M.N. Qomaruddin mengulik sosok Kassian Chepas

  • Bagikan
Jakarta (ANTARA) – Aktor Muhammad Nur Qomaruddin yang telah lama bergabung di Teater Garasi membedah sosok Kassian Chepas yang dia perankan dalam monolog “Mata Kamera”, judul kedua seri “Di Tepi Sejarah” diproduksi oleh Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media bekerjasama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dalam monolog ini, Qomaruddin menjadi sutradara sekaligus penulis, sementara naskahnya ditulis oleh Hasta Indriyana. Seraya berseloroh, dia mengatakan semuanya dilakukan serba sendiri. Namun, monolog ini membuka matanya tentang sosok Kassian Chepas yang jarang dibahas, terutama bila membicarakan sejarah fotografi di Indonesia.

Baca juga: Mengenal Kassian Chepas, tokoh dalam “Di Tepi Sejarah” musim kedua

“Saya juga dapat cerita almarhum Gunawan Marwanto mengajukan diri menulis dan memerankan. Sejak awal menerima tawaran ini, ada satu pertanyaan, kenapa Gunawan ingin mementaskan ini,” tutur Qomaruddin di konferensi pers “Di Tepi Sejarah”, Jakarta, Senin.

Jejak-jejak Chepas yang banyak ditemui hadir lewat karya fotonya, tapi tak banyak yang mengungkapkan sudut pandang Chepas saat menjepret foto-foto tersebut.

Pandangan mengenai Chepas yang “hanya” fotografer dengan banyak hak istimewa karena dekat dengan pihak Belanda dan juga kerajaan langsung terguncang ketika dia menemukan ifnformasi bahwa sang fotografer ternyata juga seorang cendekia. Lewat monolog ini, dia mengulik tokoh yang punya pengaruh dalam perkembangan dunia fotografi negeri ini.

“Banyak yang memakai karya-karyanya untuk membahas hal lain, seperti kajian arkelologi, candi, kebudayaan Jawa. Tapi perspektif kenapa dia mengambil foto-foto itu tidak banyak dibahas.”

Baca juga: Kisah di balik naskah monolog “Kacamata Sjafruddin”

“Mata Kamera” bercerita tentang perjalanan hidup Kassian Cephas, fotografer profesional bumiputera pertama di Hindia Belanda.

Kassian Cephas lahir di Sleman tahun 1845 dan menjadi anak angkat misionaris Belanda, Christina Petronella Philips. Dalam asuhan Christina, ia mendapatkan didikan ala Eropa dan mendapatkan ilmu fotografi. Kassian Cephas dibaptis di sebuah gereja di Bagelen, Purworejo, menjadi bagian di antara sedikit masyarakat Jawa yang dibaptis.

Sekembali dari Purworejo, Kassian Cephas menjadi abdi dalem penewu, Keraton Mataram, Yogyakarta, yaitu abdi dalem yang mendapatkan tugas khusus fotografi. Pada saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono VII adalah seorang sultan yang terkenal kaya karena pemerintah Belanda banyak mendirikan pabrik gula di Yogyakarta.

Kekayaan itulah yang mendukung Kassian Cephas dapat mengakses perkembangan teknologi fotografi pada masanya. Di lingkungan keraton, Kassian Cephas membuat potret raja, keluarga kerajaan, upacara-upacara keraton, dan aktivitas masyarakat kebanyakan. Karya-karya Cephas kemudian bisa diakses masyarakat luas, termasuk dikenalkan ke dunia luar melalui buku-buku karangan Isaac Groneman.

Baca juga: Takut tapi penasaran, Dira Sugandi coba monolog

Baca juga: Melihat perjuangan bangsa Indonesia dari sosok di tepi sejarah

Baca juga: Monolog “Di Tepi Sejarah” jadi ruang berdiskusi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->