Sabtu, 12 Januari 2019

Jelang Debat Pilpres Tim Gabungan Kasus Novel Baswedan Dibentuk, Adakah Hubungannya?


Sejumlah pihak menduga pembentukan Tim Gabungan kasus Novel Baswedan sebagai persiapan Presiden Joko Widodo dalam debat pertama pemilihan presiden 2019. 

Finroll.com – Polri telah membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pembentukan tim gabungan tersebut berdasarkan surat perintah pada Selasa, 8 Januari 2019 dengan ditandatangani langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Pembentukan tim gabungan ini berdasarkan Surat Tugas (ST) dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019. Dalam surat tersebut, ada 65 anggota yang dipimpin langsung oleh Tito, selain dari polisi juga ada dari pihak KPK sebanyak lima orang.

Kemudian dari pihak luar Polri-KPK juga ada tim pakar sebanyak tujuh orang yakni mantan Wakil Ketua KPK, Indriyanto Seno Adji, peneliti LIPI, Hermawan Sulistyo, Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia, Amzulian Rifai, Ketua Badan SETARA Institute, Hendardi, Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, dan Komisioner Komnas HAM periode 2007-2012, Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.

Terkait pembentukan tim gabungan ini, Tim Advokasi penyidik KPK Novel Baswedan heran mengapa Polri seolah membentuk tim gabungan jelang debat Pipres. Tim advokasi khawatir pembentukan tim gabungan ini hanya untuk menyediakan jawaban bagi Presiden sekaligus capres petahana Joko Widodo (Jokowi) dalam debat nanti.

“Aneh, kok seolah bekerja pas mau Debat. Saya khawatir dibentuk tim ini, hanya untuk menyediakan jawaban buat Jokowi saat debat,” kata salah satu anggota tim advokasi Novel, Haris Azhar, Jumat (11/1/2019).

Apalagi debat perdana jelang Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut akan mengangkat tema hukum, HAM, korupsi dan terorisme.

Anggota tim advokasi Novel lainnya, Alghifari Aqsa, tetap menilai pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) secara independen merupakan jalur yang realistis untuk mengungkap teror air keras terhadap Novel. Menurutnya, tim gabungan bentukan Polri tidak independen.

Baca Juga : Jadi Sasaran Teror, Agus Raharjo Berencana Persenjatai Anggota KPK

Dilain tempat, Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pihaknya berprasangka baik ihwal tujuan pembentukan Tim Gabungan kasus Novel Baswedan oleh Kepolisian Republik Indonesia. Dahnil berharap Tim Gabungan itu tak dibentuk sekadar untuk mengantiispasi debat pemilihan presiden 17 Januari mendatang.

“Kami sih berprasangka baik saja. Berprasangka baik itu bukan dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan menjelang debat,” kata Dahnil ketika dihubungi, Jumat, 11 Januari 2019.

Jababeka industrial Estate

Sementara itu, desakan dari masyarakat sipil untuk membentuk tim gabungan pencari fakta yang independen sudah sejak lama digaungkan. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan ( Kontras) Yati Andriyani mengatakan jika melihat dari komposisi anggota, tim gabungan tersebut tidak memenuhi harapan masyarakat sipil terkait aspek independensi.

“Soal independensi juga tidak memenuhi ekspektasi masyarakat sipil. Anggotanya secara komposisi juga kan ‘dari kita untuk kita kepada kita’. Hendardi dan Hermawan Sulistyo itu kan penasihat Kapolri ada juga dari Kompolnas,” tambah Yati.

BACAAN TERKAIT