Senin, 22 Oktober 2018

Belajar Dari Augie Fantinus, Sembarangan Posting Video di Sosmed Bisa Masuk Penjara


Finroll.com – Artis Augie Fantinus kini harus mendekam di tahanan rutan Polda Metro Jaya akibat memposing video di Instagram.

Augie disangkakan melanggar Undang-Undang ITE karena menuding anggota polisi sebagai calo tiket Asian Para Games lewat akun media sosial.

Augie yang merupakan presenter itu mengunggah video tudingan tersebut di akun Instagram @augiefantinus pada Kamis (11/10). Dalam unggahannya, mantan manajer Timnas Basket Indonesia itu menuliskan keterangan bahwa dia hendak menonton Timnas basket kursi roda. Antrean pembelian tiket pun diakuinya cukup panjang.

Namun, Augie mengaku kecewa dengan dua orang berseragam polisi yang disebutnya sebagai calo, karena bukan melayani dan menjaga masyarakat. Postingan Augie pun membuat heboh.

Karena merasa namanya dicemarkan, anggota polisi yang ada di dalam video itu membuat laporan. Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya langsung melakukan penyelidikan.

Pada Jumat (12/10), video tersebut sudah tidak ada di @augiefantinus. Tak perlu menunggu waktu hingga 1×24 jam, polisi menetapkan Augie sebagai tersangka dan kemudian menahannya hingga 20 hari ke depan.

Polisi meyakini memiliki cukup bukti untuk menetapkan Augie sebagai tersangka. Rekaman video serta telepon genggam milik Augie disita polisi.

Hasil Penyelidikan

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membantah tudingan Augie bahwa ada polisi yang menjadi calo ticket Asian Para Games.

Menurut Argo, angota polisi tersebut hanya membantu siswa SD Tarakanita membeli 100 tiket untuk menonton pertandingan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi dari pihak SD Tarakanita, Inapgoc dan keterangan anggota polisi dalam video itu, penyidik menyimpulkan tudingan Augie tidak dapat dibuktikan.

CIMB NIAGA

Awalnya, Argo menjelaskan, pada saat itu terjadi antrean panjang di loket penjualan tiket. Akhirnya, panitia memutuskan untuk menutup loket penjualan tiket sementara karena khawatir tidak ada lagi kursi bagi yang mereka telah mengantre panjang.

Kemudian, lanjutnya, siswa dari SD Tarakanita menghampiri kedua polisi tersebut dan meminta tolong untuk membelikan 100 tiket. Dari 100 tiket yang sudah dibeli, didapati kelebihan sebanyak lima tiket. Polisi pun memutuskan untuk refund tiket tersebut, tetapi justru tidak bisa.

“Setelah dibantu, sudah dapat tiket itu, dikasih ke siswa SD Tarakanita, ternyata ada kelebihan lima tiket, kira-kira ada di-refund supaya dikembalikan duitnya. Kemudian anggota ke ticket box, anggota bawa lima untuk di-refund, ternyata enggak bisa,” ujar Argo.

Jurnalisme warga

Tindakan polisi terhadap penahanan Augie dinilai bertolak belakang dengan permintaan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 2017 lalu. Saat itu, Tito menyampaikan masyarakat boleh melaporkan polisi yang terlibat aksi pungli. Bahkan, dia tidak mempersoalkan jika laporan itu dilakukan via media sosial bahkan di-viral-kan.

Menurut Tito kala itu, laporan masyarakat melalui media sosial merupakan bagian dari citizen journalism atau jurnalisme warga.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan mengatakan melaporkan melalui media sosial memang tidak menjadi masalah. Namun, terdapat catatan penting yang harus diingat, laporan harus didasari dengan fakta.

Menurut Adi, kasus Augie merupakan salah satu contoh laporan tanpa bukti atau fakta yang benar sehingga mengakibatkan berujung fitnah kepada polisi yang dituding sebagai calo.

“Melaporkan itu didasari informasi yang benar karena apabila tidak (benar) maka itu fitnah,” ujar Adi.

Maka itu, kata Adi, Augie pun dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto pasal 27 ayat 3 UU ITE dan Pasal 310 ayat 1 juncto Pasal 311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik.

 

source cnn

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT