Golput: Golongan yang Pantas Dijadikan Musuh Bersama Atau Kawan Baru?

  • Bagikan

Kamu 17 April mau kemana? Dengan siapa dan mau berbuat apa?
Bagaimana, sudah dibeli tiket travelling untuk tanggal 17 April? Beli paketan yang berapa?
Nanti tanggal 17 April, ba’da shubuh pasca sholat lalu berdo’a minta jodoh, aku mau nenggak pil tidur. Biar bangun-bangun udah dzuhur!
17 April mau Kunci pintu. Matikan tv. Pasang headset. Apa?! Ada Pemilu?! Do’aaaa……mat!

Kira-kira begitulah bunyi postingan beberapa kawan yang sudah mengambil ancang-ancang untuk tidak terbawa arus mengikuti hiruk pikuk pesta demokrasi tahun ini. Mereka yang beranggapan bahwa “tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan” semakin memantapkan hati untuk berdiri di pinggiran. Di luar gelanggang. Bahkan beberapa mulai menancapkan gigi, melebarkan sayap sambil (tentu saja) menjulurkan lidah memperkuat basis massa dengan menampung barisan sakit hati kaum oposan dan pendukung petahana.

Sekedar informasi, dulu saya juga termasuk golongan orang yang mengutuk keberadaan kelompok mereka. Bagi saya, Golput alias golongan putih a.k.a kaum yang tidak mau (bukan tidak bisa!) memilih adalah golongan pengecut yang tidak mau menerima konsekuensi sebuah pilihan. Bagaimana mungkin mereka tidak mau memilih di dalam sistem yang menang kalahnya ditentukan oleh sebuah pilihan? Dan bagaimana mungkin mereka begitu tak tahu diri, tidak memilih namun tetap kritis meminta perbaikan di sana sini. Ikut milih kagak, tapi rewel. Gak ikut menangin pemimpin tapi mau ikut menuntut ini-itu. Tidak sudi berdemokrasi tapi mau menikmati hasilnya. *sigh

Mereka ini kaum yang mau enaknya sendiri. Merasa bebas koar sana sini, menghantam sana-sini, tapi giliran dapat serangan balik dari kubu sana-sini merasa terdzholimi sambil belagak bilang: “musuh kalian bukan kami loh…”

Bagaimana mungkin juga orang yang kerjanya menghajar sana-sini tapi gak mau dianggap musuh siapapun. Yang ada golput itu ya musuh bersama. Para pemilih wajib bersatu melawan golongan ini. Agar mereka tidak berbuat sekehendaknya, menggerus suara dan menurunkan tingkat partisipasi pemilih sehingga makin banyak yang menganggap mega proyek pil-pilan ini tiada guna, hanya menghabiskan anggaran negara. Ya nggak?!

Tapi,,,,,

Dimulai dari rasa sakit hati karena “rumah” saya diludahi, saya pun mulai mengobarkan rasa kecewa yang dalam. Menanggung rasa ingin pergi lalu berlari namun tak bisa kemana-mana lagi itu tak mampu membendung jeritan yang seharusnya hanya dikubur dalam hati. Tapi itulah, tak semua orang punya sikap dewasa dalam berpolitik. Ada juga yang kekanak-kanakan dan kagetan, ya macam saya ini. Hehehe…

Dari situ saya mulai memperhatikan dan membuka komunikasi dengan banyak pihak. Meredam luka hati dengan berusaha berdiri di tengah-tengah saja. Menjadi moderat dalam artian secara harfiah untuk kontestasi pilpres.

Saya pun mulai membaca curahan hati beberapa kawan golputer. Mencoba memahami mengapa mereka sampai golput. Ternyata golputer ini juga macam-macam tipenya. Ada yang golput dari lahir (golput sejak punya hak pilih) ada juga yang dulu getol memilih namun sekarang memutuskan untuk golput.

Kali ini saya tidak ingin membahas tipe golput dari lahir. Karena ya percuma. Alasannya pasti itu-itu saja. Dari mulai menunggu tegaknya khilafah sampai menunggu alam sejahtera lalu buruh dan petani bahagia baru mau milih, terserahlah!

Saya akan mencoba menunjukan beberapa opini yang saya saring dari informasi yang diberikan oleh kaum golputer baru dari kedua belah kubu.

Kita mulai dari kubu “Dulu Prabower, terus kecewa tapi gak mau jadi Jokower” (Naudzubillah katanya, 😅)

1. Pemilihan cawapres

Tidak terpilihnya cawapres dari kalangan ulama membuat sebagian pemilih meragukan komitmen Prabowo terhadap pengentasan kasus-kasus penistaan terhadap agama dan ulama. Prabowo sebagai capres yang digadang-gadang sebagai pilihan ulama nyatanya menolak didampingi oleh ulama yang direkomendasikan para ulama untuk menjadi wakilnya.

