Malaysia Banjir Mengancam RI, Ini Faktanya

  • Bagikan
finroll malaysia banjir mengancam ri, ini faktanya
finroll malaysia banjir mengancam ri, ini faktanya

Malaysia saat ini sedang mengalami bencana banjir besar. Banjir tersebut meliputi hampir delapan negara bagian dan memaksa pemerintah Negeri Jiran itu untuk melakukan evakuasi terhadap puluhan ribu penduduk.

Analis dan ilmuwan berpendapat bencana tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena La Nina, pola cuaca yang kompleks yang terjadi di wilayah samudra Pasifik. Lalu apa sebenarnya La Nina?

La Nina sering dikaitkan dengan maraknya fenomena banjir bandang, angin topan hingga tanah longsor yang terjadi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Untuk memahami La Nina dan dampak yang ditimbulkan perlu untuk mengerti bagaimana fluktuasi fenomena iklim di wilayah tropis dekat samudera Pasifik terjadi atau lebih dikenal sebagai ENSO (El Niño-Southern Oscillation).

ENSO memiliki tiga fase utama yakni netral, La Nina dan El Nino. Secara alami di wilayah ekuator atau dekat khatulistiwa terdapat pola aliran angin yang bergerak mengelilingi bumi dari timur ke barat. Ini dikenal sebagai angin pasat (trade wind).

Samudera Pasifik yang memiliki wilayah luar biasa luas memiliki air dengan temperatur hangat di bagian atas dekat permukaan akibat terpapar sinar matahari, mengingat wilayah ekuator adalah bagian bumi dengan paparan sinar matahari paling banyak. Angin pasat yang lebih kencang menyebabkan air hangat di permukaan samudera Pasifik ikut terbawa lebih besar dari biasanya (kondisi netral) ke wilayah timur mendekati Indonesia, Filipina, Australia dan Selandia Baru.

Permukaan air laut yang lebih hangat menyebabkan penguapan terjadi lebih cepat, evaporasi air lain tersebut kelak menjadi awal dan ketika jenuh akan menimbulkan fenomena hujan. Membludaknya air hangat di permukaan laut bagian barat Pasifik (Indonesia dan negara tetangga), memberikan bahan bakar lebih banyak dalam proses terbentuknya hujan, sehingga curah hujan meningkat dengan frekuensi yang ikut bertambah.

Selain itu meningkatnya angin pasat ke arah barat juga menyebabkan badai kencang di wilayah Asia Tenggara. Hujan lebat yang terjadi dalam frekuensi yang semakin sering pada akhirnya menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah.

Sebaliknya ketika angin pasat lebih lemah dari biasanya, air hangat kini terkonsentrasi di bagian timur samudera Pasifik, atau dekat wilayah Amerika Selatan dan ikut mempengaruhi sebagian kawasan Amerika Serikat. Di dekat wilayah Indonesia dan negara tetangga, air hangat permukaan yang tersapu ke wilayah barat Pasifik digantikan oleh air dingin yang naik dari bagian laut yang lebih dalam, menjadikan air permukaan menjadi dingin.

Air dingin tersebut menjadikan penguapan lebih lambat dari biasanya. Evaporasi yang rendah menyebabkan awan yang terbentuk sedikit sehingga matahari menjadi jauh lebih terik hujan menjadi semakin jarang terbentuk atau dikenal juga sebagai El Nino.

Fenomena tersebut akhirnya menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah Asia Tenggara, yang dapat berakit pada gagal panen. Selain itu, gelombang panas yang terjadi juga dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan gambut.

Secara harfiah El Nino dan La Nina masing-masing berarti anal laki-laki dan anak perempuan dari bahasa Spanyol. Meskipun dampak paling besar dirasakan di dekat wilayah khatulistiwa, secara umum fenomena El Nino dan La Nina dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia baik secara langsung melalui kondisi cuaca atau secara tidak langsung akibat dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.

amalan perkembangan kondisi Samudra Pasifik sendiri dilakukan dalam beberapa cara. Model dinamis kompleks, model perkiraan statistik hingga analisis ahli metereologi dijadikan pertimbangan dalam menafsirkan implikasi dari situasi yang berkembang di bawah permukaan laut, dan konsekuensi lebih luas terhadap pembentukan cuaca.

Data meteorologi dan oseanografi yang memungkinkan terjadinya El Nio dan La Niña, pantauan dan ramalannya diambil dari sistem pengamatan nasional dan internasional. Pertukaran dan pemrosesan data dilakukan di bawah program yang dikoordinasikan oleh Organisasi Metereologi Dunia (World Meteorological Organization /WMO).

Melalui rilis di laman resminya, WMO mengatakan kondisi La Niña telah berkembang di Pasifik, dengan indikator samudera dan atmosfer telah mencapai ambang batas yang ditentukan selama periode September-Oktober tahun ini.

“Prakiraan terbaru dari WMO Global Producing Centers of Long-Range Forecasts menunjukkan kemungkinan tinggi (90%) suhu permukaan laut Pasifik tropis tetap berada di tingkat La Niña hingga akhir 2021, dan peluang sedang (70-80%) untuk bertahan di tingkat La Nia hingga kuartal pertama tahun 2022,” tulis WMO.

WMO menambahkan bahwa sebagian besar model menunjukkan bahwa La Niña periode kali ini (2021/2022) kemungkinan akan menjadi peristiwa yang lemah hingga sedang. Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHS) akan memantau dengan cermat perubahan keadaan El Niño/Osilasi Selatan (ENSO) selama beberapa bulan mendatang dan memberikan pandangan terbaru.

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga telah menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap kedatangan La-Nina menjelang akhir 2021. Monitoring terhadap perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menunjukkan, saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina.

Hasil kajian BMKG memperkirakan La Nina tahun ini relatif sama dan akan berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20-70% di atas normalnya. Curah hujan mengalami peningkatan pada November hingga Januari terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.

Akibat kondisi ini BMKG memprediksi curah hujan semakin meningkat di Jawa, Bali, NTB, NTT pada Desember 2021. Meski sebagian daerah diprediksi mengalami dampak La Nina, sehingga mengalami peningkatan curah hujan, ada beberapa daerah yang justru kekurangan air karena intensitas hujan menurun, seperti Sumatera yang curah hujan sporadis dan Kalimantan Barat.

Selain dampak La Nina, perlu diwaspadai badai tropis yang sering terjadi pada Januari-Februari yang muncul di wilayah NTT. Fenomena La Niña dapat berulang setiap beberapa tahun (2-7 tahun) dan dapat bertahan dari beberapa bulan hingga dua tahun.

Sumber : cnbcindonesia.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->