Jumat, 26 Februari 2021

Review : Kegeniusan Lupin dalam Mencuri


Kisah kriminal berupa aksi pencurian mungkin sudah banyak ditampilkan dalam beragam gambar bergerak, mulai dari film hingga serial. Namun serial Lupin memberikan sentuhan segar tanpa harus menghilangkan rasa akrab atas kisah yang membuat penontonnya penasaran.

Lupin mengisahkan perjalanan putra imigran Senegal ke Prancis bernama Assane Diop (Omar Sy), dalam upaya mencari kebenaran atas kasus ayahnya, Babakar Diop, yang terseret kasus pencurian kalung berlian bersejarah. Dalam mencari kebenaran sekaligus membalaskan dendam, Assane menggunakan berbagai trik dan kebiasaan dari karakter fiksi Arsene Lupin yang telah Assane kunyah sejak masih belia.

Sebelum Babakar meninggal bunuh diri karena malu dan dijebak dalam kasus pencurian, ia memberikan sebuah buku kepada Assane berupa kumpulan cerita Arsene Lupin karangan Maurice Lablanc. Nyatanya, buku itu menjadi satu-satunya legasi Babakar yang tersisa kepada sang anak.

Hingga 25 tahun kemudian, Assane kembali dengan semangat balas dendam dan berbagai trik Lupin yang telah khatam tertanam dalam benaknya. Semula rencana Assane terlihat menjanjikan. Namun satu per satu berbagai aksinya justru memperpanjang jalan dirinya mencapai tujuan sekaligus menyeret lebih banyak orang.

Kisah Arsene Lupin merupakan legenda dalam literasi juga sinematika Prancis.

Karakter Lupin ciptaan Maurice Leblanc pada 1905 itu mungkin selegenda Sherlock Holmes

Namun sayangnya, kegeniusan Lupin dalam menjalankan aksi sebagai pencuri elegan tak banyak dirasakan secara luas oleh masyarakat internasional, mengingat kisah ini lebih banyak dibawakan dalam karya sinematika Prancis. Padahal, berbagai aksi yang pernah dilakukan Lupin dalam 17 novel dan 39 novela karangan Leblanc sejatinya sudah akrab bagi masyarakat internasional.

dsc08251.arw

Banyak film Hollywood pernah mengangkat karakter pencuri elegan serupa Lupin, sebut saja Danny Ocean yang diperankan George Clooney dalam trilogi Ocean’s: Eleven (2001), Twelve (2004), dan Thirteen (2007). Atau, aksi berbagai trik memukau dalam saga Now You See Me pada 2013 dan sekuelnya pada 2016.

Kini, dengan campur tangan perkembangan sinematika digital melalui layanan streaming, kisah kegeniusan Arsene Lupin bisa dibawakan dalam latar serta narasi kontemporer dan dirasakan penonton lintas batas negara juga budaya melalui serial Lupin di Netflix.

Faktor itulah yang membuat serial Lupin terasa baru dan segar tanpa harus memaksa penonton internasional banyak beradaptasi. Hal ini membuat pemirsa lebih mudah memahami bahkan hanyut dalam cerita serta petualangan Assane.

Keputusan kreator George Kay dan Francois Uzan untuk menerapkan cerita Arsene Lupin dalam kehidupan karakter Assane Diop merupakan pilihan tepat, alih-alih menampilkan kembali kisah klasik Lupin lengkap dengan latar Prancis awal abad-20.Kecanggihan teknologi serta gejolak sosial-budaya yang terjadi pada abad 21 kini justru menjadi pembeda dan memberi nilai tambah pada serial ini.

Kay dan Uzan dengan cerdas menyelipkan masalah-masalah sosial yang dihadapi Prancis juga dunia, seperti rasialisme, stigma, kemiskinan, hingga permainan politik dan kejahatan tingkat atas.

CIMB NIAGA

Ambil contoh masalah rasialisme. Serial Lupin dengan halus namun terasa jelas menyisipkan gambaran diskriminasi berdasarkan ras yang masih tertanam dalam tatanan sosial masyarakat saat ini.

Hal itu terlihat pada penempatan karakter di serial ini, seperti orang kulit hitam kebanyakan bekerja sebagai pesuruh, atau orang Latin digambarkan sebagai penjahat. Atau, orang kulit putih sebagai sosok pahlawan seperti polisi atau pun kaum ningrat.

Akan tetapi seiring cerita berjalan, Kay dan Uzan justru kemudian memutar kasta awal tersebut dengan menempatkan karakter ‘kelas bawah’ dalam sisi protagonis, sedangkan karakter ‘kelas atas’ sebagai antagonis.

Serial Lupin menggambarkan betapa tamak dan bodoh kelompok ningrat juga polisi, serta betapa cerdas dan tulus masyarakat ‘kelas bawah’ dalam menjalani kehidupan yang kadang terasa begitu berat.

Namun segala masalah sosial itu tidak dibawakan dengan cara yang membosankan dan ruwet, seperti kebanyakan gaya sinema Prancis yang beralur panjang dan lambat sebelum mencapai inti cerita.

Serial ini masih fokus pada drama balas dendam Assane yang berbalut berbagai trik yang tak disangka oleh penonton. Belum lagi sejumlah komedi diselipkan dalam cerita dengan pemenggalan episode tepat setelah cliffhanger muncul.

Dengan durasi tiap episode sekitar 45 menitan dan cara penuturan seperti itu dalam serial yang hanya berisi lima episode, jelas menyaksikan Lupin secara maraton adalah pilihan yang sulit ditolak.

Meski begitu, sejumlah catatan perlu diperhatikan soal serial ini. Mengingat gaya sineas Prancis yang begitu “apa adanya” dalam menampilkan karya sinematik, sejumlah adegan terutama soal bunuh diri mungkin memiliki dampak pada sebagian penonton dan diperlukan kebijaksanaan dalam menonton serial ini.

Netflix sendiri hanya memberikan label “16+” dan “suicide” untuk serial ini. Namun ada baiknya layanan streaming itu menampilkan lebih jelas peringatan yang bisa mempengaruhi kondisi psikis sebagian penonton tersebut di awal tayangan sebagai tanda kepedulian.

Pada akhirnya, bagi mereka yang menyukai petualangan dan trik mengelabui lawan dalam gambar bergerak, serial Lupin patut jadi rekomendasi. Apalagi, musim pertama ini ditutup dengan hal yang membuat penonton tak sabar menanti musim berikutnya.

BACAAN TERKAIT