Sabtu, 6 Maret 2021

Erick Thohir Akan Swastanisasi BUMN Berpendapatan Rp50 M


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMNErick Thohir berencana melakukan swastanisasi perusahaan pelat merah yang memiliki pendapatan di bawah Rp50 miliar. Menurutnya, BUMN dengan pendapatan minim lebih baik jadi perusahaan swasta.

“Sedang memikirkan pendapatan Rp50 miliar ke bawah di-swastanisasikan saja. Tapi penting ada payung hukumnya,” ujar Erick dalam Rapat Kerja Nasional Hipmi 2021, Jumat (5/3).

Ia mencontohkan beberapa BUMN yang tak perlu, seperti perusahaan yang bergerak di sektor air minum dan pemasok aspal. Perusahaan-perusahaan itu, kata Erick, lebih baik ditutup.

“Ngapain ada BUMN perusahaan air minum, BUMN memasok aspal ke BUMN-BUMN kontraktor, karya-karya, untuk apa. Tutup-tutupin saja,” kata Erick.

Erick juga berniat untuk menutup puluhan anak usaha PT PLN (Persero). Ia menyatakan PLN sejauh ini memiliki 70 anak usaha.

“PLN ada 70 perusahaan, kami targetkan jadi 50 perusahaan (anak usaha),” imbuh Erick.

Menurut Erick, BUMN sebaiknya bermain dalam bidang usaha yang memberikan pendapatan besar, misalnya puluhan triliun. Dengan begitu, ia berharap BUMN bisa bersaing dengan asing.

“Bisnis perbankan ada asingnya, BUMN nya oke. Ada Bank Mandiri ada BTN misalnya,” kata Erick.

BUMN Ramah Pasar

Ia ingin BUMN ramah kepada pasar. Namun, perusahaan pelat diharapkan bisa jadi pagar untuk melawan asing.

“Bukan anti asing. Harus ada ekosistem yang saling menguntungkan,” tutur Erick.

CIMB NIAGA

Sementara, Erick mengakui BUMN juga mulai mundur dari beberapa proyek jalan tol yang lebih potensial dibangun oleh swasta. Namun, keputusan itu bukan hanya ditentukan oleh Erick, tapi juga dua menteri lain.

“Sekarang jalan tol yang visible untuk swasta masuk, BUMN mundur, sudah ada dua titik. Tapi mundur jelas disepakati dua sampai tiga menteri,” jelas Erick.

Dia mencontohkan, bank-bank Himbara saat ini telah mampu bersaing dengan bank asing. Namun masih diperlukan polesan terakhir, dari segini bisnisnya, sehingga nantinya bank ini bisa menjadi pemimpin di masing-masing core business-nya dan mampu bersaing secara global.

Contoh lainnya adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan anak usahanya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Saat ini perusahaan telekomunikasi pelat merah ini tengan bersaing dengan pemain-pemain asing sehingga harus dilakukan pengembangan bisnis untuk bisa bertahan di industri.

Secara terang-terangan, Erick menyampaikan bahwa saat ini kementerian tengah berupaya untuk melakukan transformasi bisnis untuk kedua perusahaan ini.

Telkom saat ini dinilai tak hanya bersaing di bidang infrastruktur telekomunikasi, namun juga harus masuk ke bisnis jasa lainnya seperti penyedia data center hingga cloud.

“Kita sedang rubah bisnis model Telkomsel juga. Supaya ini menjadi pemain yang berbeda, jangan jadi Telkomsel di bisnis telko yang sunset, kita harus rubah juga,” tandasnya.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT