Rabu, 21 April 2021

Sukses Kembangkan Eatlah, Charina Prinandita Masuk Daftar Forbes 30 Under 30


Forbes baru saja merilis daftar 30 under 30 di kawasan Asia untuk tahun 2021. Forbes 30 under 30 sendiri merupakan daftar deretan anak muda di bawah 30 tahun yang dinilai berpengaruh.

Proses kurasi dari daftar tersebut pun cukup ketat. Charina Prinandita (29), merupakan satu dari beberapa orang Indonesia yang masuk dalam daftar prestisius tersebut.

Ia masuk dalam daftar Forbes 30 under 30 Asia di kategori The Arts atau seni. Mereka yang masuk dalam daftar ini adalah anak-anak muda yang berhasil melakukan kreasi bisnis di beragam lini, mulai dari bisnis makanan dan minuman hingga fashion.

Pada tahun 2016, ia bersama dengan dua orang rekannya mendirikan Eatlah, sebuah gerai makanan cepat saji, Eatlah, dengan beragam menu lokal. Salah satu menu yang menjadi trademark sekaligus andalah mereka adalah nasi ayam dengan saus telur asin, atau salted egg chicken rice.

Saat ini, gerai makanan tersebut telah memiliki 23 outlet yang tersebar di enam kota di Indonesia. Meski demikian, bisnis makanan cepat saji tersebut tak kebal dari pandemi. Terakhir, Charina sempat mengatakan, jalannya bisnis Eatlah cukup terpukul lantaran delapan dari 23 outlet mereka berada di Mall.

“Outlet kita di mal itu ada 8 oulet dan jelas sedikit terpukul bisnis kami karena banyak mal yang ditutup,” ujar Charina dalam ShopeePay Talk episode keenam yang disiarkan secara virtual, Rabu (17/3/2021).

Ketika sedang mengobrol mengenai perkembangan bisnis Eatlah, Charina sempat mengungkapkan bahwa visinya dalam membangun brand makanan ini adalah agar dapat membuat fast food yang bukan junk food dan asli Indonesia, harapannya juga agar bisa menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia bahkan kalau bisa dunia.

Dirinya juga mengatakan ingin menjadi seperti brand fast food dari Jepang, Yoshinoya, yang dapat melebarkan bisnisnya ke seluruh dunia dan banyak orang yang menyukainya.

Lalu bagaimana cara mereka membesarkan brand mereka ini meski dengan modal yang sedikit? Seperti apa strategi marketing yang mereka terapkan agar bisa mencapai ke beragam target market sehingga mendekatkan mimpi mereka tersebut?

Simak obrolannya dengan Charina Prinandita, CEO Eatlah, di bawah ini.

Bagaimana awal mula membangun Eatlah?

Eatlah sendiri adalah suatu makanan yang inspirasinya didapat waktu kita dulu sekolah di Singapura. Jadi gimana caranya salted egg chicken rice, menu utama kita ini bisa balik ke Indonesia, biar orang Indonesia bisa cobain.

Jababeka industrial Estate

Karena dulu salted egg chicken rice ini, di sana (Singapura) kayak comfort food banget kalau lagi homesick, ingin sesuatu yang rasa Indonesia.

Setelah itu, akhirnya kita bawa ke sini, coba di-develop resepnya. Mungkin prosesnya itu selama 8 bulan, dan itu pakai tes dulu ke keluarga, teman-teman atau segala macam, baru dari sanalah kita berani untuk menjual dan menyewa tempat kecil di pasar PIK. Tempat ini luasnya paling cuma 4×3 meter persegi, di situ kita bawa dapur.

Dengan modal seminim mungkin, kita mulai jualan dan dimasukin ke Go-Food. Jadi pertamanya gitu.

Seperti apa konsep dari Eatlah sendiri?

Konsepnya adalah casual comfort food. Jadi kita bisa bilang fast food, tapi bukan junk food. Eatlah adalah fast food yaitu makanan yang sangat cepat. Misal, kalau orang lagi meeting di kantor terus lapar dan mau makan apa, kita mau orang itu mikir Eatlah. Jadi kayak yang cepat dan mudah untuk di-delivery. Konsepnya lebih ke arah situ sih, cuma tetap comfort food.

Bagaimana cara kalian bersaing dengan para kompetitor?

Mungkin banyak orang berpikir kalau kompetitor Eatlah adalah salted egg brand yang lain. Tetapi kalau melihat visi Eatlah itu adalah gimana ada fast food buatan anak Indonesia yang bisa masuk pasaran ke seluruh Indonesia bahkan Internasional. Karena kita enggak punya lho sebagai orang Indonesia, fast food yang bisa diterima di luar (negeri), visi kita tuh seperti itu.

Jadi, kalau dilihat in terms of kompetitor, siapa sih brand Indonesia yang seperti itu? Orang akan melihat, secara branding sangat baik, dan bisa masuk pasar Internasional. Jadi bukan salted egg brand lain.

Strategi digital marketing apa yang dirasa paling berhasil?