Ditambah lagi sikapnya yang membiarkan keponakannya meng-upload video joged-joged nya ketika ikut merayakan natal, sungguh bagai menaburi garam di luka para konstituennya yang sejak dulu gigih mendakwahkan umat muslim agar tidak ikut-ikutan memberikan ucapan selamat natal. Tapi ini udah ikut merayakan, diupload ke publik lagi. Perihhh gan 😧

2. Kemelut wagub DKI Jakarta

Terpilihnya Sandiaga Uno menjadi cawapres Prabowo meninggalkan kekosongan kursi wagub DKI Jakarta. Secara etika politik, posisi ini harusnya diisi oleh PKS, rekan koalisi Gerindra di Pilgub DKI yang memenangkan pasangan Anies-Sandi. Namun seorang kader Gerindra bernama Taufik, yang juga mantan koruptor berani merong-rong untuk mendapatkan posisi tersebut.

Dan Prabowo sebagai seorang jenderal yang dielu-elukan keberanian dan kejantanannya nyatanya tak mampu membuat Taufik berhenti menyalak dan malah membuat posisi wagub kosong hingga saat ini sambil mengabaikan hak kawan koalisi. Yang begini mau dipilih? Lawan Taufik ajah keok apalagi dikerubungi 9 nagaaaa. Bye-bye deh!

3. Penyebaran berita tanpa data

Kalo soal omongon Prabowo tentang driver gojek sama tampang boyolali mah gak cukup buat bikin orang balik badan. Wong semua yang mau mikir pasti paham koq kalau itu yang satunya cuma guyonan, satunya lagi merupakan ungkapan bentuk keprihatinan.

Beda halnya dengan klaim Prabowo yang bilang bahwa selang pencuci darah dipakai massal oleh 40 orang pasien di RSCM. Sontak RSCM berang dan meminta Prabowo dan tim menunjukan bukti tuduhan mereka. Entah siapa yang bisikan Mr. Prabs tentang hoax ini. Fatal pokoknya.

Sialnya, ketika debat kandidat kemarin, Prabowo menyebutkan bahwa masih banyak dokter di Indonesia yang bergaji lebih rendah dari tukang parkir. Eh ternyata pernyataan ini didukung IDI alias Ikatan Dokter Indonesia lohhh. Karena kenyataannya, masih banyak dokter yang digaji kurang dari Rp 3 juta/bulan.

Sayang pernyataan Prabowo yang sesuai fakta ini malah dianulir sama timses. Dikasih narasi dan pembelokan sana-sini jadi malah melenceng dari esensi. Asyemmmm.

Ditambah kasus Ratna Sarumpaet yang menipunya bulat-bulat, kayaknya timses Prabowo tidak lagi berhak bernama timses. Ganti dengan timgal alias tim gagal.

So, gak heran kalau sekarang ada yang bilang: “Mari timgalkan saja Ia…”

Segitu dulu tentang Prabowo yang bikin orang ingin golput. Penulis khawatir wajannya gak cukup kuat buat menahan timpukan bin sambitan dari sahabat-sahabatnya yang jadi die hard-nya Prabowo. 😭

Sekarang kita bahas kubu satunya. Yaitu “kubu yang dulu Jokower, tapi kecewa namun gak sudi pindah jadi Prabower.” (Amit-amit katanya, 😛)

1. Pemilihan cawapres

Sama hal-nya dengan sebagian Prabower, beberapa Jokower juga banyak yang kecewa atas terpilihnya KH. Ma’aruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Menurut mereka, bagaimana mungkin Jokowi menggamit tangan seorang yang menjadi juru kunci terpidananya idola mereka atas kasus penistaan agama? Bagaimana mungkin mereka yang menjunjung tinggi pluralisme harus memilih sosok yang mereka kenal sebagai yang anti keberagaman atas sepak terjangnya dibeberapa kasus konflik antar umat beragama?! Amsyonggg lah. Kita golput saja 😑, katanya.

2. Proyek infrastruktur yang amburadul.

Infrastruktur yang seharusnya menjadi prestasi terbaik pemerintahan Jokowi nyatanya juga menyisakan ketidakbecusan. Dimulai dari mangkraknya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang dibangun dari hutang dengan jaminan 4 BUMN Indonesia. Bikin jalan tol yang kece badai, tapi pas jadi koq malah dijual ke pihak swasta dan asing yang bikin tarifnya jadi mahal. Plus kualitas infrastruktur kebutan yang morat-marit, ditandai dengan rubuhnya tiang LRT Jakarta di beberapa titik.

