Antara Menjadi Orang Baik dan Penyeru Kebaikan, Manakah yang Lebih Umat Butuhkan?

  • Bagikan

Alkisah, dahulu ada seorang dari Bani waqif bernama Abu Qais. Beliau adalah seorang kepala suku yang sangat pintar, penyair ulung dan tokoh yang disegani masyarakat. Beliau penganut paham “hanifiyyah” sebuah keyakinan terhadap sifat asli kemanusiaan yang lurus.

Atas dasar keyakinannya, Abu Qais menolak menjadi Yahudi dan Nasrani, dan juga tidak menerima Islam. Karena baginya menjadi orang baik saja sudah cukup. Apakah benar boleh begitu?

Nabi Muhammad, Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam adalah seorang pedagang yang jujur dan amanah. Sifat ini sangat disukai oleh Kaum Quraisy, meski sebagian dari mereka tetap gemar mengurangi timbangan.

Rasulullah juga dicintai karena tutur kata dan perilakunya yang lembut, tidak pernah mengumpat kasar, tidak berjudi dan tidak mabuk-mabukan serta tidak pernah ikut-ikutan menyembah berhala.

Asal usul Rasulullah yang merupakan keturunan bani Hasyim, kaum terpandang dijajaran kabilah Quraisy, menjadikannya sebagai sosok baik yang amat disayangi dan dicintai kaumnya.

Namun itu terjadi sebelum masa kerasulan. Ketika Rasulullah mulai menyampaikan bahwa “Aku ini (Nabi Muhammad) adalah utusan Allah yang menyampaikan kebenaran, memberikan peringatan dan mengabarkan kabar baik dan buruk.” Banyak sekali orang-orang yang awalnya menyukai beliau, berbalik memusuhinya. Terlebih ketika Ia mulai menyeru kaumnya untuk menyembah Allah, meninggalkan berhala dan kemaksiatan.

Sirah Nabawiyah menerangkan lebih detail tentang perjuangan Rasulullah menyebarkan ajaran kebaikan yang diperolehnya langsung dari Tuhan melalui perantaraan Jibril. Bagaimana seseorang yang awalnya dipandang orang baik, malah dilempari batu dan kotoran serta dituduh sebagai tukang sihir.

Mengapa bisa terjadi demikian? Mengapa bisa orang baik dicintai, tetapi ketika ia mulai menyebarkan kebaikan koq malah dimusuhi?

Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya, berbeda dengan Penyeru Kebaikan (Muslih) yang mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain. Penyeru Kebaikan menjadi dimusuhi karena usahanya ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan.

Selain itu, dalam suroh Al Kahfi ayat 54, Allah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling suka membantah. Artinya manusia cenderung untuk tidak menyukai aturan dan perintah yang mengekang kebebasan dirinya.

Menurut Ustadz Agus Santosa Somantri: “Membantah perintah, membantah larangan atau membantah kebenaran sudah di lakukan manusia sejak dahulu. Begitu pula saat ini, ketika perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di serukan, ketika larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di sampaikan, ketika kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya di tunjukkan, maka kebanyakan dari manusia bernafsu untuk membantah.

Di cari-carinya dalih untuk membenarkan apa yang dilakukan dan di yakininya walaupun menyimpang dari kebenaran. Di cari-carinya dalil untuk menolak kebenaran. Seterang apapun kebenaran di tunjukkan, dicarinya celah untuk bisa membantah.”

Maka sebagus apapun teknik menyampaikan kebaikan, seluas apapun ilmu fiqih dakwah yang kita punya tidak menjadi jaminan bahwa dakwah atau seruan kebaikan kita bakal diterima. Itulah mengapa manusia hanya diberi perintah untuk menyampaikan dan mendapat rukhsoh mempergunakan selemah-lemahnya iman ketika melihat kebathilan.

Jangan lupakan juga tentang peran iblis dan tentaranya yang sudah dinobatkan menjadi pelopor tukang bantah dan telah bersumpah dihadapan Allah untuk menjauhkan manusia dari kepatuhan terhadap ajaran agama dari Tuhan-Nya. Maka keberadaan penyeru kebaikan yang mengingatkan kembali manusia kepada jalan yang lurus jelas diperlukan.

