Selasa, 2 Maret 2021

Satu Tahun Corona di RI: 1,3 Juta Positif, 36.325 Meninggal


Satu tahun masa pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia, jumlah korban meninggal mencapai 36.325 orang. Data tersebut merupakan data yang dihimpun Satgas penanganan Covid-19 hingga 1 Maret 2020.

Tepat setahun lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan pertama kali, dua kasus positif Covid di Indonesia.

Provinsi Jawa Timur menempati posisi teratas jumlah kematian tertinggi dengan angka 9.147 kasus, disusul Jawa Tengah 6.689 kasus, dan DKI Jakarta 5.540 kasus. Di Jawa Barat, Angka kematian mencapai 2.364 kasus.

Sementara, jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga hari ini, mencapai 1.341.314 kasus. Sedangkan untuk perkembangan pasien sembuh jumlahnya 1.151.915 orang.

Sementara, jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga hari ini, mencapai 1.341.314 kasus. Sedangkan untuk perkembangan pasien sembuh jumlahnya 1.151.915 orang.

Pemberian Vaksin Covid-19 Tekan Penularan

Pemerintah telah berupaya untuk menekan laju penularan virus corona dengan memberikan vaksin Covid-19. Per 1 Maret 2021, sebanyak 1.720.523 orang telah menerima vaksin. Dari jumlah penerima total vaksin, angka sasaran vaksinasi Tenaga Kesehatan sebanyak 1.468.764 orang, sementara untuk total keseluruhan sasaran vaksinasi Covid-19, berjumlah 181.554.465 orang.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan sejumlah kebijakan pembatasan, seperti penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa Bali, dan kini PPKM mikro. Pemerintah telah memperpanjang PPKM mikro tahap dua, sejak 23 Februari dan akan berakhir 8 Maret 2021.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan tingkat kepatuhan masyarakat sejak pemberlakuan PPKM Mikro juga meningkat.

“Kabupaten/kota yang sudah patuh memakai masker melebihi 75 persen atau sebanyak 284 kabupaten/kota,”kata Wiku, 21 Februari silam.

Namun, yang menjadi catatan, masih terdapat 99 kabupaten/kota dengan kepatuhan di kisaran 61 – 75 persen. Bahkan terdapat 71 kabupaten/kota kurang dari 60 persen.

Lalu, pada kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan, didominasi kabupaten/kota dengan tingkat kepatuhan melebihi 75 persen yaitu sebnyak 275 kabupaten/kota. Meski demikian, masih terdapat kabupaten/kota dengan tingkat kepatuhan 61 – 75 persen atau 105 kabupaten/kota. Bahkan terdapat 74 kabupaten/kota dengan tingkat kepatuhan di bawah 60 persen.

Jababeka industrial Estate

Potensi Penyebaran Tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, “potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi.”

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke “stadium 4”.

“Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab,” ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi ‘kiblat’ tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women’s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

BACAAN TERKAIT