Buntut Panjang Celoteh Rudiantara: Dari Pilpres ke Gaji sampai PKS

  • Bagikan
Viral Tagar "yang Gaji Kamu Siapa" ke ASN, Begini Klarifikasi Menkominfo

Buntut omongan Menkominfo, Rudiantara  yang bertanya kepada seorang ASN “Yang Gaji Ibu Siapa?” ternyata bukan hanya menjadi bahan pembicaraan dan eyel-eyelan di tanah air, tapi juga berhasil menjadi trending topic dunia.

Berdasarkan video yang beredar, kejadian diawali dari pertanyaan atas 2 buah gambar yang diberi nama gambar 01 dan gambar 02. Rudiantara meminta bawahannya yang hadir untuk memilih salah satu dari kedua gambar tersebut. Gambar 01 secara kasat mata terlihat lebih menarik dengan warna-warni yang indah dibandingkan dengan gambar 02. Mungkin hal tersebutlah yang membuat Pak menteri tak menyangka bahwa ada anak buahnya yang memilih gambar 02.

 

Yup, seorang perempuan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjelaskan ketika ditanya, ia memilih 02 karena visi misi 02 yang dianggap sesuai dengan dirinya. Setelah mengatakan hal tersebut, beliau turun panggung dan disitulah dengan nada tinggi, Rudiantara memanggil kembali ibu tersebut dengan kalimat: “Bu, Ibu yang gaji siapa?! Kita ini siapa?!

 

Sebenarnya saya memahami kejengkelan Rudiantara tersebut. Rudiantara adalah seorang profesional, bukan menteri yang diangkat karena “jatah kue” partai koalisi pemenang pilpres. Makanya beliau merasa gerah ketika Ibu tersebut menerangkan bahwa pilihannya terhadap gambar 02 dilandaskan terhadap kesamaan visi misi. Padahal yang ditanya hanyalah sebuah gambar. Kenapa koq jadi dikaitkan dengn kontestasi pemilihan presiden?! Ya gak masoook…😅

 

Tapi menurut saya, Pak Rudiantara juga harus menyadari bahwa kita memang sedang berada di tahun politik yang membuat orang berpikir apapun bisa dikaitkan dengan pilihan politik. Seharusnya kejadian seperti ini tak perlu terjadi sendainya penyelenggara acara Kominfo Next di Hall Basket Senayan, Jakarta dapat berkreasi lebih bijak.

Kenapa juga harus menamakan kedua gambar yang sangat kontras tersebut dengan nama 01 dan 02? Bukankah itu memang penomoran kandidat pilpres yang sedang hangat dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat! Kenapa tidak menamakan dengan gambar A dan B. Atau jika ingin memakai nomor, cukup dengan nomor 1 dan 2 tanpa embel-embel angka 0 didepannya.

 

Jadi wajar juga sekiranya jika sebagian masyarakat, terlebih para pendukung oposisi yng berpikir bahwa ada kampanye terselubung yang sangat halus di acara tersebut yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada pasangan kandidat 01 yang dicerminkan melalui gambar yang bagus dan menarik dibanding gambar 02 yang sengaja dibuat buram hampir tanpa warna.

Ditambah dengan pernyataan “Ibu digaji siapa” maka lengkaplah kecurigaan khalayak.

 

Jika alasan dari jawaban sang Ibu terhadap pilihan gambarnya bersifat OOT (out of topic), maka omongan Rudiantara mengenai siapa yang menggaji ASN juga lebih OOT. Apa tujuan beliau mempertanyakan hal tersebut? Apakah beliau ingin mengingatkan Ibu tersebut agar sadar diri bahwa ia adalah seorang abdi negara yang digaji oleh negara makanya tak boleh melawan negara? Hal ini bisa dianggap benar jika negara yang dimaksud oleh Rudiantara bukanlah pihak petahana yang sedang memimpin pemerintahan.

 

Karena negara bersifat tetap dan tak tergantikan, berbeda dengan pemerintahan. Dan pemerintah tidak pernah menggaji dirinya sendiri. Meski menteri adalah pembantu Presiden, namun bukan Presiden yang menggaji menteri, begitupun dengan orang-orang yang bekerja di bawah kementerian.

 

Presiden, Menteri, ASN dan mereka yang berada di legislatif adalah pegawai negara yang digaji oleh RAKYAT. Rakyat yang menggaji mereka lewat pembayaran iuran pajak yang berlapis. Dan sampai saat ini, pajaklah yang menjadi sumber utama penghasilan negara karena banyak BUMN yang belum berhasil menopang dirinya sendiri tanpa urunan subsidi.

 

Jadi meski dalam aktivitas pekerjaannya ASN harus bersikap netral, namun mereka masih memiliki hak berpolitik untuk memilih yang dilindungi Undang-Undang dan tidak boleh dikekang ataupun diatur-atur sesuai kemauan atasannya. Mereka berhak mencoblos pilihannya sendiri meski tak boleh ikut berkampanye mencari dukungan untuk pilihannya. Jangankan berkampanye, berfoto saja tidak boleh. Keep silent sampai di bilik suara pokoknya. Kecuali jika kelak negara mencabut hak politik mereka tersebut sehingga mereka tidak diperbolehkan memilih.

