Herman Lantang adalah Sinomin dari kata Petualangan Itu Sendiri

  • Bagikan
herman lantang
herman lantang

Herman Lantang ke tepi Ranu Regulo Gunung Semeru, Jawa Timur, Jumat (20/9/2019) malam. Di tengah dinginnya udara di kaki gunung tertinggi Pulau Jawa itu, Herman yang kala itu berusia 79 tahun dipapah oleh kerabat-kerabat sesama pencinta alam.

Malam itu, di Ranu Regulo sedang dihelat Malam Renungan Jejak Pendaki Semeru. Para pencinta alam mengenang kepergian kerabat mereka, seperti Rudy Badil, Idhan Lubis, dan Soe Hok Gie (wafat di Semeru).

Malam itu pula, para peserta tampak menikmati kebersamaan, menyantap kambing guling, sembari mendengarkan pembacaan puisi Mandalawangi Pangrango karya Gie.

“Saya sangat menghargai dan mengapresiasi acara ini (Malam Renungan Jejak Pendaki Semeru). Saya sempatkan hadir meskipun dilarang istri saya,” ungkap Herman mengomentari acara yang dihelat bertepatan dengan 50 tahun kematian Gie.

Herman dan Gie dulu sama-sama menginisiasi pendakian ke Gunung Semeru. Mereka, yang sama-sama terkenal sebagai mahasiswa cum aktivis pada masanya, sama-sama beranggapan bahwa politik kampus itu kotor. Politik (kampus) tahi kucing, kata Herman.

Herman Lantang, lain dengan Soe Hok Gie, tak begitu suka tampil di publik atau menulis di koran-koran. Namun, bukan berarti ia apolitis.

“Dalam kegiatan aksi mahasiswa, biasanya aku mengkordinir dan memimpin massa mahasiswa Fakultas Sastra di lapangan, sedangkan Soe Hok Gie bergerak di belakang layar sebagai pemikir dan otak yang mengatur strategi pelaksanaan aksi (dibantu Boellie Londa dan Jopie Lasut). Dia juga berbakat sebagai pengompor massa dengan pidato atau tulisan-tulisannya di koran, yang tegas, jujur, berani, blak-blakan, dan berapi-api,” kata Herman Lantang dalam blog pribadinya.
“Biasanya kalau massa sudah terkumpul, maka Soe kupersilahkan angkat bicara, dan di sinilah kharisma Soe akan muncul, ketika dia mulai bicara ataupun beragitasi dengan berani dan meyakinkan membuat orang terpukau kagum mendengarkannya,” lanjutnya.

Mereka akhirnya berangkat ke Semeru pada 12 Desember 1969, bersama Aristides Katoppo, Abdurrachman, Anton Wijana, Rudy Badil, dan dua anak didik Herman: Idhan Dhanvantari Lubis serta Freddy Lodewijk Lasut.

Semua tahu, Gie tutup usia begitu ia, Herman, dan Idhan menjejakkan kaki di Puncak Mahameru. Gie menghirup gas beracun.

“Tahu-tahu dia enggak ngomong, menggelepar,” ujar Herman. Kematian sahabatnya tak membuat Herman banting setir dari kecintaannya terhadap alam dan petualangan, termasuk pada Semeru.

Bahkan, pada 1984, Herman mengukir sejarah dengan menemukan Arcopodo di Semeru bersama Norman Edwin. Arca kembar yang mulanya dianggap tak lebih dari semata dongeng itu ia temukan di tengah senyapnya hutan Semeru pada ketinggian 3.002 mdpl. Herman dan Norman mematahkan semua kabar burung itu.

Kecintaannya kepada alam dan petualangan disebut lahir sejak ia belia. Herman kecil yang lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, kerap diajak ayahnya keluar masuk hutan di Tomohon untuk berburu.

Kegemaran itu terbawa meski orangtuanya pindah tugas ke Jakarta. Ia memilih berkuliah di jurusan antropologi di Fakultas Sastra UI pada 1960, tempatnya beberapa tahun kemudian menjabat ketua senat fakultas.

Ia menuntaskan studinya di UI dengan merampungkan etnografi partisipatoris total terhadap Suku Dani di Papua. Ia bermukim cukup lama di Lembah Baliem, Wamena, di tengah-tengah suku terpencil itu.

“Saya berdiam dalam rumahku yang berbentuk Honay raksasa, (a)n-O-uma bernama Sinim. Rumahku dibangun oleh penduduk setempat secara gotong-royong, tradisional dengan bahan-bahan setempat berupa kayu, akar-akaran,tanaman merambat, rotan dan rumput. Tanpa menggunakan paku,” tulis Herman dalam blog pribadinya.

Selepas etnografi pada 1968, ia mengusulkan kepada Gie agar Mapala UI berekspedisi ke ke Papua. Surat-surat itu ia layangkan kepada Gie pada 17 Agustus 1968.

“Saya antara lain mengusulkan Mapala (UI) mengadakan pendakian gunung-gunung bersalju di Papua, yang baru terlaksana awal 1972, yaitu 3 tahun setelah Soe Hok Gie mendaki Semeru untuk tak kembali lagi pada 16 Desember 1969,” tulis Herman.

Belakangan, pengalamannya berdiam di Baliem membuatnya didapuk sebagai pimpinan pendakian yang bertanggung jawab atas segala teknis pendakian dalam ekspedisi Mapala UI ke Puncak Carstenz, Pegunungan Jayawijaya.

Pemilik nomor keanggotaan Mapala UI M-016-UI itu pun harus meyakinkan Rektor UI kala itu, Soemantri Brodjonegoro yang gusar terhadap keselamatan Herman cs.

Ketika Soemantri bertanya, bagaimana makannya, Herman menjawab, “Kita minum madu” (Soemantri Brodjonegoro, Teguh di Jalan Yang Lurus, 2003). Herman pun menjelaskan bahwa dirinya dan seorang kawan, Henry Walandouw, sudah melakukan penjajakan ke Irian (nama Papua saat itu) dan mengaku telah mengantongi dukungan Gubernur Irian Barat, Acub Zainal.

Negosiasi selalu alot hingga Herman Lantang dan kawan-kawan berjanji akan memilih rute yang aman ke Puncak Jaya, yakni dari Beoga. Soemantri akhirnya merestui dengan syarat, para mahasiswa hanya sampai di batas salju.

“Tak boleh ada kecelakaan,” pesan Soemantri seperti dikutip dari kompas

Rabu, 23 Februari 1972, tujuh anggota Mapala UI termasuk Herman merengkuh Puncak Jaya—melewati syarat yang diberikan Soemantri. Meski kesal, namun Soemantri jadi percaya dengan Mapala UI dan selalu memberi dukungan terhadap ekspedisi mereka selanjutnya.

Kecintaannya pada petualangan bahkan membawanya bekerja di perusahaan pengeboran minyak kenamaan, seperti Oil Field all part of Indonesia, East Malaysia Egypt dan Australia East Texas USA.

Ia dikenal piawai menangani masalah lumpur dalam pengeboran, hingga dijuluki “mud doctor”.

Belakangan, ia bukan hanya mencintai petualangan alam. Hobinya bertualang membawanya kepada ketertarikan terhadap dunia boga. Dengan modal ala kadarnya, rumahnya di bilangan Jagakarta, Jakarta Selatan, disulap menjadi toko kue “Kelapa Tiga Taart Tempo Doeloe”.

Toko itu menjual aneka kue klasik yang menurut Herman sulit dicari di Jakarta.

Herman mengaku memiliki banyak buku resep kue klasik Belanda, seperti oentbijkoek dan klappertaart.

Hari ini, 22 Maret 2021, Herman berpulang. Barangkali, ia akan langsung disambut dengan tempik sorak serta pelukan hangat para sahabatnya: Soe Hok Gie, Rudy Badil, Idhan Lubis, dan sederet pencinta alam lain yang telah mendahuluinya, sebelum mereka beranjak menuju petualangan baru di alam yang baru.

Selamat jalan, Herman Lantang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->