Senin, 28 Juni 2021

Polda Bengkulu lacak penjual Bunga Rafflesia di Facebook


Polda Bengkulu Lacak Penjual B (ANTARA) – Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu melacak dugaan kasus penjualan bunga Rafflesia Arnoldi yang dijajakan melalui salah satu grup jual beli di media sosial Facebook.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno mengatakan bunga Rafflesia merupakan tumbuhan langka dan dilindungi berdasarkan Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga tidak boleh diperjualbelikan.

“Karena tumbuhan itu dilindungi oleh Undang-undang maka kalau ada yang menjual jelas sudah melanggar hukum. Kami akan telusuri siapa itu yang posting,” kata Sudarno di Bengkulu, Senin.

Sebelumnya, sebuah akun Facebook dengan nama Dfrslto Id mengunggah tiga foto bunga Rafflesia yang sedang mekar sempurna dengan tulisan ‘Yg minat raflesia arnoldi chat’ di grup Forum Jual Beli Bintuhan Kaur.

Baca juga: Populasi bunga bangkai dan Raflesia ditemukan di Kamang Mudiak
 

Tangkapan layar postingan dugaan penjualan tumbuhan dilindungi bunga Rafflesia Arnoldi disalah satu grup jual beli Facebook. (Foto ANTARA/Carminanda)

Namun saat ditelusuri Senin (28/06), postingan yang sempat mendapat komentar beragam dari netizen tersebut telah dihapus.

Sudarno mengatakan pihaknya akan meminta Tim Cyber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) serta bagian Humas Polda Bengkulu untuk melacak akun tersebut.

Baca juga: Bunga raflesia mekar di pohon di Agam

“Kita cek dulu karena sekarang itu banyak yang iseng. Kita perlu tahu dulu motifnya apa, karena tidak serta merta melanggar pidana, kecuali kalau memang dia sudah pernah jual,” jelas Sudarno.

CIMB NIAGA

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung Donald Hutasoit menyebutkan jika pihaknya telah mendapat informasi terkait dugaan penjualan bunga Rafflesia Arnoldi di grup jual beli Facebook.

Ia memastikan akan segera berkoordinasi dengan Polda Bengkulu dan Tim Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menyikapi hal tersebut.

“Apapun motifnya mau iseng atau apa tetap tidak dibenarkan. Apa untungnya menjual itu kan tiga hari juga sudah layu,” demikian Donald.

Baca juga: BKSDA Sumatera Barat temukan populasi bunga raflesia di Sigantang

Pewarta: Carminanda
Editor: Joko Susilo
Sumber : ANTARA

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT