“Di Tepi Sejarah” tampilkan pentas keempat monolog Ismail Marzuki

  • Bagikan
Jakarta (ANTARA) – “Di Tepi Sejarah” musim kedua menampilkan pertunjukan keempat serial monolog “Ismail Marzuki: Senandung di Ujung Revolusi”.

“Ismail Marzuki: Senandung di Ujung Revolusi ini adalah judul keempat dari seri monolog Di Tepi Sejarah. Mengangkat nama Ismail Marzuki ini sendiri karena kali ini Di Tepi Sejarah juga fokusnya ingin mengangkat sejarah siapa yang punya peran di kesenian gitu,” kata Pradetya Novitri selaku Produser saat dijumpai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu malam (29/6).

“Jadi mereka bergerak di bidangnya sendiri untuk memberi makna Indonesia dengan caranya masing-masing. Seperti Ismail Marzuki nggak pernah bawa senapan, tapi dia berjuang dengan caranya sendiri. Dengan lagu-lagunya. Dan menurut kami, banyak yang belum tahu cerita di balik itu,” sambungnya.

Ditulis bersama oleh Putu Fajar Arcana dan Agus Noor, naskah “Ismail Marzuki: Senandung di ujung Revolusi” mengisahkan momen-momen perjalanan hidup dan kreativitas Ismail Marzuki. Pada pentas ini, sosok Ismail Marzuki diperankan oleh Lukman Sardi.

Pentas Ismail Marzuki: Senandung di Ujung Revolusi menceritakan bagaimana di usia 17 tahun, Ismail menciptakan lagu “O Sarinah”, yang mengajak para perempuan desa untuk giat bekerja di sawah agar dapat membangun negara. Sejak itu, dalam pasang surutnya sebagai pemusik dan juga penyanyi, Ismail seperti tak henti mencipta lagu.

Masa kreatifnya sebagai musisi terjadi di saat penjajahan Jepang, sampai agresi militer oleh Belanda akhir tahun 1940-an. Lagu ciptaannya yang populer seperti “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sapu Tangan dari Bandung Selatan”, “Indonesia Pusaka”, dan “Sepasang Mata Bola”, telah menjadi inspirasi para pejuang di garis depan. Bersama kelompoknya, Ismail kerap menghibur para pejuang di tempat-tempat persembunyian mereka.

Sampai kemudian ia meninggal di usia 44 tahun, pada tanggal 25 Mei 1958, Ismail tercatat telah menciptakan lebih dari 200 lagu. Hari-harinya, sebagaimana dicatat dalam buku-buku, lebih banyak dihabiskan untuk bermusik. Bersama serombongan pemusik, termasuk penyanyi Eulis Andjung Zuraidah yang kemudian menjadi istrinya, Ismail pernah melawat ke Singapura dan Malaya.

Di sana, ia disambut bak bintang, karena lagu-lagunya terutama yang dinyanyikan dalam film “Terang Boelan” (1938), sangat dikenal di negeri jiran itu. Suatu ketika, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Solo, kereta sempat berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Di sinilah Ismail melihat sosok-sosok pejuang memanggul bedil untuk menuju garis depan pertempuran.

Ia melihat mata-mata mereka yang tajam dan penuh semangat tempur. Dan ia ingat mata Eulis, istrinya yang ditinggalkannya di Jakarta. Kemudian lagu “Sepasang Mata Bola” diciptakan Ismail setelah bepergian ke Solo bersama sahabatnya Yusuf Ronodipuro untuk merayakan ulang tahun RRI pertama.

“Ismail Marzuki: Senandung di Ujung Revolusi” dipentaskan dengan penonton terbatas di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada Rabu dan Kamis, 29-30 Juni 2022 Pukul 20.00 WIB dan akan ditayangkan secara daring di saluran Kemendikbudristek RI, yaitu kanal Youtube “Budaya Saya” dan di saluran televisi “Indonesiana TV” pada Agustus 2022.

Baca juga: DKJ tetapkan panduan kurasi kegiatan seni di Taman Ismail Marzuki

Baca juga: DKJ siapkan Pameran Arsip dan Koleksi Seni di Taman Ismail Marzuki

Baca juga: Karena bangunan tinggi, Planetarium pindahkan sarana edukasi ke Ancol

Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->