Selasa, 8 Januari 2019

Komnas Perempuan Menyayangkan Ekspos Berlebihan Pada Perempuan Prostitusi Online


Finroll.com – Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin menyayangkan ekspos berita berlebihan oleh media terhadap perempuan yang terlibat dalam prostitusi online baru-baru ini.

Ia menilai, hal ini justru membuat pemberitaan tentang si perempuan (korban) jauh lebih besar dibandingkan dengan proses pengungkapan kasus hukumnya sendiri. Kemudian, banyak masyarakat yang disebutnya protes karena identitas korban dibuka secara terang-terangan hingga ke keluarga.

Komnas Perempuan juga melihat masih ada sejumlah media yang memberitakan tidak berimbang karena lebih mengekspos si perempuan yang dalam hal ini menjadi korban.

“Pemberitaan seringkali mengeksploitasi korban, membuka akses informasi kepada publik, sampai pemilihan judul yang akhirnya membuat masyarakat berpikir bahwa korban pantas menjadi korban kekerasan dan dihakimi,” urainya di Jakarta, Selasa (8/1).

“Komnas Perempuan telah melakukan analisa pada sejumlah media yang telah melanggar kode etik jurnalisme, serta pemuatan berita yang sengaja mengeskploitasi seseorang secara seksual, terutama korban,” sambungnya.

Ia meminta kepada seluruh media agar menghentikan pemberitaan yang mengeksploitasi perempuan yang di lacurkan, dalam hal ini sang artis yang terlibat dalam prostitusi online.

Baca Lainnya: Mucikari Prostitusi Online yang Dibekuk Polisi Punya Jaringan ke 45 Artis

“Media harus menghentikan pemberitaan yang bernuansa misoginis dan cenderung menyalahkan perempuan,” lanjutnya.

Publik juga disebutnya harus menghentikan segala bentuk penghakiman secara membabi buta kepada perempuan yang menjadi korban.

“Kami minta semuanya agar kritis dan mencari akar persoalan. Bahwa kasus prostitusi online hendaknya dilihat sebagai jeratan kekerasan seksual dimana banyak perempuan di tipu bahkan di perjual belikan,” tegasnya.

Jababeka industrial Estate

“Jadi tidak sesederhana pandangan masyarakat bahwa prostitusi adalah kehendak bebas perempuan yang menjadi pekerja seks sehingga rentan di pidana atau di kriminalisasi,” tutupnya.

Sumber: Antara

BACAAN TERKAIT