Senin, 14 Januari 2019

Kenapa Film Horor Indonesia Laku? Padahal Ceritanya Maksa!


“Tapi kenapa kalau film ‎horor laku? Padahal ceritanya maksa loh.”

“Tapi tidak tahu kenapa dari zaman dulu orang Indonesia seneng banget film horor?

“Jadi kalau film maker Indonesia, kalau mau bikin film komersil, harus bikin film horor gitu?

“Ya gak juga. Film komedi juga bisa laku.”

Kutipan di atas merupakan dialog antara Cut Mini dan Surya Saputra dalam film “Arisan” yang di sutradarai oleh Nia Dinata  di rilis pada 2003. Film tersebut juga menjadi film terbaik festival film Indonesia (FFI) 2004.

Dialog dalam film tersebut menurut saya menarik untuk dibahas dan dikritisi, karena faktanya dalam dua tahun terakhir, film-film Indonesia bergenre horor menempati urutan teratas dengan jumlah penonton di atas 1 juta.

Berdasarkan data yang saya kutip dari situs filmindonesia.or.id, ada 7 film horor di 2018 yang mampu menarik penonton di atas 1 juta. Yakni ‎Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (3.343.661); Danur 2: Maddah (2.572.672); Asih (1.714.798); Jailangkung 2 (1.498.635); Sabrina (1.337.510‎); Kuntilanak (1.236.000), Sebelum Iblis Menjemput (1.122.187‎).

Sementara di 2017 ada 5 film horor Indonesia dengan jumlah penonton di atas 1 juta. Yakni Pengabdi Setan (4.206.103); Danur: I Can See Ghosts (2.736.157); Jailangkung (2.550.271‎); Mata Batin (1.282.557); The Doll 2 (1.226.864).

Sebelum membahas lebih jauh judul dari artikel yang saya buat ini, saya ingin memberi tahu apa arti/makna dari film horor itu sendiri. Saya kutip dari wikipedia, film horor adalah film yang berusaha untuk memancing emosi berupa ketakutan dan rasa ngeri dari penontonnya. Alur cerita mereka sering melibatkan tema-tema kematian, supranatural, atau penyakit mental. Banyak cerita film horor yang berpusat pada sebuah tokoh antagonis tertentu yang jahat.

Kembali pada judul yang saya tulis di atas. Orang Indonesia memang senang dengan hal-hal yang berbau mistis atau horor. Tidak hanya itu, orang Indonesia juga percaya dengan mitos atau cerita-cerita horor. Sebagai contoh, cerita/mitos Ratu Pantai Selatan. Dimana, apabila kita menggunakan baju hijau dan berenang di pantai pelabuhan ratu, maka akan hilang/tenggelam.

Jababeka industrial Estate

Logikanya, pantai pelabuhan ratu, Jawa Barat, terletak di Samudera Hindia. Sehingga, arus laut disana sangat kuat. Maka apabila tidak hati-hati berenang disana, ya akan tenggelam dan hilang ditelan ombak.

Dalam cerita film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Suzzanna yang diperankan oleh Luna Maya, dibunuh oleh empat karyawan suaminya Satria yang diperankan oleh Herjunot Ali. Anehnya, Suzzanna setelah dikubur hidup kembali atau menjadi arwah gentayangan.

Logika dan faktanya adalah orang yang sudah mati tidak bias hidup kembali. Kecuali orang yang mati suri. Masih banyak lagi cerita-cerita dan mitos-mitor horor yang berkembang di masyarakat yang perlu diluruskan.

Alasan lainnya mengapa film horor lndonesia laku karena menjual seksualitas. Dimana banyak adegan-adegan vulgar yang tidak sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku di Indonesia. Terutama tidak layak untuk ditonton oleh anak dibawah umur.

Saya pun sepakat dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengeluarkan aturan terkait program siaran mistik, horor, dan supranatural (MHS) di televisi pada September 2018 lalu. Program tersebut tidak semata-mata mengeksploitasi efek ketakutan para pemeran atau pengisi acara.Termasuk didalamnya larangan menampilkan adegan komunikasi dengan arwah atau dunia gaib. Juga tidak menampilkan adegan kesurupan atau kerasukan.

Saya juga sepakat media film bertujuan untuk menghibur. Namun saya menggaris bawahi bahwa film horor tidak ada segi pendidikannya. Perlu dicatat bahwa hantu/setan dan sejenisnya itu tidak perlu ditakuti, karena manusia diciptakan derajatnya paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya.

BACAAN TERKAIT