Memang tidak mudah menjadi Penyeru kebaikan. Bahkan manusia mulia yang namanya terpatri menjadi salah satu nama suroh dalam Alqur’an, Luqman al Hakim menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan. Lukman berkata: “Hai anakku tegakkan shalat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabar lah atas apa yang menimpamu.”

Itulah yang menyebabkan menjadi orang baik saja tidak cukup dalam beragama tapi bagaimana kebaikan itu bisa ditebar demi mencegah kemunkaran. Yup “beramar ma’ruf nahi munkar” namanya. Melakukan kebaikan yang diiringi dengan upaya mencegah kemunkaran.  Karena kalau beragama cukup dengan hanya menjadi orang baik, maka Abu Jahal dan Abu Lahab serta para pengikutnya tidak akan pernah memusuhi Rasulullah.

Menyampaikan kebaikan adalah tugas seluruh manusia, bukan saja tugas juru ilmu dan para ustadz. Kurangnya ilmu tidak bisa dijadikan alasan keengganan untuk menyampaikan hal-hal baik yang kita ketahui. Karena Rasul sendiri yang meminta kita menyampaikan kebaikan, meski hanya satu ayat. Tentu yang kita sampaikan adalah hal yang shahih yang sudah kita pahami. Bukan sekedar asal tahu dan asal bicara. Penyampaian juga harus dilakukan juga dengan cara yang baik dengan mempertimbangkan antara kebermanfaatan dan kemudharatan dari apa yang kita sampaikan.

Jangan sampai terjadi:

Saat kita meihat remaja  bercumbu di depan umum sambil nunggu pesanan martabak matang, kita berkata “ah biarin saja, ilmu saya belum cukup untuk menegur mereka.”

Lihat tetangga terang-terangan kumpul kebo, kita bersikap “ah biarkan saja, saya cuma warga biasa, bukan Ustadz atau pejabat kewilayahan yang harus memperingati mereka untuk tidak bermaksiat.”

Lihat orang buang sampah di sungai, kita ragu mengingatkan dan akhirnya diam. Lalu membenarkan tindakan kita dengan mengatakan “ah biarin ajah, saya belum hapal hadis tentang kebersihan sebagian dari iman, jadi sudah seharusnya tidak perlu ikut-ikutan memberi pengingat tentang enaknya hidup bersih dan sengsaranya kebanjiran.”

Kawan-kawan yang budiman, mari sama-sama kita akui saja. Jikalau kita merasa tidak sanggup beramar maruf nahi munkar hanya karena merasa kurang ilmu, itu namanya bukan tidak sanggup. Tapi malas. Malas belajar. Malas ambil peran. Malas kebagian urusan. Malas ribut dengan orang. Saya kadang juga begitu. 😅

Maka janganlah terkaget-kaget jika sekitar kita banyak tumbuh ketidakbaikan, karena peran kita untuk saling mengingatkan sudah diambil alih oleh orang-orang yang sekedar mencari keuntungan.

Padahal kan kita hanya diperintah untuk bertindak sesuai kemampuan. Mengambil peran terkecil pun tak mengapa, asal tetap istiqomah menjalankan perintah Tuhan untuk menyampaikan.

Orang-orang berilmu mengatakan: “Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik (yang tidak menyerukan kebaikan).”

Dan Allah mengatakan:

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Melainkan yang beriman dan beramal soleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. (Al Asr: 1-3)

Maka marilah kita sama-sama belajar untuk tidak sekedar menjadi orang baik, tetapi juga berusaha untuk menyeru kepada kebaikan. Jangan ragu untuk saling menasihati dalam kebenaran. Dan bersabarlah. Karena sesungguhnya yang kita lakukan adalah demi terciptanya harmoni yang menopang kehidupan bermasyarakat. Bukan untuk merasa benar sendiri atau menonjolkan keilmuan. Naudzubillah!

Terus, bagaimana kelanjutan kisah Abu Qais, Mbak. Koq gak ada pembahasannya? Monggo dibuka lagi sirah nabawiyah-nya. Insya Allah di beberapa kitab ada tertera jelas tentang akhir hidup beliau disana.

Tolong jangan jadi pada tegang yaaa..

Saya hanya mengingatkan 🙏😊

  • Bagikan
-->