Selasa, 4 Februari 2020

Tahun 2019, Realisasi Investasi Industri Manufaktur Capai Rp216 Triliun


Finroll.com — Saat ini pemerintah fokus mengerek nilai investasi khususnya pada sektor industri manufaktur. Karena selama ini terbukti sektor industri manufaktur berperan besar pada pertumbuhan ekonomi dan juga penyerapan tenaga kerja.

Sementara berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sepanjang tahun 2019 industri manufaktur mampu memberikan kontribusi yang cukup signfikan terhadap total investasi. Tercatat sumbangsih penanaman modal dalam negeri ( PMDN ) sektor industri sebesar Rp72,7 triliun atau 18,8 persen dari perolehan total PMDN sebesar Rp386,5 triliun.
Kemudian, penanaman modal asing (PMA) di sektor industri tercatat Rp143,3 triliun atau 33,8 persen dari perolehan total PMA yang mencapai Rp423,1 triliun. Sehingga secara keseluruhan, sektor industri investasi yang masuk mencapai Rp216 triliun atau berkontribusi 26,7 persen dari total realisasi investasi di Indonesia yang mencapai Rp809,6 triliun pada tahun lalu.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan melalui investasi maupun sumber lain, tujuannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja. Untuk itu sudah semestinya pemerintah, swasta dan stakeholder terkait lainnya harus terus bersama-sama untuk mendorong kegiatan investasi bisa lebih mudah datang ke Indonesia.

“Apalagi, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama bagi para investor. Hal ini merupakan hasil dari pertemuan kami dengan perusahaan-perusahaan skala global. Selain itu, respons mereka sangat positif terhadap komitmen Pemerintah Indonesia dan kebijakannya yang ramah kepada investor,” paparnya di Jakarta, Senin (3/2).

Lebih lanjut, setiap kebijakan strategis pemerintah terutama yang berkaitan dengan upaya memacu pertumbuhan ekonomi, harus berimbas pada penciptaan iklim usaha yang kondusif. Langkah ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan para investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Oleh karena itu, langkah konkret yang perlu terus dijalankan, antara lain mempermudah izin usaha, perbaikan kebijakan yang memengaruhi rantai pasokan (supply chain) nasional dan global, harmonisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah, serta membenahi regulasi yang bisa menggaet investasi sektor padat karya.

“Contohnya adalah dengan penerbitan omnibus law tentang perpajakan dan cipta lapangan kerja, kami optimistis akan dapat menarik investasi. Bahkan, adanya pemberian fasilitas insentif fiskal berupa super tax deduction, menjadi sweetener bagi calon investor, imbuhnya.

Agus menegaskan, pihaknya bertekad untuk mengatrol nilai investasi nasional dengan turut aktif mengajak dan mengawal sejumlah pelaku industri potensial agar segera merealisasikan investasinya di Indonesia.

Hal ini bakal dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi, menurunkan defisit transaksi berjalan, memperkuat struktur industri manufaktur dalam negeri, mendorong hilirisasi, menghasilkan produk substitusi impor, meningkatkan nilai ekspor, dan mengurangi angka pengangguran.

“Sesuai implementasi roadmap Making Indonesia 4.0, kami memprioritaskan pada lima sektor, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri elektronik, serta industri kimia,” sebutnya.

Jababeka industrial Estate

BACAAN TERKAIT