Selasa, 13 November 2018

Penjahat Seksual Koq Dikasih Angin Sorga?


Perempuan itu indah dan semua yang ada didirinya adalah keindahan. Keindahan bisa terletak di wajahnya. Jika bukan di wajahnya pasti di tubuhnya. Jika bukan di tubuhnya pasti keindahan ada di rambutnya, atau mungkin di suaranya, bisa juga di perangainya, perilakunya, perkataan bahkan tindak-tanduknya.

Keindahan inilah yang membuat perempuan itu istimewa, ditambah kodrat sebagai satu-satunya jenis manusia yang bisa mengandung dan melahirkan. Maka lengkaplah keistimewaan tersebut.

Mungkin karena keistimewaan inilah perempuan kadang suka bersikap kejam dengan sesama perempuan lain. Lebih utamanya bersikap kejam ketika mengomentari perempuan lain.

Coba tengok beberapa pengalaman orang di gerbong kereta api khusus wanita. Horor, gaes. Bikin miris dan hampir menangis. Bahkan ada yang bilang ini adalah gerbong neraka. Drama adu mulut sampai jambak-jambakan pernah terjadi karena penumpang gerbong yang isinya perempuan semua tersebut berebut tempat duduk. Padahal peraturan tentang tempat duduk prioritas selalu diingatkan melalui pengeras suara. Saling sindir di sosial media gegara perkara ini pun kerap terjadi. Membuat pelakunya viral dan menjadi bahan bully dan pergunjingan nasional. Yang membully ya kebanyakan juga perempuan.

Hal ini juga terjadi dikasus yang kini sedang hangat diperbincangkan. Pelecehan seksual di lingkungan kampus.

Saya menemukan beberapa kawan yang menunjukan solidaritasnya, mendukung korban dan menuntut kasus diusut tuntas dan pelaku mendapatkan hukuman. Namun di sisi lain ada juga orang-orang yang overdosis menggunakan nalarnya sehingga tega turut menimpakan kesalahan kepada pihak korban.

Saya teringat perkataan Mariska Hargitay, pemeran Sersan Olivia Benson dalam sinetron Law & Order SVU (Special Victims Unit). Dalam salah satu episode ada orang yang bertanya, “kenapa penanganan kasus pemerkosaan harus ditangani sebuah unit khusus bernama SVU di NYPD, sedangkan kasus pembunuhan, pencurian, dll tidak?”

Dengan tegas Sersan Benson menjawab, “Karena dalam kasus pembunuhan dan pencurian, korban tidak akan ditanya apakah ia menikmati ketika ia mengalami percobaan pembunuhan atau ketika barang-barangnya dicuri.”

Dari sini saya melihat betapa berat beban emosional yang harus ditanggung korban pemerkosaan atau pelecehan seksual yang memberanikan diri melaporkan tragedi yang menimpa dirinya. Karena dalam proses dan usahanya mencari keadilan beliau bukan hanya bersiteru dengan pelaku, namun juga harus menghadapi sentimen negatif dan aneka rupa cibiran dari pengamat kasusnya. Dan herannya, tak jarang cibiran tersebut bisa keluar dari sesama perempuan.

Berikut beberapa perkataan kejam yang bisa saya rangkum saat mengikuti hiruk pikuk dukung-mendukung penanganan kasus pelecehan seksual berat yang dialami junior saya di kampus.

CIMB NIAGA

“Makanya jangan sodorin ikan asin ke kucing, pasti disamber lah”

“Makanya jadi perempuan pakai baju yang bener, aurat kemana-mana gitu”

“Makanya jangan kegenitan jadi perempuan”

“Jadi perempuan gak usah sok kecakepan, tauk rasa kan sekarang!”

“Dua-duanya salah, yang satu gak bisa jaga diri, satu lagi gak bisa nahan nafsu”

“Ah, itu mah suka sama suka keles. Cari sensasi ajah!”

“Mosok sih tampang kayak gitu ada yang mau perkosa?”

“Konspirasi ini, buat jatuhin dosen, buat jatuhin nama kampus!”

Dan yang melontarkan perkataan tersebut bukan hanya laki-laki, tetapi juga kawan-kawan sesama perempuan.

Hai, gaes saya kasih tahu.

Meski ada penari telanjang yang menari erotis dihadapan para lelaki, tetap para lelaki tersebut tidak berhak menyentuh perempuan tersebut tanpa izin meski nafsu sudah diubun-ubun. Kalau perempuan sudah bilang tidak, ya tidak. Jangan ditafsirkan jadi A, B, C dan D yang seolah-olah mempersepsikan bahwa “tidak”nya perempuan yang menolak berhubungan seksual itu sebagai ungkapan mau tapi malu! Kalau perempuan sudah bilang “tidak” tapi laki-laki masih maksa melakukan, itu sudah masuk dalam ranah pemerkosaan.

Tidak pantas rasanya kita menikam kembali perasaan korban dengan perkataan yang membuat dirinya merasa receh dan malu. Imbasnya parah gaes. Bisa jadi korban patah nyali untuk melanjutkan proses hukum karena merasa inferior dan pesimis kasusnya bisa dimenangkan. Atau lain waktu mungkin bisa jadi lebih banyak perempuan yang memilih berdiam diri ketika mengalami pelecehan seksual karena khawatir bukannya dapat keadilan malah tambah dipermalukan.

Lalu bagaimana jika hal tersebut menimpa diri kita sendiri. Bagaimana jika teman dekat, sahabat atau keluarga kita sendiri yang mengalami? Akankah kita sanggup mendengar bahkan mengucapkan kata-kata kejam yang merundung korban dan menambah luka psikisnya?!

Kasus pelecehan seksual adalah kasus yang menyangkut harga dan kebanggaan diri seseorang. Setidaknya meski tak paham kronologi, mari kedepankan empati yang artinya kita kudu empet tuh sama pelaku. Kalau lebih dari empet gak apa-apa, lima-enam-tujuh sekalian. Jangan beri angin syurga untuk pelaku yang maksa  syurrr-syurran seenak selangkangan di badan orang. Hajar dia dengan dukungan yang bertubi-tubi kepada pihak korban. Benar salah biarkan menjadi tugas yang berwenang untuk melakukan penyelidikan. Dan anggap setan para pejabat dan tenaga pendidik yang coba-coba memberi pemakluman demi menjaga nama baik kampus dibanding kehormatan perempuan. Biar kesamber gledeg mereka! Huh!

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT