementasi dari prinsip keadilan, persamaan dalam transaksi ekonomi syariah, bank hasil adalah istilah yang melekat pada bank syariah.

Didalam sistem bagi hasil terdapat perjanjian atau ikatan bersama dalam melakukan kegiatan usaha antara dua pihak. Pada suatu usaha terdapat kesepakatan mengenai adanya pembagian hasil berupa keuntungan atau kerugian yang akan didapat antara kedua belah pihak atau lebih. Bagi hasil usaha harus ditentukan terlebih dahulu diawal terjadinya kontrak atau akad. Banyaknya porsi pembagian  hasil antara kedua belah pihak harus ditentukan sesuai kesepakatan bersama dan harus terjadi karena adanya kerelaan atau yang disebut dengan istilah An-Tarodhin pada masing-masing pihak.

Mekanisme perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh perbankan syariah

  • Profit Sharing

Istilah yang sering dipakai pada perbankan syariah adalah profit and loss sharing, yang diartikan sebagai pembagian antara untung dan rugi dari pendapatan yang diterima dari hasil usaha yang telah dijalankan. Sistem profit and loss sharing dalam pelaksanaanya adalah bentuk perjanjian kerjasama yang terjadi antara pemilik modal atau investor dengan pengelola modal atau entrepreneur dalam menjalankan suatu usaha ekonomi, dimana kedua belah pihak akan terikat kontrak atau perjanjian didalam usaha yang apabila usaha tersebut memperoleh keuntungan maka keuntungan tersebut akan dibagi kepada kedua belah pihak sesuai dengan nisab diawal akad. Sedangkan apabila mengalami kerugian maka akan ditanggung bersama sesuai dengan porsi masing-masing.

  • Revenue Sharing

Sistem yang diperkenalkan oleh perbankan syariah kepada masyarakat dikenal dengan istilah Revenue Sharing, adalah suatu sistem bagi hasil yang dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana tanpa dikurangi dengan biaya pengelolaan. Dalam arti perbankan syariah, Revenue Sharing merupakan perhitungan bagi hasil yang didasarkan pada total keseluruhan pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Sistem ini berlaku pada pendapatan bank yang akan dibagikan dan dihitung atas pendapatan kotor , yang digunakan dalam menghitung pembagian hasil untuk produk pendanaan bank.

Bentuk kontrak kerjasama bagi hasil dalam perbankan syariah ada empat yaitu Musyarakah, Mudharabah, Muzara’ah dan Musaqah. Namun pada umumnya, bank syariah menerapkan kontrak kerjasama pada akad Musyarakah dan Mudharabah dalam sistem bagi hasil.

Musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih pada suatu usaha tertentu, dimana kedua belah pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko yang akan diperoleh ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan diawal akad. Dalam penerapannya, bank syariah dan nasabah menyetujui pembiayaan usaha atau proyek secara bersama-sama dengan suatu jumlah berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah total biaya usaha dengan dasar pembagian keuntungan dari hasil yang diperoleh atas usaha tersebut berdasarkan prosentase bagi hasil yang telah ditetapkan pada awal kesepakatan.

Prinsip – prinsip dalam Perbankan syariah

  • Prinsip Kerjasama

Dasar dari prinsip kerjasama adalah adanya kesepakatan antara pemilik dana dengan pihak pengelola. Kehendak kedua belah pihak inilah yang dituangkan dalam perjanjian atau akad kerjasama.

  • Prinsip Kepercayaan

Unsur terpenting dalam suatu akad adalah kepercayaan, karena dengan kepercayaan maka seseorang dengan mudah akan mendapatkan bantuan dari orang lain. Kepercayaan yang dalam perbankan syariah adalah kepercayaan yang terjalin antara pemilik modal atau dana (shahibul maal) dengan pengelola modal (mudharib), baik pihak bank ataupun nasabah.

  • Prinsip Kehati-hatian

Prinsip kehati-hatian adalah prinsip untuk mewujudkan sisem perbankan syariah yang sehat, kuat dan kokoh. Prinsip ini berlandaskan pada Pasal 2 Undang-Undang Perbankan yang mengharuskan setiap bank agar menggunakan prinsip kehati-hatian.

  • Prinsip Tanggung Jawab

Setiap kegiatan pasti memiliki risiko, tak terkecuali dalam kegiatan perbankan syariah, sehingga sangat penting bagi perbankan syariah untuk memiliki prinsip tanggungjawab yang harus diterapkan oleh semua pihak.

  • Prinsip Keadilan  

Prinsip keadilan harus diterapkan dalam perbankan syariah, karena dalam prinsip keadilan terdapat nilai untuk saling berbagi dalam keuntungan nisbah. Dalam sistem perbankan syariah hubungan antara bank dan nasabah tidak hanya sebagai debitur dan kreditur saja, tetapi juga adanya hubungan kedua pihak yang diakui sebagai mitra kerja yang lebih dekat dan lebih humanis.  

Sumber : kompasiana.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->