 

Lebih jauh para pendukung petahana malah mengeluarkan opini yang lucu dan kontroversial demi membela dan membenarkan kelakuan Rudiantara. Sosok Ibu yang memilih gambar 02 dituduh sebagai hasil buah karya pencucian otak salah satu partai koalisi. Siapa lagi kalau bukan Partai Keadilan Sejahtera a.k.a PKS yang menjadi pihak tertuduh.

 

PKS dituduh melakukan pencucian otak terhadap para ASN Kominfo saat kadernya menjabat sebagai Menkominfo. Semua pegawai dicuci otaknya untuk membenci petahana dengan segenap kroninya. Saya perkirakan pencucian otak besar-besaran harus dilakukan PKS dengan bantuan tenaga ahli. Bisa jadi saat itu PKS menggandeng para member Go Clean dari Go Jek yang terkenal tangguh dalam hal mencuci dan menyikat benda apapun sampai bersih tuntas. Dan demi kesempurnaan hasil, saya menuduh PKS menggandeng perusahaan yang memproduksi deterjen jenis Rinso. Sesuai slogannya Rinso anti noda, yang bisa mencuci dan membersihkan segalanya bahkan pihak yang paling bersih sekalipun.

 

Tentu saja kerjasama ini juga dalam rangka agar mendapatkan potongan harga khusus. Bayangkan mencuci ribuan otak, berapa banyak tenaga dan deterjen yang dibutuhkan? Butuh dana yang tidak sedikit untuk proses cuci mencuci ini.

Saya sendiri menggunakan kurang lebih 3 Kg deterjen untuk aktivitas mencuci sebulan penuh. Karena nggota keluarga saya berjumlah 3 orang, jadi masing-masing rata-rata butuh sekilo deterjen. Harga sekilo deterjen jenis rinso Rp 28,00,00. Nah, coba saja kamu kalikan dengan total 5 tahun saja kader PKS memimpin kominfo, berarti 12 bulan x 28,000 x jumlah ASN Kominfo. Ditambah ongkos Go Clean. Harga yang sangat besar yang harus dibayar untuk mencuci otak pegawai. Kira-kira cukuplah untuk membeli cilok dalam setahun lalu disumbangkan ke warga Palu.

Beruntung yang dipakai rinso, deterjen yang bisa mencuci sendiri tanpa bantuan bahan pembersih pendukung lainnya. Jadi lebih irit. Karena dengar-dengar si rinso ini kalau dicampur dengan bahan pembersih lainnya kerjanya jadi tidak optimal. Harusnya ia bisa mencuci sendiri, pas dicampur sama yang lain malah asik ngobrol. Payah deh 😑

 

Jadi, menyalahkan PKS atas gagalnya program “berkampanye” para pendukung petahana itu jelas merupakan hal yang spektakuler yang tidak mungkin bisa ada dalam pemikiran manusia pendukung manusia biasa.

PKS itu partai kecil menengah, daripada duitnya buat nyuci-nyuci mendingin dipakai buat piknik bersama kader-kadernya yang terkenal tangguh dan militan menghabisi lumbung suara petahana di kota-kota besar. 😎

Gak percaya?! Lihat ajah nanti…😛

 

Tiffatul Sembiring, mantan menkominfo, selaku yang dituduh memimpin program pencucian otak ASN Kominfo ini juga sudah bersuara. Beliau menantang kubu penuduh untuk membuktikan adanya satu orang saja ASN Kominfo yang diajak beliau masuk PKS saat beliau menjadi Menkominfo. Yang mampu membuktikan dapat 10 juta lohhhh. Lumayan banget kan buat jajan sempol sebulan. Ayo ikutan! 😇

 

Tapi ya seharusnya Tiffatul tak perlu baper seperti ini. Kan sudah biasa juga mendengar dan melihat PKS selalu dikait-salahkan terhadap kegaduhan apapun yang timbul di negeri ini. Mungkin menyalahkan PKS merupakan puncak dari ke-kaffah-an militansi dan eksistensi setiap pendukung petahana. Jadi ya harusnya sudah benar-benar terasa biasa seperti ini.

 

Termasuk kalau kedepan nanti ada yang bilang bahwa udang yang matil tangan presiden sampai betdarah-darah adalah hasil budidaya kader PKS. PKS lewat retorika dan propaganda licinnya berhasil mencuci OTAK UDANG agar langsung ngamuk dan mematil tangan Jokowi saat tersentuh. Baik tersentuh dengan sengaja maupun tidak, pokoknya hajar!

Padahal jika kita mau berpikir sebelum menyalahkan orang lain, cobalah kasih tahu dulu khalayak:

“Dimanakah letak patil pada Udang?”

 

  • Bagikan
-->