Kita bikin apa-apa dari hutang udah jadi terus dijual buat bayar hutang, lantas kedepannya bakal dapat apa? Warisan hutang? Duh,,

3. Pemberian remisi kepada yang tak layak

Setidaknya ada 2 orang yang dianggap khalayak tidak layak mrndapatkan remisi.

Yang pertama adalah I Nyoman Susrama, terpidana yang menjadi otak pembunuh berencana wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, pada tahun 2009. Susrama yang seharusnya mendapat hukuman penjara seumur hidup mendapat remisi menjadi hanya dihukum 20 tahun saja. Berarti 10 tahun kedepan, Susrama akan bebas.

Jelas hal ini dikecam oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan para pendukungnya. Remisi ini menjadi bukti ketidakpekaan Jokowi terhadap hal-hal yang mengancam kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia. Keputusan Jokowi yang menyampingkan rasa keadilan terhadap keluarga korban ini membuat beliau kali ini dinobatkan sebagai musuh kebebasan pers Indonesia.

So, masih mau dipilih yang begini?

Yang kedua adalah remisi terhadap terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba’asyir. Kasus kedua ini mendapat gelombang penolakan yang lebih besar.

Lagi-lagi masalah ketidakpekaan terhadap rasa keadilan keluarga korban menambah goyahnya keyakinan para pendukung akan komitmen Jokowi untuk memberantas kelompok teroris di Indonesia. Buktinya ABB yang menjadi gembong pergerakan Jamaah Islamiyah koq malah dapat remisi. Yakin beliau gak bakalan berulah lagi? Kaum mendadak dangdut *eh golput pun bermunculan.

Rasa kemanusiaan yang menjadi alasan Jokowi untuk memberikan remisi terhadap ABB pun mendapat serangan telak dari kubu oposan yang menganggap hal tersebut hanyalah sebagai pencitraan untuk memperluas dukungan.

Kabar terakhir, malah remisi ini dibatalkan. Jokowi dan Yusril yang diawal begitu jumawa melancarkan rencana aksi pembebasan ABB yang katanya ada ditangannya (Ya Allah~) ciut juga nyalinya ketika gelombang pemilihnya balik badan dan meneriakan ancaman golput. Hahaha.

“Mbak-mbak, kowe tuh jangan apa-apa dikaitin sama politiklah, mosok gak bisa lihat kalo Jokowi itu orang baik yang punya niatan baik gitu loh?!”

Gini ya, kalo remisi ABB yang sengaja diviralkan di tahun politik menjelang injury time tidak boleh disangka sebagai langkah politik untuk memperkuat dukungan kaum muslimin namun ternyata blunder, myatamu ajah yang burem!😒

4. Janji kampanye yang tidak ditepati

Ini mah buanyakkk buktinya. Jejak digitalnya pun bertebaran. Dimulai dari janji anti impor koq malah jadi raja impor. Mencintai kaum demonstran namun malah kabur ketika di demo. Penuntasan kasus Munir yang gak jadi-jadi. Bagi-bagi kue kekuasaan yang sangat kasat mata. Penyediaan 10ribu lapangan kerja yang ternya gojek-an saja. Pertamina yang cenderung stagnan, Indosat yang tak terbeli lagi, tol laut yang makin menjauhi bayangan, sektor pertanian yang makin mangkrak, dan lainnya silahkan di googling sendiri.

Dan dengan entengnya beliau malah ngeledek lawannya dengan bilang gak punya beban di masa lalu. Lahhh, itu janji kampanye yang tidak atau belum ditepati apa gak dianggap beban? Ingkar janji dunk namanya. Yang begini minta 2 periode?! Ampoooon, Gusti 🙍

Nah, itulah kira-kira yang bisa saya rangkum mengenai penyebab menjamurnya golputer di pemilu tahun ini. Kalo udah tauk kayak gini, kamu masih anggap mereka musuh bersama gak? Hehehe. Tapi jangan gara-gara tulisan ini kamu juga malah jadi ikutan golput ya. Mosok kamu tega? Sungguh ku tak mau disalahkan. Silahkan pikirkan dengan matang. Karena semua keputusan ada di tanganmu loh gaes, mau pilih 01 silahkan, mau pilih 02 ya monggo…

Mau gak pilih keduanya silahkan, mau dipilih keduanya juga silahkannn *eh 🙊🙈

  • Bagikan
-->