Rabu, 9 Januari 2019

Dari Perempuan Untuk Perempuan


Sebetulnya sejak kemarin saya sudah merasa risih saat beranda Facebook penuh segala macam berita soal VA dan 80jutanya. Mulai dari makian, hinaan, sindiran, lelucon, meme, dll. Ramai sekali orang membahas dan menilai VA sesuka hati. Bahkan banyak sekali yang berkomentar sadis dan sinis di akun media sosial salah satu artis yang baru saja terciduk itu.

Saya memilih menghindar dan tak ikut membahasnya. Cukup tahu saja. Itu karena saya merasa ngilu. Saya ngilu membayangkan hancurnya nama baik dia di depan umum. Saya ngilu membayangkan perasaan kecewa yang dirasakan keluarganya. Saya ngilu membayangkan semua orang yang melihatnya akan menilai tubuhnya sebagai barang. Saya ngilu membayangkan kesalahannya dijadikan bahan bercanda orang-orang. Saya ngilu.

Terlepas dari kesalahan cara mendapatkan uang yang dia pilih dan atau perilaku dosa (menurut agama yang saya anut) yang dia lakukan, dia masih seorang manusia. Siapa saya yang merasa berhak menghakimi sampai seolah jadi Tuhan? Siapa saya sampai menjadikan aibnya bahan tertawaan? Siapa saya yang menjadikan nasib buruknya sebagai celaan? Siapa saya? Kenapa juga harus menunjukkan bahwa moralitas saya lebih tinggi dan dia lebih rendah?

Padahal saya dan dia masih sama-sama manusia, bahkan sama-sama perempuan. Saya dan dia sama-sama makhluk dengan dosa yang berbeda. Pun jika merasa lebih baik darinya sekarang, saya tak pernah tahu akhir hidup nanti akan seperti apa.

Cukuplah kejadian itu saya ambil sebagai salah satu pelajaran bahwa perempuan sangat rentan dengan kesalahan menilai dirinya. Menjadikan kejadian itu jalan kembali mengingat aib sendiri dan bersyukur Tuhan masih menutupi. Menjadikan itu sesuatu yang menyadarkan diri agar semakin kuat memegang prinsip di tengah banyaknya peluang maksiat. Menjadikannya sebagai pengingat untuk semakin dekat pada suami dan semakin erat pada anak-anak.

Bukan, ini bukan pengingkaran atas dosa dan kesalahan. Tapi ajakan untuk menempatkan respon yang sesuai atas kesalahan orang lain. Jangan berlebihan, bahkan ketika diri merasa benar.

Begitu pula yang terjadi pada Afi. Saya sedang berusaha menata hati setelah membaca postingan viralnya yang terbaru. Saya memang merasa marah dan sedih saat membaca poin pertama yang ia bahas. Ia membandingkan nominal yang diterima VA atas nilai tubuhnya di pasar (duh Gusti, menuliskannya saja saya sedih) dengan gaji 10 juta yang diterima seorang istri beserta semua perannya. Terlepas dari maksudnya membalas penghakiman berlebihan orang kepada VA, tapi membandingkan antara pernikahan (istri) dan pelacuran jelas sesuatu yang amat salah. Karena keduanya tidak bisa dibandingkan.

Pernikahan disebut mitsaqan ghaliza di agama yang saya anut, di agama lain pun saya yakin pernikahan adalah sesuatu yang disakralkan. Mitsaqan ghaliza adalah perjanjian yang sangat kukuh, bahkan setara dengan perjanjian Allah dengan para nabi-Nya. Pernikahan adalah perjanjian manusia yang melibatkan Tuhan di dalamnya. Perjanjian yang mengikat dua orang dalam komitmen jangka panjang untuk saling membahagiakan. Sebuah perjanjian yang agung dan Allah menyaksikannya.

Lalu perjanjian ini disetarakan dengan sebuah kegiatan transaksional syahwat semata?? Betapa rasanya saya ingin memaki saat membacanya, tapi saya tak ingin menjadi seperti mereka yang tak punya kontrol jari.

Jadi begini saja, yang ingin saya katakan adalah nilai materil tubuh perempuan yang dia jual bebas itu tidak akan pernah sebanding dengan nilai materil plus imateril diri seorang istri beserta semua peran yang dia emban dalam pernikahan. Tidak akan pernah. Sebanding saja tidak, apalagi dinilai lebih besar. Pun jika mengukur keduanya cuma dengan aktivitas seksual saja tetap tidak akan sebanding. Karena ada yang tidak bisa dibeli dengan berapapun nominal uang, yaitu cinta. Adakah perasaan cinta terlibat dalam transaksi syahwat?

Jababeka industrial Estate

Jadi sebaiknya berfikirlah dulu sebelum membuat perbandingan. Karena dari apa yang ditulis itu orang membaca dan merasa direndahkan. Apalagi dengan menggunakan kosakata “murahan”. Itu sungguh menyakitkan.

Jangan berlindung dibalik dalih persepsi. Terus membela diri dengan mengatakan bukan itu yang dimaksud. Bertanggung jawablah dengan berani atas apa yang sudah ditulis. Jujurlah pada diri, bukankah dengan banyaknya respon marah tandanya ada yang salah. Dan meminta maaflah jika telah menyakiti. Terus membela diri hanya membuatmu terlihat semakin menyedihkan.

Walaupun di poin pertama merasa marah, saya tetap ingin adil dan utuh menilai yang afi sampaikan. Saya menyepakati poin 2, 3 dan sebagian di poin 4 dalam tulisannya.

Betul bahwa masyarakat masih senang membully dengan masing-masing pribadi merasa lebih bermatabat dari orang yang terbuka aibnya. Benar pula banyak ketidakadilan yang dihadapi perempuan. Bahkan dalam kasus VA media tidak mengungkap siapa pelanggannya, siapa penyedia jasanya, dll. Itu kejahatan. Ia diperjualbelikan seperti barang lalu saat terungkap, pembeli dan makelarnya hilang. Walaupun sekarang status VA hanya saksi, tapi saya yakin kasus ini akan menguap pelan-pelan dan menjadi kenangan. Tinggalah label yang tersemat di kening VA seumur hidupnya. Duh.

Sedangkan untuk poin 4 saya sepakat bahwa perempuan memang sering jadi korban. Perempuan seringkali jadi samsak kesalahan saat banyak hal terjadi dalam hidupnya. Tapi terlepas dari sisi eksternal itu, menurut saya masalah terbesarnya adalah karena perempuan tidak mampu menilai dirinya dengan benar atau bahkan tidak merasa memiliki nilai diri. Itulah yang membuat dia mudah dimanfaatkan, bahkan diperjualbelikan.

Setiap perempuan harus punya kesadaran bahwa dirinya berarti sehingga ia akan memperkaya dirinya dengan banyak kemampuan dan akhirnya memiliki citra yang baik atas dirinya (self esteem). Perempuan juga harus bisa berhitung untung rugi atau konsekuensi atas pilihan yang diambil. Dia harus sadar bahwa dirinya berharga (self worth) sehingga dia tidak akan mau menjadi objek yang dimanfaatkan. Terakhir dan yang paling penting, perempuan harus menghormati diri sendiri (self respect) sehingga ia akan memegang prinsipnya kuat-kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari seburuk apapun kondisi yang dihadapi.

Dengan semua kemampuan itu maka perempuan tidak akan pernah terpikir menggunakan tubuhnya untuk menghasilkan uang. Tidak akan, karena nilai dirinya tidak akan bisa dikonversi ke nominal materi.

BACAAN TERKAIT