Selasa, 23 Juni 2020

Jokowi Minta Pencegahan Kebakaran Hutan Pakai Teknologi


Finroll – Jakarta, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memanfaatkan teknologi untuk mengawasi titik-titik panas atau hotspot. Jokowi mengatakan koordinasi dan penyampaian informasi terbaru sangat penting dalam mencegah karhutla di suatu wilayah.

“Manfaatkan teknologi untuk peningkatan monitoring dan pengawasan dengan sistem dashboard,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas tentang ‘Antisipasi Karhutla’ di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/6).

Jokowi mencontohkan sistem teknologi yang sudah diterapkan Polda Riau untuk mencegah karhutla. Menurutnya, penggunaan sistem tersebut dapat menggambarkan situasi di lapangan secara detail dan terperinci.

“Saya lihat di Polda Riau sangat bagus, memberikan contoh. Kalau seluruh wilayah yang rawan kebakaran bisa dibuat seperti itu, saya kira pengawasan akan lebih mudah,” katanya.

Selain instrumen teknologi, Jokowi juga menyinggung keberadaan Babinsa, Kamtibmas, dan kepala desa agar bertindak cepat mendeteksi titik api. Dengan demikian, api dapat segera dipadamkan sebelum telanjur membesar.

“Kalau api masih kecil bisa kita selesaikan akan lebih efektif, lebih efisien, daripada sudah membesar baru kita pontang-panting,” ujarnya.

Mantan wali kota Solo itu juga mengingatkan langkah pencegahan kebakaran di lahan gambut dengan penataan ekosistem secara konsisten.

Ia meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Restorasi Gambut (BRG), serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus menjaga agar tinggi muka air tanah membuat lahan gambut tetap basah.

“Dan dengan sekat kanal, embung, sumur bor, teknologi pembasahan lainnya telah kita lakukan. Hanya ini harus konsisten kita lakukan,” tuturnya.

Jokowi menekankan bahwa pencegahan tetap perlu dilakukan meski saat ini pemerintah masih fokus menangani pandemi virus corona (Covid-19).

CIMB NIAGA

Berdasarkan laporan BMKG, kata Jokowi, musim kemarau akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus mendatang. Sementara 17 persen wilayah telah mengalami musim kemarau pada April, 38 persen wilayah pada Mei, dan 27 persen wilayah pada Juni.

“Kemarau di sebagian besar zona ini akan terjadi bulan Agustus. Kita punya persiapan paling enggak satu bulan untuk mengingatkan ini,” katanya.

Sumber : CNN Indonesia

BACAAN TERKAIT