Sebenarnya sesimpel begini, menurut aku, strategi kita selama ini “cobain deh makanan kita, kalau kamu coba dan suka, kamu pasti balik.” Dari situlah di mana setiap kita opening outlet, selalu membagikan free mungkin 100 (porsi) per outlet.

Tetapi intention kita itu bukan untuk… kalau viral, of course kita ingin viral. Tapi motif utamanya adalah, buat orang-orang yang belum pernah cobain Eatlah bisa cobain dululah, kalau suka pasti balik.

Jadi jangan takut untuk membuang marketing budget, karena itu bukan kasih-kasih for free yang enggak akan balik lagi. Itu akan balik ke kita dalam bentuk sales.

Apakah Eatlah juga membuat konten di media sosial?

Semua konten dan marketing digital kita, so far terpusat di Instagram. Dan kita sangat besar di Instagram, karena dari pertama mulai pun channel yang digunakan hanya Instagram, karena gratis, dan untuk kita yang start small, Instagram juga channel yang baik.

Dan kita coba sebaik mungkin untuk connect dengan audiens di Instagram. Kita coba mengerti apa yang mereka suka lihat di Instagram. Jadi kita suka mengajak mereka untuk engagement, dan bukan satu arah, di mana selalu promo, Kita enggak mau kayak gitu.

Kita pernah mengadakan kuis untuk bantu namain the next Eatlah. Jadi followers kita ikut engage di kontes-kontes ini. Itu adalah salah satu cara untuk keep a good relationship with our followers and customers.

Menurut Anda, seberapa penting dan berpengaruhnya konten di media sosial terhadap bisnis Eatlah?

Sangat berpengaruh. Karena generasi muda sudah sangat paham dengan penggunaan media sosial. Dan sekarang sebagian primary target market itu anak-anak media sosial, yang mungkin berumur 15 sampai 35 tahun.

Tapi semakin ke sini, karena visi Eatlah memang menjadi fast food, kita harus mulai memikirkan gimana menargetkan orang yang enggak melihat media sosial. Dari situlah baru membesarkan strategi marketing, apakah dengan mengikuti event, atau berkolaborasi dengan printed magazine. Tetapi digital media, of course channel nomor satu kita.
Kalau boleh di-share seperti apa riset yang dilakukan sebelum membuat konten di media sosial?

Jujur untuk research itu benar-benar targeted research. Sehingga, kita tahu siapa target market, dan mereka itulah orang-orang yang biasa ditanya untuk pendapat tentang apa yang mereka suka lihat di media sosial. Dan kebanyakan, generasi kita enggak suka di-push dengan promosi, enggak suka konten hardselling. Dan kita menghindari konten semacam itu di media sosial kita.

Pernah enggak Eatlah bekerja sama dengan influencer?

Untuk kerja sama itu ada, dalam artian, kita percaya kalau kita enggak suka endorse, paid endorse, karena merasa kalau bayar orang untuk review, of course they will say good things. Jadi kita lebih ke yang “cobain aja”.

Jadi cobain aja, kalau memang benar enak dan you will give us a good review. Jadi win-win solution. Mereka dapat makanan, kita dapat review bagus kalau mereka memang suka. Lebih ke kayak gitu sih kalau sama influencer.
Menurut Anda, apa kelebihan dan kekurangan media sosial sebagai media pemasaran?

Seperti yang aku mention tadi, karena visi Eatlah sebagai fast food, kita juga ingin mencapai generasi yang enggak bermain media sosial, seperti generasi orangtua kita yang enggak punya Instagram atau Facebook. Itulah keterbatasan media sosial karena mungkin ada orang-orang yang enggak tech friendly. Sedangkan, sesuatu seperti koran itu sifatnya lebih mass market.

Adakah tips untuk anak muda yang ingin memulai bisnis?

Kalau bisa mulai bisnis itu jangan start dengan modal yang banyak, menurut aku seperti itu sih. Karena banyak anak zaman sekarang yang mungkin cukup uangnya dan mereka memulai bisnis misal membuat restoran atau coffee shop yang besar.

Seperti Eatlah sendiri kita memulai bisnis ini dengan modal 45 juta rupiah, jadi per orang itu 15 juta rupiah dan itu pun kita masih pinjam dari orangtua, karena dulu kita baru lulus. Masak pun, kita pakai alat masak yang ada di rumah, yang kita pinjam dari orangtua. Kalau itu menghasilkan barulah kita bisa scale up dari sana.

Kita bisa pakai yang ada dulu, dan sekarang semua teknologi itu sangat membantu. Enggak perlu punya toko yang besar. Waktu kita pertama mulai semua berbasis di Go-Jek, semua orang bisa pesan dari Go-Jek, dan kita hanya butuh space 2×3 untuk dapur saja,

Basically untuk memasak saja, dan itu dengan harga sewa yang sangat murah, per bulannya hanya 3 juta Rupiah. Dari situlah kita benar-benar belajar, yes you can make it meskipun dari modal yang sedikit. Persepsi orang itu harus punya duit untuk memulai bisnis, itu salah.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT