Kamis, 25 Oktober 2018

Harap-harap Cemas Nasib Proyek Pesawat Tempur KF-X/IF-X


Finroll.com – Republik Indonesia adalah sebuah negara besar yang membentang dari kota Sabang di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) hingga kota Merauke di Papua, berarti jika ditarik garis lurus jaraknya tidak kurang dari 5.200 km, jarak yang lebih jauh dari kota London di Inggris hingga kota Mekah di Arab Saudi. Sedemikian besarnya wilayah negeri yang subur dan melimpah sumber daya alamnya ini tentunya membutuhkan kekuatan pertahanan negara yang dapat diandalkan.

Selain pertahanan yang mumpuni pada matra darat dan laut, pertahanan yang kokoh pada matra udara juga mutlak diperlukan apalagi Indonesia berada di posisi silang antara dua benua dan dua samudera serta diapit oleh beberapa negara sekaligus kekuatan politik dan ideologi yang cukup beragam. Lalu lintas kapal laut dan pesawat terbang yang melintasi Indonesia terbilang sibuk, baik itu untuk kepentingan sipil, perdagangan maupun militer. Kedua jalur transportasi tersebut harus selalu dipantau karena memiliki banyak potensi dan dampak merugikan jika pengawasan dan pertahanannya lemah.

Untuk menjawab tantangan pertahanan udara tersebut, TNI harus berbenah diri, salah satunya dengan memodernisasi alut sista pada tiga matra, dalam konteks ini yang paling berperan adalah kemampuan dan profesionalisme TNI Angkatan Udara (AU). Kebutuhan peremajaan dan penguatan postur 8 skuadron tempur TNI AU harus segera terpenuhi, masing-masing skuadron diproyeksikan memiliki 16 pesawat tempur, demikian pula alut sista dan perlengkapan pendukung lain seperti radar yang lebih luas jangkauannya, karena jika tidak maka kemampuan para penjaga udara Indonesia tidak akan optimal dan mudah dipenetrasi oleh pihak asing.

Wilayah udara Indonesia
Wilayah udara Indonesia

Para penerbang tempur dan pesawatnya adalah garda terdepan penjaga wilayah udara RI. Mungkin kita sering mendengar ada banyak kasus pelanggaran wilayah udara RI oleh pesawat sipil maupun militer dan keberhasilan para penerbang TNI AU untuk mencegat dan menghalau mereka keluar dari wilayah kedaulatan udara RI yang luasnya tidak kurang dari 5,4 juta kilometer persegi.

Sayangnya jumlah pesawat tempur yang dimiliki TNI AU belumlah ideal untuk mengawasi dan mempertahankan wilayah seluas itu. Saat ini TNI AU memiliki sekitar 90 pesawat tempur dari berbagai tipe, mulai dari light attack, fighter dan multirole, sebagian sudah berusia cukup tua, berarti TNI AU masih kekurangan sekitar 40 pesawat tempur.

Kebutuhan pesawat tempur tambahan hanyalah salah satu alasan dari langkah pemerintah Indonesia dan TNI AU untuk terus berusaha memperkuat postur pasukan Gatot Kaca dengan berbagai cara yang mungkin untuk ditempuh. Alasan dana juga politis seperti ancaman embargo Amerika Serikat (AS) juga menjadi dasar pemikiran bahwa negara besar ini harus dapat mandiri dan mendiversifikasi alut sistanya, jadi tidak hanya bergantung kepada AS seperti di masa Orde Baru.

Merajut Kekuatan Angkasa dengan Proyek KF-X/IF-X

Salah satu langkah strategis yang dijalankan oleh TNI AU adalah bekerja sama dengan Republic of Korea Air Force(ROKAF) atau angkatan udara Korea Selatan (Korsel) pada proyek pesawat tempur yang diprakarsai oleh Korean Aerospace Industries Korean Fighter-eXperiment/Indonesian Fighter-eXperiment (KAI KF-X/IF-X), pesawat tempur canggih multi peran (advanced multirole fighter) generasi ke-5 yang melibatkan kemampuan para ahli bidang penerbangan dari Agency for Defense Development (ADD), Korea Aerospace Industries (KAI), Lockheed Martin dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Proyek KF-X pertama kali diumumkan pada Maret 2001, kemudian Indonesia menyatakan diri bergabung pada Juli 2010 dan disepakati akan diproduksi 150 hingga 200 pesawat di mana Indonesia mendapat jatah 50 pesawat. Kemampuan KF-X/IF-X diyakini bakal lebih baik dari jet tempur andalan beberapa negara di Eropa yaitu Dassault Rafale dan Eurofighter Typhoon namun untuk kemampuan stealth (siluman, tidak terdeteksi radar) masih di bawah F-35 Lightning besutan Lockheed Martin.

KF-X/IF-X yang dirancang menjadi pesawat tempur single-seat (satu tempat duduk/pilot), kelak akan dibuat juga versi twin-seat (dua tempat duduk), dan ditopang oleh twin jet (mesin ganda) juga berpotensi mengalahkan kemampuan pesawat tempur legendaris asal AS yaitu F-16 karena radius tempurnya 50% lebih luas dari F-16 dan memiliki avionic (elektronika penerbangan) yang lebih baik dari pesawat tempur buatan General Dynamics tersebut yang masih digunakan oleh ROKAF dan TNI AU saat ini.

Jababeka industrial Estate
pesawat tempur
Spesifikasi pesawat tempur KF-X/IF-X dari PT Dirgantara Indonesia

Singkatnya, KF-X/IF-X diproyeksikan menjadi tulang punggung para ksatria penjaga angkasa Indonesia, mendampingi pesawat tempur lain terutama jenis Sukhoi buatan Rusia. Selain itu, meskipun pada proyek prestisius ini Indonesia hanya menjadi mitra junior, pembangunan dan pengembangan pesawat ini diharapkan dapat juga menjadi jembatan untuk alih teknologi.

Bukan hanya teknologi Korsel yang dapat diserap oleh sekitar 100 hingga 200 pakar teknologi dirgantara Indonesia yang bakal diterjunkan di dalam proyek tersebut namun mungkin juga teknologi AS karena Lockheed Martin juga terlibat di dalamnya sebagai mitra utama dan pesawat masa depan ini bakal didorong oleh mesin General Electric, produsen mesin pesawat asal AS, meskipun pernah disebut mesin Hanwha Techwin F414-KI buatan Korsel akan disematkan di tubuh pesawat yang ramping ini.

Hambatan Dana Mulai Menghantui Impian Indonesia untuk Miliki KF-X/IF-X

AFP mengabarkan pada 22 Oktober 2018 bahwa proyek tersebut menelan biaya senilai $7 miliar atau sekitar 105 triliun rupiah (kurs 1 dolar AS = Rp 15.000) dan cost share agreement menyebut Seoul harus menanggung 80% sedangkan Jakarta berkewajiban mendanai 20% dari total pembiayaan proyek tersebut. Dalam skema kerja sama yang ditandatangani pada tahun 2016, total biaya yang menjadi kewajiban Indonesia dalam kerja sama tersebut berada pada kisaran 18 hingga 21,6 triliun rupiah.

Dari kesepakatan tersebut, Korsel akan mendapat jatah empat purwarupa (prototype) jet tempur itu sedangkan Indonesia mendapat satu unit purwarupa. Pada dua tahap perjanjian kerja sama yang disepakati di tahun 2015 dan 2016, Indonesia merancang pembentukan beberapa skuadron tempur KF-X/IF-X.

Namun seiring berjalannya waktu, rupiah terus tertekan terhadap dolar AS sejak April sehingga masalah dana mulai menghantui keterlibatan Indonesia di dalam proyek ini. Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (Defense Acquisition Program Administration/DAPA) yang mengurus pembelian alut sista menyatakan pada awal pekan ini bahwa Indonesia belum membayar kewajibannya.

Akhirnya Menko Polhukam Wiranto pun segera membentuk tim gabungan untuk berunding dengan Korsel. Pembahasan ulang klausul kerja sama pesawat tempur yang diharapkan dapat terbang perdana pada tahun 2022 itu ditargetkan rampung setidaknya dalam satu tahun ke depan.

“Dengan kondisi ekonomi nasional, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk merenegosiasi persetujuan itu,” kata Wiranto.

pesawat tempur
Model pesawat tempur KF-X

Sebelumnya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyebut kerja sama pesawat KF-X/IF-X dengan Korsel ini dapat membebani APBN dan menyedot banyak cadangan devisa Indonesia.

“Beban kepada APBN cukup besar, apalagi jangka panjang. Terus terang puluhan triliun dan kalau beli puluhan unit (pesawat tempur) bisa sampai ratusan triliun,” kata Lembong seperti diwartakan oleh BBC pada 23 Oktober 2018.

Pun demikian, juru bicara DAPA menekankan bahwa proyek dua negara sahabat itu akan berlanjut dan ditargetkan pesawat tempur yang dirancang untuk memiliki kecepatan Mach 1,97 alias hampir dua kali kecepatan suara itu akan dapat beroperasi sesuai rencana semula yaitu pada tahun 2026.

Meskipun Indonesia dapat membatalkan keikutsertaannya pada proyek tersebut dan mengalihkan dana untuk membeli pesawat tempur canggih dari negara lain, tentunya akan lebih baik jika mulai dari sekarang Indonesia terus berupaya untuk bergabung dalam setiap proyek alut sista dengan negara yang lebih maju dan bersedia memberikan kesempatan untuk alih teknologi demi kemandirian kemampuan pertahanan dan keamanan bangsa ini di masa depan.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT