Sabtu, 29 Desember 2018

Refleksi Akhir Tahun : Belajar dari Steve Jobs


Banyak yang latah dalam menyikapi pergantian tahun, ikut-ikutan tradisi tanpa memahami tujuan serta kebaikan yang didapat yang penting happy. Akibatnya, semakin waktu berganti tidak ada prestasi yang diraih, bahkan cenderung merosot.

Mungkin ada sebagian dari kita dalam hal akan melakukan sesuatu terbiasa dengan membuat rencana jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang. Ibaratnya itu sebagai suatu tangga untuk mencapai apa yang kita ingingkan dan impikan, tentunya harus dilakukan secara bertahap namun pasti.

Berdasarkan arti kata refleksi yang berasal dari kata bahasa Inggris, reflect yang artinya menggambarkan, membayangkan, mencerminkan (suatu opini). Dari arti kata tersebut, maka kita dapat melakukan suatu refleksi akhir tahun, terhadap apa yang telah dicapai dan apa yang belum tercapai dari reancan kita.

Selain dari pengalaman pribadi mengambil pelajaran dari kehidupan seseorang juga menjadi suatu hal yang positif. Misalnya, Steve Jobs.

Ya, tidak bisa diragukan lagi, Steve Jobs adalah seorang pebisnis yang kreatifitasnya telah mengubah dunia. Kejeniusannya terjaantahkan dalm karya-karyanya. Dengan karya-karyanya dia menempatkan diri sebagai salah satu orang super kaya di Planer Bumi.

Hanya denan logika kapitalisme, Steve Jobs bisa saja terjebak dalam upaya menghasilkan laba sebesar-besarnta, mengeksploitasi dan menguasai pasar, menguasai kesadaran konsumen, bahwa hidup harus digenggam dan dikuasai dalam hentakan-hentakan jari dituts iPhone dan iPad.

Tetapi bukan tujuan utama seorang Steve Jobs. Produktifitas dan sukses itu penting , juga bagi kita semua tetapi itu tidak menjamin seseorang menjadi bahagia. Kebahagian dalam penghayatan Steve Jobs bukan terletak pada kesuksesan atau kekayaan.

Dia mengatakan, “menjadi orang terkaya di dalam liang kubur justru tidak akan bermanfaat apa-apa bagi hidupku.” Dia melanjutkan, “pergi tidur di waktu malam dan mengetahui saya sudah berhasil melakukan sesuatu dengan cara indah… itulah yang berarti bagiku.”

Kebahagaian hidup terletak pada melakukan sesuatu secara indah (doing something wonderfull). Dan disitulah titik dimana semua profesi disimpulkan. Siapa pun kita dan apapun pekerjaan yang kita lakukan, jika kita mengerjakan dengan indah hasilnya akan membahagiakan, baik bagi diri maupun bagi orang lain.

Dalam kacamata iman, melakukan sesuatu secara indah dapat dimaknakan sebagai melakukan setiap pekerjaan sukacita dan kedamaian hati. Melakukan pekerjaan bukan sebagai beban dan rutinitas hanya demi mendapatkan penghasilan, tetapi demi realisasi diri dan talenta yang diberikan Tuhan.

Jababeka industrial Estate

Apa yang kita lakukan dalam setiap pekerjaan dan profesi kita ternyata akan mengisi nyaris sebagian besar hidup kita. Puluhan tahun mungkin saja  kita akan melakukan hal yang sama, dan itu bisa saja melelahkan. Kita belajar dari hidup Steve Jobs bahwa kebosanan dalam bekerja dapat diatasi ketika kita percaya bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah karya yang besar.

Karya yang besar akan menuntut kita untuk mempersiapkan dan melengkapi dirti dengan berbagai keterampilan dan keahlian supaya dapat mencapai hasil yang maksimum. Sikap mental seperti itulah yang akan membebaskan kita dari kemapanan dalam pekerjaan. Kemapanan akan berbahaya karena mematikan kreativitas dan memanjakan pikiran.

Sementara pekerjaan apapun, ketika dihadapi sebagai sebuah karya besar, dia akan selalu mengingatkan kita untuk bersabar, ulet, tekun dan teliti dalam melakukannya, karena hasil yang sempurna akan menjadi taruhannya. (*)

BACAAN TERKAIT