Kamis, 21 Maret 2019

The Fed Ambil Sikap Tidak Akan Naikan Suku Bunga Pada 2019


Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) mengambil sikap kebijakan kurang agresif usai menggelar pertemuan selama dua hari.

Hal ini menunjukkan the Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada 2019 di tengah ekonomi yang melambat dan mengumumkan rencana akhiri program pengurangan neraca pada September.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 2,25 persen-2,5 persen.

Suku bunga acuan ini digunakan sebagai kunci untuk menentukan suku bunga untuk sebagian besar utang konsumen dengan tingkat bunga yang dapat disesuaikan antara lain kartu kredit dan pinjaman rumah.

Langkah the Fed sesuai harapan dan permintaan pasar. Pembuat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) mengambil perubahan tajam dari proyeksi kebijakan sebelumnya.

The Fed kembali menegaskan janjinya untuk sabar terhadap kebijakan moneternya. Selain itu, the Fed menyatakan akan mulai perlambat pengurangan kepemilikan obligasi pada Mei dengan menurunkan batas bulanan menjadi USD 15 miliar dari USD 30 miliar.

Dengan pengumuman yang digabung berarti setelah pengetatan kebijakan moneter pada tahun lalu, the Fed berhenti pada kedua sisi untuk menyesuaikan pertumbuhan global yang lebih lemah dan pandangan agak lebih lemah untuk ekonomi AS.

“Mungkin perlu beberapa waktu sebelum prospek lapangan kerja dan inflasi jelas menyerukan perubahan kebijakan. Kami melihat tidak perlu terburu-buru untuk segera melakukan,” ujar pimpinan the Fed, Jerome Powell, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (21/3/2019).

Perkiraan ekonomi terbaru yang dirilis pada akhir pertemuan juga menunjukkan para pembuat kebijakan telah mengabaikan proyeksi kenaikan suku bungada 2019, dan melihat hanya satu kenaikan suku bunga pada 2020.

Usai pengumuman itu, kontrak berjangka the Fed Fund mulai memberi harga untuk peluang penurunan suku bunga lebih baik dari pada tahun depan. Powell mendorong kembali pada pandangan itu dan mengatakan ekonomi AS berada di tempat yang baik dan prospeknya “positif”.

Jababeka industrial Estate

The Fed Cermati Brexit hingga Perang Dagang

Akan tetapi, ia menuturkan ada risiko yang sedang berlangsung termasuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa, pembicaraan perdagangan AS dengan China, dan prospek ekonomi AS. The Fed mengawasi hal itu dengan cermat.

“Data saat ini tidak mengirimkan sinyal kalau kita perlu bergerak ke satu arah atau lainnya, dalam pandangan saya. Ini saat yang tepat bagi kita untuk bersabar,” tutur dia.

Indeks saham AS menguat usai pernyataan the Fed dirilis, dan imbal hasil surat berharga turun ke level terendah sejak awal Januari. Dolar AS melemah terhadap mata uang mitra dagang utama.

“The Fed melampaui ekspektasi dovish pasar yang berdampak terhadap dolar AS. The Fed melakukan banyak hal tentang kebijakan. Fakta the Fed menyerah pada kenaikan suku bunga 2019 adalah sangat dovish,” ujar Analis Western Union Business Solutions, Joe Manimbo.

sumber: liputan6

BACAAN TERKAIT