Jumat, 16 November 2018

Ketika Pengadilan Tidak Menjamin Keadilan. Ayo Tolong Baiq Nuril!


Masih terbayang kejadian sekitar 3 tahun lalu, dimana publik dibuat tercengang dan kemudian ikut terisak ketika ada seorang nenek renta berusia 63 tahun bernama Asyani dijatuhi hukuman karena dianggap bersalah mencuri 2 batang pohon jati. Hakim memvonis Asyani 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan dan denda Rp 500 juta subsider 1 hari hukuman percobaan.

Meski nenek renta tersebut bersikeras dan bersumpah bahwa batang jati yang diambilnya berasal dari lahannya sendiri, bukan dari lahan perhutani. Namun ketukan palu hakim tetap tidak berpihak kepadanya. Perhutani, Badan Usaha Milik Negara tetap merasa dirugikan atas kehilangan 2 batang pohon jati yang diambil nenek Asyani untuk membuat tempat tidur. Ironis saat pelaku ilegal logging dan pembalakan hutan masih beredar dan melenggang tak tersentuh hukum. Seorang nenek lah yang malahan harus menanggung efek jera karena dianggap merugikan negara.

Kasus serupa tapi tak sama  juga dialami oleh seorang nenek yang divonis denda satu juta rupiah atau 2,5 tahun penjara karena telah mencuri singkong di kebun milik sebuah perusahaan. Tanpa malu dan berperikemanusiaan, dengan dalih memberikan pelajaran kepada semua warga yang hendak mencuri di kebunnya, Perusahaan menuntut nenek tua yang mencuri singkong untuk memberi makan cucunya yang kelaparan. Kejam. Tak pandang bulu. Tak kenal kasihan.

Dan sekarang, ada Baiq Nuril. Seorang guru yang baru saja dieksekusi oleh MA karena dianggap melanggar UU ITE.

Nuril seorang guru yang mengaku kerap menerima pelecehan seksual lewat telepon-telepon mesum dari atasannya di sekolah bernama Muslim (saya benci sekali nama ini disandang olehnya) lama-kelamaan merasa gerah dan terhina. Kabarnya pengajuan keberatan atas perlakuannya yang diterimanya sudah berulang kali diutarakan, namun Muslim yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah rupanya enggan untuk berhenti. Malah menceritakan kisah-kisah mesum perselingkuhannya dengan orang lain. Akhirnya Nuril pun mengambil keberanian untuk merekam percakapan mesum Muslim. Rekaman tersebut disimpan dan tidak disebarluaskan.

Rekan kerja Nuril bernama Imam yang bersimpati terhadap Nuril akhirnya meminta rekaman tersebut dan menyebarluaskan ke Dinas Pendidikan Kota Mataram. Muslim-pun dimutasi. Kepsek bejat ini meradang dan melaporkan Nuril ke polisi dengan tuduhan menyebarkan rekaman dan melanggar UU ITE.

Berdasarkan bukti yang ada dan saksi ahli yang dihadirkan dalam persidangan, memihak kepada Nuril yang dianggap tidak bersalah. Bahkan saksi ahli yang menjadi salah satu perancang UU ITE bersikeras bahwa Nuril tidak bersalah. Pengadilan Negeri Mataram pun memutuskan Nuril bebas.

Namun rupanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) kurang puas dan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Secara mengejutkan MA memutus Nuril bersalah dan menjatuhkam hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta. Bravo!

MA menganggap Nuril bersalah dan melanggar pasal 27 ayat 1 UU ITE. Juru Bicara MA, Suhadi mengatakan, putusan kasasi Nomor 574 K/PID.SUS/2018 tertanggal 26 September 2018 terkait kasus Baiq Nuril Maknun yang dinyatakan bersalah telah sesuai dengan ketentuan hukum. Putusan kasasi itu berisi tentang pembatalan putusan Pengadilan Negeri (PN) Mataram Nomor 265/Pid.Sus/2017/PN Mtr, 26 Juli 2017.

Bagi orang awam seperti saya, sungguh putusan tersebut merupakan putusan yang tak bernalar dan tak masuk logika.

CIMB NIAGA

Bagaimana mungkin seorang perempuan yang menerima pelecehan seksual malah menanggung hukuman yang membuatnya harus terpisah dari keluarga sedangkan pelakunya bebas melenggang dan malah memperoleh promosi jabatan. Yup benar, justru sekarang Muslim dipromosikan menjadi Kepala Bidang di jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram. Sedangkan Baiq Nuril bukan saja harus menanggung kehilangan pekerjaan, di penjara dan denda yang tak mampu ia bayar, tapi juga harus berpisah dengan ketiga anaknya. Allahu,,,,

Ingin sekali saya katakan:

Majelis hakim yang mulia, entah apa yang menjadi pertimbangan Anda membuat putusan tersebut? Bukankah seharusnya Nuril adalah korban dari tindakan bejat atasannya? Apakah ketika membuat pertimbangan putusan Anda  menjalankan perma 3/2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan Berhadapan dengan Hukum?

Dalam pasal 3 huruf b Perma tersebut menyebutkan hakim harus mengidentifikasi situasi perlakuan tidak setara yang diterima perempuan yang berhadapan dengan hukum. Termasuk didalamnya tentang mempertimbangkan asas penghargaan atas harkat dan martabat manusia. Dalam hal ini Baiq Nuril yg mengalami pelecehan seksual, sebagai perempuan, harkat dan martabatnya sudah direndahkan.

Bukan perkara mudah bagi perempuan untuk mengungkap pelecehan seksual yang dihadapinya. Dan adalah hal yang patut dimaklumi ketika ia mencari dukungan dengan menceritakan hal yang menimpanya kepada orang terdekat. Kita tidak boleh serta merta menyalahkan mengapa ia tidak langsung melapor kepada pihak yang berwenang. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan, rasa malu terhadap keluarga dan rekan bisa menghambatnya untuk mencari keadilan untuk dirinya.

Majelis hakim, putusan Anda meski didasarkan pada kekuatan hukum yang berlaku setidaknya telah melukai hati segenap perempuan Indonesia, bukan hanya Nuril.

Bagaimana lagi kami bisa merasa aman dari gangguan-gangguan pelecehan seksual, berupa telepon-telepon mesum, tatapan cabul, ajakan berzinah dan pelecehan lainnya jika usaha kami mencari bukti otentik yang kami pikir bisa menolong kami justru malah berbalik menikam kami?

Apa yang harus kami katakan dan ajarkan kepada anak perempuan kami nanti tentang jalan perempuan mencari keadilan di negeri ini?

Baiq Nuril beserta tim pengacaranya berencana akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan MA. Jika jalan ini gagal, maka jalan satu-satunya tinggal memohon kepada Presiden untuk memberikan Amnesti. Nuril meminta Presiden untuk memaafkan kesalahannya.

Tapi kesalahan Nuril manakah yang harus dimaafkan oleh Presiden? Relakah kita jika Nuril yang harus meminta maaf?

Apa yang menimpa Nuril sangat mungkin bisa menimpa kita atau keluarga kita. Mari bersama mendukung dan memberikan pertolongan apapun yang kita bisa. Atas nama sesama perempuan. Atas nama sesama manusia yang merindukan keadilan. Save Baiq Nuril!

 

 

 

 

BACAAN TERKAIT